IndonesiaSeremonial

STI Sukses Gelar Indonesia Tipiṭaka Chanting dan Āsālha Mahāpūja 2569

Bhagavant.com,
Jawa Tengah, Indonesia – Sangha Theravada Indonesia sukses menggelar Indonesia Tipiṭaka Chanting (ITC) dan Āsālha Mahāpūja 2569/2025, di Candi Borobudur.

STI Sukses Gelar Indonesia Tipiṭaka Chanting dan Āsālha Mahāpūja 2569
Foto: Tangkapan layar channel Medkom Sangha Theravada Indonesia Official

Sebanyak lebih sekitar 2.000 umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara, seperti Thailand dan Myanmar, turut serta dalam puncak acara Indonesia Tipiṭaka Chanting (ITC) dan Āsālha Mahāpūja 2569 tahun 2025. Kegiatan yang berlangsung pada 4 hingga 6 Juli 2025 ini diadakan di Taman Lumbini, kawasan Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, dan diikuti dengan khidmat oleh ribuan peserta yang menjalani serangkaian ritual keagamaan.

Rangkaian acara ITC 2025 dibuka dengan seremoni pembukaan pada Jumat (4/7/2025), kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kitab suci Tipiṭaka secara massal. Selain itu, juga diadakan pendalaman dhamma selama tiga hari. Acara ditutup dengan prosesi Puja Journey dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur sebagai lambang kesinambungan spiritual dan budaya.

ITC dan Āsālha Mahāpūja 2569/2025 diselenggarakan oleh STI bersama dengan ASTINDA, MAGABUDHI, WANIDANI, dan PATRIA serta didukung oleh Kementerian Agama RI. Tahun ini TC dan Āsālha Mahāpūja 2569/2025 mengusung tema “Kebijaksanaan Dasar dari Kemuliaan Bangsa.” Acara ini dihadiri oleh umat Buddha dari berbagai negara seperti Kamboja, Thailand, Sri Lanka, Myanmar, Singapura, Malaysia, Australia, Amerika Serikat, dan Inggris.

Y.M. Sri Pannavaro Mahathera, Sangha Pamoka Sangha Theravāda Indonesia, dalam penutupan kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa realisasi tema ini dimulai dari para pemimpin dan komunitasnya, demi mewujudkan perdamaian dan keharmonisan. Beliau menekankan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan banyak pihak, terutama di tengah dunia yang penuh kebisingan, keretakan moral, dan kerusakan lingkungan.

Sementara itu, Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, mengajak umat Buddha untuk tidak hanya memperingati Āsālha Mahāpūja secara seremonial, tetapi menjadikannya sebagai momen refleksi dan pembaruan spiritual.

Menurutnya, ajaran Buddha yang terangkum dalam Kitab Tipiṭaka—termasuk Sutta Piṭaka, Vinaya Piṭaka, dan Abhidhamma Piṭaka—mengandung kebijaksanaan universal yang sangat relevan dalam menghadapi tantangan era pascamodern, termasuk perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.

“Jika kita tidak memiliki landasan yang kuat, kita bisa terbawa arus tanpa arah. Oleh karena itu, ajaran Theravāda sangat penting untuk kita jalankan,” ujarnya.

Dalam Dhammadesana-nya. Y.M. Sri Pannavaro Mahathera memberikan nasihat agar umat Buddha berhati-hati untuk memiliki keinginan termasuk keinginan yang baik.

“Hati-hati, Ibu, Bapak, dan Saudara. Keinginan baik kalau menjadi napsu, maka keinginan itu bisa disusupi, keserakahan, kebencian, keakuan,” jelas beliau.

“Keinginan baik yang menjadi napsu loba (keserakahan), dvesa (kebencian), moha (keakuan) akan menyelinap di situ. Sehingga keinginan yang baik itu juga sumber penderitaan, kalau menjadi napsu.”

“Lalu bagaimana bhante baiknya? Keinginan yang baik sekalipun harus terukur. Kalau keinginan tidak terukur menjadi napsu. Masuk keserakahan, muncul kebencian dan kalau berhasil, muncul keakuan. Harus terukur. Keinginan baik harus terukur,” jelas Bhante Pannavaro.

Kegiatan Indonesia Tipiṭaka Chanting dan Āsālha Mahāpūja 2569 diakhiri dengan penampilan paduan suara dan foto bersama.[Bhagavant, 12/7/25, Sum]

Rekomendasikan: