Tiongkok » Travel

Menyambut Tahun Baru Imlek di Gunung Suci Putuo

Jumat, 27 Januari 2017

Bhagavant.com,
Zhejiang, Tiongkok – Tahun Baru Imlek yang merupakan perayaan pergantian tahun dari penanggalan Tionghoa dirayakan oleh masyarakat etnis Tionghoa dan keturunannya di seluruh dunia termasuk etnis Tionghoa yang memeluk Agama Buddha.

Vihara Puji di Gunung Putuo, Zhejiang, Tiongkok
Vihara Puji di Gunung Putuo, Zhejiang, Tiongkok. Foto: wikipedia.org

Salah satu tradisi yang dilakukan umat Buddha menjelang dan saat Tahun Baru Imlek adalah mengunjungi vihara khususnya pada malam pergantian tahun untuk melakukan puja bakti dengan berharap mendapatkan kemakmuran, kebahagiaan dan kesuksesan di tahun yang baru.

Salah satu tempat yang menjadi tujuan favorit para umat di Tiongkok untuk melakukan puja bakti adalah Gunung Putuo (Putuo Shan) di Provinsi Zhejiang, sebuah pulau di tenggara Kota Shanghai.

Gunung Putuo dipercaya oleh umat Buddha tradisi Mahayana Tiongkok sebagai gunung suci tempat pencapaian pencerahan (Skt: bodhimanda) Bodhisattva Avalokitesvara (Guanyin Pu Sa, Kwan Im Pho Sat), Bodhisattva Belas Kasih yang juga dipuja oleh umat non-Buddhis.

Dari Shanghai menuju Gunung Putuo, dibutuhkan waktu sekitar empat sampai lima jam dengan bus dan kemudian naik perahu 20 menit untuk mencapainya. Di masa lalu, bepergian ke Gunung Putuo tidaklah nyaman. Butuh sehari penuh bagi wisatawan untuk sampai ke tujuan.

Tapi sejak tahun 2008, Pemerintah Tiongkok telah menyelesaikan pembangunan Jembatan Teluk Hangzhou, yang secara signifikan memperpendek jarak perjalanan jalan raya dari Shanghai ke Ningbo (sebuah kota sub-provinsi di timur laut Zhejiang) – dari 400 km menjadi 280 km, dan mengurangi waktu perjalanan dari 4 jam menjadi 2,5 jam. Dengan total panjang 36 km, Jembatan Teluk Hangzhou diakui sebagai salah satu jembatan lintas laut terpanjang di dunia.

Meskipun Gunung Putuo merupakan sebuah pulau kecil dengan luas hanya 7 km², namun di sana terdapat lebih dari 900 rumah ibadah termasuk vihara dan bio. Tapi selama era Mao Zedong, sejumlah besar rumah ibadah di pulau itu telah dihancukan. Meski begitu, saat ini Gunung Putuo masih terdapat banyak vihara dan bio yang dipenuhi oleh para penduduk lokal dan turis, terutama selama Tahun Baru Imlek. Tiga vihara terbesar di Gunung Putuo adalah Vihara Puji, Vihara Fayu, dan Vihara Huiji.

Rupaka Guanyin di Hutan Bambu Ungu berukuran 33 meter di Gunung Putuo, Zhejiang, Tiongkok.
Rupaka Guanyin di Hutan Bambu Ungu berukuran 33 meter di Gunung Putuo, Zhejiang, Tiongkok.

Di masa lampau, para penduduk setempat di pulau itu, khususnya kaum perempuan dan orang tua, telah memberi penghormatan kepada Bodhisattva Guanyin dan berharap bahwa Ia akan membantu menyelamatkan para pria anggota keluarga mereka dari perang dan perjalanan jarak jauh. Menurut kepercayaan Tionghoa ada lima postur utama rupaka Bodhisattva Guanyin yang mewakili lima simbol.

Postur pertama, Guanyin di Hutan Bambu Ungu, menampilkan Bodhisattva sedang berdiri di singgasana bunga lotus, memegang Roda Dharma di tangan kiri-Nya, dan mudra abhaya (ketidakgentaran). Postur ini menyimbolkan ketidakgentaran dalam mempraktikan Dharma (Kebenaran). Kedua, postur meditasi yang menampilkan Bodhisattva yang duduk di bunga lotus yang menyimbolkan pikiran yang tercerahkan dan ketenangan.

Postur ketiga, rupaka Guanyin berlengan seribu yang menyimbolkan sikap yang selalu siap menolong para makhluk. Postur keempat adalah postur memberikan berkah yang menyimbolkan pemenuhan kebahagiaan dalam hidup. Postur terakhir adalah postur bangsawan (raja), yang menyimbolkan kekuatan dan keberanian.

Rupaka Bodhisattva Guanyin dengan postur-postur tersebut tersebar di antara vihara-vihara maupun bio di seluruh pulau tersebut.

Nama Putuo berasal dari nama gunung bernama Gunung Potalaka yang ada dalam kepustakaan Buddhis, Avatamsaka Sutra. Keberadaan Gunung Potalaka sendiri masih misterius. Seorang akademisi Jepang, Shu Hikosaka menduga letak gunung itu ada di India Selatan dengan nama Gunung Pothigai.[Bhagavant, 27/1/17, Sum]

Kata kunci:
Penulis: