Seremonial

Bagaimana Sejarah Hari Buddhis Internasional?

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Mungkin banyak umat Buddha yang belum mengetahui apa itu Hari Buddhis Internasional atau International Buddhist Day dan bagaimana sejarahnya.

Bagaimana Sejarah Hari Buddhis Internasional?
Foto: buddhist-summit.com

Sudah delapan tahun sejak ditetapkannya pada tahun 2014, setiap tanggal 8 April sebagian umat Buddha merayakan Hari Buddhis Internasional. Dikatakan sebagian umat Buddha karena memang mungkin banyak umat Buddha yang belum tahu dan mengenal hari peringatan ini.

Lalu apa itu Hari Buddhis Internasional? Apa latar belakang sejarah terbentuknya Hari Buddhis Internasional? Dan apa yang dirayakan dalam peringatan hari itu? Berikut sejarah singkatnya.

Latar Belakang Tradisi

Agama Buddha sekarang adalah salah satu agama dunia yang memiliki jutaan pengikut di seluruh dunia. Dan dalam sejarah perkembangannya, Agama Buddha yang berdasarkan pada ajaran Buddha Gautama tidak luput dari perbedaan penafsiran, sehingga muncul beberapa tradisi (aliran). Tiga tradisi besar utama yang masih bertahan sampai sekarang adalah Theravada, Mahayana, dan Vajrayana.

Salah satu penafsiran yang berbeda dalam Agama Buddha adalah mengenai hari kelahiran Bodhisattva Siddhartha Gautama – yang kemudian menjadi Buddha Gautama (Buddha Sakyamuni).

Bagi umat Buddhis tradisi Mahayana khususnya yang menggunakan kalender lunar, Bodhisattva Siddhartha Gautama dilahirkan pada hari kedelapan dari bulan keempat (sekitar bulan Mei). Hingga sekarang belum jelas mengapa hari kedelapan alih-alih hari kelima belas saat Bulan Purnama sebagai hari kelahiran Bodhisattva. Dan hari tersebut hanya merupakan hari kelahiran, tidak termasuk hari pencerahan, dan parinirvana karena dipercaya jatuh pada hari yang berbeda.

Adanya pengaruh dan adaptasi penanggalan Gregorian (Masehi) yang banyak digunakan di dunia barat, sejumlah negara (khususnya Jepang) mengonversi penanggalan lunar menjadi penanggalan Gregorian. Tujuan pengalihan hari ini adalah untuk memudahkan merencanakan dan mengatur acara. Sehingga, ditetapkannyalah tanggal 8 April sebagai hari kelahiran Bodhisattva Siddhartha Gautama.

Tentu saja penanggalan tersebut menjadi suatu perbedaan dengan tradisi lain, dan tetap menjadi sesuatu yang mengganjal khususnya untuk persatuan umat Buddha di dunia, meskipun sebuah kompromi pertama telah dilakukan dalam forum Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists – WFB) tahun 1950 mengenai penetapan Hari Vesak.

KTT Buddhis, Konferensi Agung Buddhis Sedunia

Pada 4-8 April 1998, sebuah pertemuan tiga tradisi besar utama diselenggarakan oleh Maha Bodhi Society of India di Kyoto International Conference Center, Jepang, dengan tujuan utama untuk berkompromi dan bergandengan tangan dengan kembali ke ajaran asli Sri Buddha serta mengatasi hambatan di antara negara dan denominasi (kelompok keagamaan).

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Y.M. Somdet Phra Nyanasamvara, Sangharaja Thailand; Y.M. Dr. Mapalagama Wipulasara, Presiden Maha Bodhi Society of India; Y.M. Tenzin Gyatzo, Dalai Lama ke-14; Pandita Kyuse Enshinjoh, Pendiri Komunitas Pandita Tinggi Nenbutsushu; dan delegasi dari 13 negara dan 1 wilayah. Konferensi ini kemudian disebut sebagai Konferensi Tingkat Tinggi Buddhis, Konferensi Agung Buddhis Sedunia Ke-1 (First Buddhist Summit, World Buddhist Supreme Conference – WBSC).

Dalam perjalanannya, pada KTT Buddhis WBSC Ke-6 yang diselenggarakan pada 8-13 Desember 2014 di Royal Grand Hall of Buddhism, vihara utama tradisi Nenbutsushu, di Hyogo, Jepang, dan dihadiri oleh delegasi dari 41 negara dari 5 benua, dengan suara bulat memutuskan untuk menetapkan tanggal 8 April sebagai Hari Buddhis Internasional (International Buddhist Day). Keputusan tersebut tertuang dalam Komunike Bersama Konferensi Tingkat Tinggi Buddhis, Konferensi Agung Buddhis Sedunia Keenam (Joint Communiqué The Sixth Buddhist Summit World Buddhist Supreme Conference) 11 Desember 2014.

Dan dalam KTT Buddhis WBSC Ke-7 pada 2-7 November 2017 di Colombo, Sri Lanka, para para pemimpin Buddhis dari 47 negara di dunia dengan suara bulat memutuskan untuk mempromosikan Hari Buddhis Internasional sebagai hari raya umum bagi semua umat Buddha di dunia, untuk perdamaian dunia dan kebahagiaan umat manusia.

Kompromi

Ada beberapa faktor dari diambilnya keputusan untuk menetapkan 8 April sebagai Hari Buddhis Internasional (International Buddhist Day).

Pertama, seperti yang disampaikan di awal, 8 April secara tradisional diperingati sebagai hari kelahiran Bodhisattva Siddhartha Gautama oleh umat Buddha tradisi Mahayana, termasuk Tiongkok, Jepang, Korea, dan Vietnam. Oleh karena itu, 8 April memiliki makna agama dan budaya yang signifikan bagi umat Buddha yang jumlahnya tidak sedikit tersebut.

Kedua, KTT berharap penetapan Hari Buddhis Internasional yang diakui secara global akan memberikan kesempatan bagi umat Buddha di seluruh dunia untuk berkumpul bersama dan merayakan keyakinan dan nilai-nilai mereka yang sama.

Dari sini dapat dikatakan bahwa penentuan tanggal 8 April sebagai Hari Buddhis Internasional merupakan bentuk upaya kompromi dalam mengakomodasi tradisi Buddhis terkait hari kelahiran Bodhisattva Siddhartha Gautama yang diyakini oleh sebagian umat Buddha, tanpa menafikan atau menolak kesepakatan bersama mengenai Hari Vesak (Waisak) yang telah ditetapkan oleh Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists – WFB) tahun 1950.

Dengan demikian, Hari Buddhis Internasional adalah hari raya bagi umat Buddha di seluruh dunia untuk memperingati masa adven Buddha (kedatangan Buddha), dan hari persatuan umat Buddha di seluruh dunia untuk perdamaian dunia dan kebahagiaan umat manusia.

Ritual

Dengan latar belakang tradisi keagamaan, perayaan Hari Buddhis Internasional tidak lepas dengan ritual keagamaan, khususnya yang terkait dengan peringatan hari kelahiran Bodhisattva Siddhartha Gautama.

Selain puja bakti di vihara dan seremonial yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Buddhis Internasional, juga diadakannya ritual memandikan rupaka Bayi Pangeran Siddhartha (Mandarin: yifo – 浴佛; Jepang: kanbutsu-e – 灌仏会) dan ritual abhiseka (Mandarin: guàndǐng – 灌顶; Jepang: kanjō – 勧請), sebuah proses pengurapan air suci ke kepala.

Terlepas dari ritual yang ada sebagai simbol penghormatan dan penerimaan ajaran Buddha, Hari Buddhis Internasional adalah hari untuk merayakan, menjalin dan memperkuat persaudaraan di antara umat Buddha di dunia. Selamat Hari Buddhis Internasional![Bhagavant, 6/4/23, Sum]

Rekomendasikan:

Kategori: Seremonial
Kata kunci:
Penulis:
REKOMENDASIKAN BERITA INI: