KTT Buddhis Global Kedua Digelar di New Delhi
Bhagavant.com,
New Delhi, India – KTT Buddhis Global Ke-2 (The Second Global Buddhist Summit) resmi dibuka pada Sabtu di Bharat Mandapam, New Delhi, Sabtu (24/1/2026).

Konferensi yang digelar pada 24–25 Januari mempertemukan para pemimpin Buddhis, pembuat kebijakan, dan akademisi dari berbagai negara dengan mengusung tema “Kebijaksanaan Kolektif, Suara yang Bersatu, dan Hidup Berdampingan secara Harmonis”.
KTT tersebut diselenggarakan oleh Konfederasi Buddhis Internasional (International Buddhist Confederation/IBC) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan India.
Tidak sekadar meninjau sejarah, forum ini membahas berbagai tantangan global kontemporer melalui perspektif ajaran Buddha Dhamma.
Menanggapi kekhawatiran atas meningkatnya fragmentasi global, sesi pembukaan mengangkat topik “Kebijaksanaan Kolektif dan Suara Bersatu untuk Harmoni Sosial”. Diskusi kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua bertajuk “Kewirausahaan dan Mata Pencaharian Benar dalam Buddha Dhamma”.
Dalam sesi pembukaan tersebut, mantan Menteri Luar Negeri Thailand, Maris Sangiampongsa, menyoroti peran Thailand sebagai jembatan penghubung antara Asia Selatan dan Asia Tenggara, bersama Jepang dan Korea Selatan. Ia menegaskan bahwa Buddhisme menjadi ikatan peradaban yang kuat di antara negara-negara tersebut.
Sementara itu, meskipun Kristen Ortodoks merupakan agama dengan penganut terbesar di Rusia, negara tersebut juga memiliki tiga republik Buddhis, yakni Buryatia, Tuva, dan Kalmykia. Wakil Kepala Pemerintahan Republik Kalmykia, Dzgambinov Ochir Vladimirovich, mengenang masa Uni Soviet ketika kebijakan ateisme negara sangat membatasi praktik keagamaan. Ia menyebut runtuhnya Uni Soviet meninggalkan wilayah itu dengan hampir tidak ada vihara yang berfungsi dan jumlah bhikkhu yang sangat terbatas.
“Namun, kami berhasil mempertahankan keyakinan kami,” ujarnya seperti yang dilansir The Week, Sabtu (24/1/2026). Ia menambahkan bahwa saat ini vihara-vihara baru tengah dibangun dan pemerintah Rusia telah mengakui Buddhisme sebagai salah satu agama tradisional negara tersebut.
Dari India, Wakil Ketua Menteri Arunachal Pradesh, Chowmna Mein, menjelaskan bahwa aliran Mahayana dan Theravada sama-sama dipraktikkan di negaranya. Menurutnya, tidak ada persaingan di antara kedua tradisi tersebut, melainkan hubungan yang dilandasi saling menghormati dan hidup berdampingan dalam praktik keseharian masyarakat.
Sementara itu, Wakil Menteri Urusan Agama dan Kebudayaan Myanmar, Daw Nu Mra Zan, menekankan pentingnya bahasa Pali yang hingga kini masih dipelajari secara luas di Myanmar sebagai fondasi ajaran Buddhis.
Diskusi kemudian mengarah pada isu kewirausahaan, dengan munculnya pertanyaan krusial: apakah umat Buddha diperbolehkan mengumpulkan kekayaan?
Pada hari kedua sekaligus penutupan, KTT ini akan menyoroti sejumlah isu kontemporer lainnya, antara lain penelitian ilmiah, layanan kesehatan, pengobatan dan keberlanjutan hidup, pendidikan dalam terang Buddha Dhamma, serta dinamika Sangha yang mencakup peran, ritual, dan praktik keagamaan.[Bhagavant, 25/1/26, Sum]
