Jepang

Buddhis Jepang Rayakan Hana Matsuri 2023

Bhagavant.com,
Tokyo, Jepang – Umat Buddhis di Jepang dan diasporanya di luar negeri, merayakan festival bunga Hana Matsuri, hari memperingati kelahiran Sri Buddha.

Buddhis Jepang Rayakan Hana Matsuri 2023
Foto: YouTube Kosen Ishikawa

Setiap tahun pada tanggal 8 April, Hana Matsuri (atau Kanbutsue) dirayakan di sebagian besar vihara di Jepang. Festival Hana Matsuri ini adalah festival untuk merayakan kelahiran Sri Buddha.

Hana Matsuri adalah acara keagamaan yang dirayakan di banyak tempat pada hari ini, terutama di Jepang. Perayaan hari kelahiran Buddha Shakyamuni secara tradisional berlangsung pada hari ke-8 bulan keempat kalender lunar. Festival ini sangat penting bagi umat Buddhis di Jepang.

Konversi tanggal

Perayaan hari kelahiran Sri Buddha berdasarkan penanggalan lunar adalah pada hari kedelapan, bulan keempat. Di Jepang, tanggal 8 April diadopsi untuk perayaan Hana Matsuri selama Era Meiji setelah negara tersebut mulai mengikuti kalender Gregorian. Nama Hana Matsuri berarti ‘Festival Bunga’. Seperti yang telah disebutkan di atas, perayaan Hana Matsuri secara umum juga dikenal dengan sebutan Kanbutsue.

Meskipun perayaan festival ini bukan merupakan hari libur berdasarkan peraturan di Jepang, namun tanggal ini adalah hari libur dan bahkan menjadi saksi perayaan nasional di banyak negara mayoritas Buddhis seperti Korea Selatan atau Taiwan, di mana acara tersebut dirayakan dengan kemegahan dan keagungan.

Perayaan di Jepang

Di Jepang, Hana Matsuri dirayakan di sebagian besar vihara. Tradisi ini didatangkan dari Tiongkok pada abad ke-7 oleh Pengadilan Kekaisaran, dan dengan cepat menyebar ke masyarakat Jepang.

Sebuah altar pergola kecil, bernama hana-mido ditempatkan di depan salah satu aula penting vihara dan menaungi rupaka Bayi Pangeran Siddhartha yang berdiri di mangkuk besar yang dangkal dan ditutupi serta dikelilingi oleh bunga.

Rupaka itu melambangkan Bayi Pangeran Siddhartha sebagai calon Buddha saat Beliau lahir dalam bentuk miniatur orang dewasa. Rupaka itu menunjukkan Beliau berdiri dengan tangan kiri menunjuk ke tanah dan tangan kanan menunjuk ke arah langit melambangkan pernyataan kebenaran tentang ketiadabandingannya di langit dan Bumi.

Mangkuk diisi dengan ama-cha (teh manis) yang dituangkan para umat ke kepala rupaka dengan sendok dan tindakan ini melambangkan mandi pertama Pangeran Siddhartha.

Setelah menggunakan cairan tersebut untuk memercikkan rupaka, umat juga bisa meminumnya, atau membawanya pulang dalam botol kecil yang dipersembahkan oleh vihara. Dikatakan bahwa ama-cha memiliki sifat insektisida dan anti-alergi dan membantu meningkatkan keterampilan kaligrafi seseorang saat menggunakannya untuk menyiapkan tinta.

Sesuai yang tertulis dalam teks-teks Buddhis, Pangeran Siddhartha lahir di taman saat bunga-bunga bermekaran, dan itulah mengapa bunga digunakan untuk menghormatiNya.

Selain itu ibu Beliau, Ratu Maya memimpikan seekor gajah putih pada saat hendak mengandungNya, dan itulah sebabnya hewan ini sering direpresentasikan di vihara-vihara untuk perayaan Hana Matsuri (Kanbutsue).[Bhagavant, 12/4/23, Sum]

Rekomendasikan:

Kategori: Jepang
Kata kunci: ,
Penulis:
REKOMENDASIKAN BERITA INI: