Pesan Waisak 2570/2026 STI: Terapkan Jalan Tengah di Era Digital
Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Dalam pesan Waisak 2570 EB (TB) / 2026, Saṅgha Theravāda Indonesia (STI) menyerukan keseimbangan batin dan kontribusi nyata bagi negeri.

Ketua Umum (Saṅghanāyaka) Saṅgha Theravāda Indonesia, Y.M. Sri Subhapañño Mahāthera menyampaikan Pesan Trisuci Waisak 2570 Era Buddhis (Tahun Buddhis) yang jatuh pada tanggal 31 Mei 2026.
Melalui pesan resminya yang diunggah di kanal resmi YouTube Medkom Sangha Theravada Indonesia (@medkomsti) pada Senin (25/5/2026), Y.M. Sri Subhapañño Mahāthera menekankan pentingnya bagi segenap umat Buddha untuk tidak hanya mengejar pemurnian batin secara personal, melainkan juga mentransformasikannya menjadi aksi kepedulian sosial yang nyata bagi bangsa dan negara
Tahun ini, Sangha Theravada Indonesia mengusung tema besar Waisak, yaitu: “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri”. Tema ini menjadi refleksi mendalam, sekaligus menandai tahun kancana atau setengah abad (50 tahun) berdirinya Sangha Theravada Indonesia di Indonesia.
Mengawali pesannya, Bhante Sri Subhapañño mengingatkan kembali esensi dari perayaan Waisak, yang memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gautama pada saat bulan purnama sidhi.
“Tiga peristiwa ini bukan sekadar sejarah melainkan menjadi sumber inspirasi dan teladan bagi perjalanan batin manusia sepanjang masa,” ujarnya.
Selain menjadi refleksi dan penanda tahun kencana STI, tema besar Waisak yang menekankan Jalan Mulia Berunsur Delapan ini, juga menjadi himbauan bagi umat Buddha untuk menyeimbangkan kebijaksanaan batin dengan kepedulian sosial.
Secara khusus, beliau menyoroti relevansi ajaran Ucapan Benar (Sammā Vācā) di tengah derasnya era digital. Mengutip Vācā Sutta dari Aṅguttaranikāya, sebuah ucapan yang baik (Subhāsitā Vācā) harus memenuhi lima kriteria: disampaikan pada waktu yang tepat, berdasarkan kebenaran, diucapkan dengan lembut, membawa manfaat, dan dilandasi cinta kasih.
“Prinsip ini menjadi benteng spiritual di tengah maraknya berita bohong (hoaks), ujaran kebencian, dan polarisasi sosial. Umat Buddha memikul peran strategis dalam menjaga harmoni bangsa melalui tutur kata yang menyejukkan,” tegasnya.
Pesan Waisak 2570 EB ini juga menggarisbawahi pentingnya Religiositas Sosial. Mengacu pada Dāna Sutta, praktik kedermawanan atau memberi bukan sekadar menanam benih karma baik materi, melainkan wujud pengikisan ego diri demi kepentingan sosial yang lebih luas.
Selain itu, prinsip ahiṃsā (Tanpa Kekerasan) yang berakar pada Karuna (belas kasih) menjadi hal vital dalam kehidupan berbangsa. Merujuk pada Dhammapada syair 129, karena setiap makhluk takut akan kekerasan dan mendambakan kebahagiaan, empati sosial harus terus ditumbuhkan.
Bhante Subhapañño secara tegas mengingatkan tanggung jawab sosial umat Buddha yang tertuang dalam Sigālovāda Sutta. Beliau menyatakan bahwa keharmonisan sosial terwujud dari pemenuhan kewajiban timbal balik yang etis di masyarakat.
“Sebagai umat Buddha, kita tidak seyogianya hidup dalam keterasingan dari realitas sosial. Praktik kebajikan apa pun hampir sepenuhnya melibatkan pihak lain, maka sudah sepatutnya kita terlibat langsung dan memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa,” terangnya,
Menutup pesannya, Bhante Subhapañño mengutip Sedaka Sutta dari Saṁyutta Nikāya 47.19: “Bila seseorang mampu menjaga dan melindungi dirinya, maka berarti ia juga memberikan perlindungan terhadap pihak lain.”
Momentum Waisak 2570 Tahun Buddhis ini menjadi pengingat bagi seluruh umat Buddha di Indonesia untuk mentransformasikan keyakinan (saddha) menjadi sumbangsih nyata demi harmoni, kerukunan, dan kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Informasi selengkapnya dapat disaksikan melalui kanal resmi Medkom Sangha Theravada Indonesia Official
