Berikut Inti Sari Pesan Waisak 2569 EB Sangha Theravada Indonesia
Bhagavant,com,
Jakarta, Indonesia – Dalam peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2569 Era Buddhis / 2025, Saṅgha Theravāda Indonesia (STI) memberikan pesan Waisak yang menyoroti keluhuran bangsa.

Ketua Umum Saṅgha Theravāda Indonesia, Y.M. Sri Subhapañño Mahāthera, menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya kebijaksanaan (paññā) sebagai dasar keluhuran bangsa.
Dalam peringatan Hari Waisak yang tahun ini yang jatuh pada hari Senin, 12 Mei 2025, Saṅgha Theravāda Indonesia mengangkat tema Waisak: Kebijaksanaan Dasar Keluhuran Bangsa.
Dalam video YouTube di kanal resmi Medkom Sangha Theravada Indonesia Official, yang diunggah pada Minggu (11/5/2025), beliau menegaskan bahwa kebijaksanaan (paññā) merupakan salah satu pilar utama dalam ajaran Buddha. Kebijaksanaan dapat dikembangkan melalui pembelajaran, perenungan, dan praktik sehari-hari, yang pada akhirnya menciptakan pandangan bijak serta tingkah laku yang kondusif dalam kehidupan bermasyarakat.
“Peradaban sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi atau teknologi, tetapi juga dari moral dan spiritual masyarakatnya,” ujar Y.M. Sri Subhapañño Mahāthera. Ia menegaskan bahwa Indonesia, sebagai negara religius yang kaya akan falsafah hidup, memiliki potensi besar untuk mewujudkan keluhuran bangsa melalui implementasi nilai-nilai luhur dari berbagai agama, termasuk ajaran Buddha. Nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, kedamaian, dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi kunci untuk menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman.
Lebih lanjut, Y.M. Sri Subhapañño Mahāthera menyampaikan bahwa kebijaksanaan harus berjalan seiring dengan moralitas (sīla) dan konsentrasi (samādhi). Kebijaksanaan memungkinkan seseorang membedakan yang benar dan salah, yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, sehingga menjadi landasan kokoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengutip Cakkavatti Sihanada Sutta, beliau menggambarkan bangsa yang ideal adalah bangsa yang dipimpin dengan kebijaksanaan, di mana pemimpin mampu mengatasi masalah secara adil dan bijak demi kesejahteraan rakyat.
Peringatan Trisuci Waisak ini menjadi momentum bagi umat Buddha untuk merefleksikan dan mengamalkan ajaran Dhamma. Y.M. Sri Subhapañño Mahāthera mengajak umat Buddha untuk meneladani kebijaksanaan Sang Buddha, yang diibaratkan seperti batu karang yang kokoh, tidak tergoyahkan oleh celaan maupun pujian. “Marilah kita jadikan Waisak sebagai kesempatan untuk mengembangkan kebijaksanaan, tidak hanya untuk manfaat pribadi, tetapi juga untuk kemajuan bangsa,” ajaknya.[Bhagavant, 12/5/25, Sum]
