Asia Tenggara » Indonesia

Pesan Waisak 2565 EB Sangha Theravada Indonesia

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Pesan Waisak 2565 EB Sangha Theravada Indonesia membabarkan permasalahan bangsa yang dapat diatasi dengan cinta kasih sebagai nilai luhur.

Pesan Waisak 2565 EB Sangha Theravada Indonesia

Pandemi Covid-19 yang masih mewabah di dunia dan menjadi salah satu permasalahan di Indonesia saat ini menjadi sorotan Sangha Theravada Indonesia (STI) dalam Pesan Waisak 2565 EB.

Dengan mengangkat tema Waisak 2565 “Cinta Kasih Membangun Keluhuran Bangsa”, STI bermaksud untuk mengingatkan akan pentingnya keluhuran bangsa dengan dasar cinta kasih sebagai pedoman hidup bermasyarakat yang memiliki budi pekerti luhur.

“Pandemi Covid-19 menjadi permasalahan baru dewasa ini, yang menimbulkan dampak pada terganggungnya beberapa sektor kehidupan, seperti kodisi ekonomi, sosial, dan budaya. Meskipun demikian, hendaknya masyarakat Indonesia tetap memiliki sikap optimis dan semangat untuk membangun kembali keluhuran dan kemajuan bangsa,” jelas STI dalam pesan Waisak yang ditandatangani oleh Saṅghanāyaka (Ketua Umum) Sangha Theravada Indonesia, Y.M. Sri Subhapañño, Mahāthera.

Memiliki cinta kasih berupa tindakan saling membantu satu sama lain dapat mengikis sikap individualis, yang akhirnya dapat membangun kebersamaan saling bantu-membantu dalam menghadapi permasalah bangsa.

STI juga mengajak umat Buddhis dan masyarakat untuk bersama berbagi cinta kasih dengan cara menaati protokol kesehatan dan mengikuti vaksinasi agar pandemi Covid-19 segera berakhir.

Berikut selengkapnya pesan Waisak 2564/2020 dari STI

PESAN TRISUCI WAISAK 2565/2021
SAṄGHA THERAVĀDA INDONESIA

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Akkodhena jine kodhaṁ,
asādhuṁ sādhunā jine;
Jine kadariyaṁ dānena, saccena alikavādinaṁ

Seseorang patut menaklukkan kemarahan dengan ketidakmarahan, menaklukkan ketidakbaikan dengan kebaikan; menaklukkan kekikiran dengan derma, menaklukkan ucapan dusta dengan kebenaran.
(Dhammapada, 223)

Hari Trisuci Waisak mengingatkan kita pada tiga peristiwa suci yang terjadi dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu kelahiran, pencerahan sempurna dan kemangkatan. Tiga peristiwa suci itu terjadi pada hari yang sama, dengan tahun yang berbeda, yaitu haru purnama raya, pada bulan Waisak. Kelahiran calon Buddha tahun 623 SM, di Taman Lumbini, Kapilavasthu, Nepal.

Hari Trisuci Waisak mengingatkan kita pada tiga peristiwa suci yang terjadi dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu kelahiran, pencerahan sempurna dan kemangkatan. Tiga peristiwa suci itu terjadi pada hari yang sama, dengan tahun yang berbeda, yaitu hari pumama raya, pada bulan Waisak. Kelahiran calon Buddha tahun 623 SM, di Taman Lumbini, Kapilavasthu, Nepal. Pencerahan Sempurna tahun 588 SM, di bawah Pohon Bodhi, Bodhgaya, India. Dan kemangkatan Buddha Gotama tahun 543 SM pada usia 80 tahun, di Kusinara, India. Hari Trisuci Waisak 2565 tahun ini jatuh pada tanggal 26 Mei 2021. Umat Buddha di seluruh dunia merayakan hari Trisuci Waisak, dengan penuh keyakinan untuk menghayati ajaran kebenaran Dhamma sebagai pedoman hidup yang luhur.

Sangha Theravada Indonesia mengangkat tema Trisuci Waisak 2565/2021: Cinta Kasih Membangun Keluhuran Bangsa, dengan maksud untuk mengingatkan akan pentingnya keluhuran bangsa dengan dasar cinta kasih sebagai pedoman hidup bermasyarakat yang memiliki budi pekerti luhur.

Keluhuran Bangsa

Bangsa yang luhur tercemmin pada perilaku masyarakat yang memiliki budi pekerti luhur. Bangsa Indonesia sejak dahulu kala dikena akan keramah- tamahannya sebagai bangsa yang menjunjung tinggi keluhuran. Keluhuran bangsa Indonesia telah ada sejak dahulu, terbukti pada keagungan Candi Borobudur yang dibangun sekitar abad ke-8 M dan menjadi saksi sejarah keluhuran bangsa Indonesia di masa itu. Nasihat-nasihat luhur, seperti ajaran cinta kasih dan kasih sayang, dapat dilihat di relief-relief candi. Namun sayangnya dewasa ini, keluhuran bangsa tercoreng dengan semakin menurunnya kepedulian, keramahan, sikap hormat, serta gotong-royong yang menjadi ciri masyarakat luhur. Hal ini ditandai dengan semakin bertambahnya angka kejahatan, ujaran kebencian, permusuhan, dan intoleransi yang menyebabkan lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa.

Permasalahan bangsa juga diperumit dengan adanya krisis kepercayaan dan kurangnya rasa hormat kepada pemerintah. Kerap kali hal itu memicu tindakan provokasi yang berdampak pada keresahan dan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat. Pandemi Covid-19 menjadi permasalahan baru dewasa ini, yang menimbulkan dampak pada terganggunya beberapa sektor kehidupan. seperti kondisi ekonomi, sosial, dan budaya. Meskipun demikian, hendaknya masyarakat Indonesia tetap memiliki sikap optimis dan semangat untuk membangun kembali keluhuran dan kemajuan bangsa.

Peringatan Trisuci Waisak mengingatkan kembali pada kemuliaan Guru Agung Buddha dan pesan-pesan luhur-Nya. Dalam Mahāparinibbana Sutta, Beliau menyampaikan pesan terakhir-Nya “Vayadhammā sankhārā, appamādena sampādethā ti” yang diterjemahkan sebagai “Segala sesuatu yang muncul dari perpaduan faktor pembentuk, sewajarnya mengalami kehancuran. Sempurnakanlah tugas kalian dengan tanpa lengah.” Dalam Sedaka Sutta, Saṁyutta Nikāya, Beliau menyampaikan pesan bahwa melindungi diri sendiri berarti melindungi orang lain, melindungi orang lain berarti melindungi diri sendiri (Attānam, bhikkhave, rakkhanto param rakkhati, paraṁ rakkhanto attānaṁ rakkhati).

Cinta Kasih Sebagai Nilai Luhur

Nilai luhur adalah nilai-nilai yang dimiliki sese- orang agar dapat menunjukkan sikap dan perilaku yang baik dalam hidup bermasyarakat. Salah satu nilai luhur yang menjadi dasar hidup bermasyarakat adalah cinta kasih. Berawal dari pengembangan cinta kasih, seseorang dapat mengembangkan nilai-nilai luhur yang lain, seperti kasih sayang, simpati, dan ketenangan. Cinta kasih adalah nilai luhur yang mengharapkan kebahagiaan orang lain dan diri sendiri. Cinta kasih mendekatkan satu sama yang lainnya. Cinta kasih juga mempersatukan orang yang saling membenci. Seperti yang disampaikan oleh Guru Agung Buddha bahwa kebencian tak akan pernah berakhir bila dibalas dengan kebencian, tetapi kebencian baru akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci, inilah satu hukum abadi (Dhammapada, 5).

Cinta kasih menyadarkan bahwa semua orang ingin hidup bahagia, maka seseorang yang memiliki cinta kasih tidak akan melakukan perbuatan yang menyebabkan orang lain menderita. Justru karena cinta kasih, seseorang akan melakukan perbuatan-perbuatan yang berguna bagi orang lain. Guru Agung Buddha mengajarkan tindakan berdana atau membantu orang lain dengan dasar cinta kasih. Cinta kasih ini dapat berwujud tindakan saling membantu satu sama lain yang dapat meringankan beban orang lain, terkhusus saat menghadapi musibah. Budaya luhur membantu orang lain dapat mengikis sikap individualis atau mementingkan diri sendiri. Sikap individualis dapat berupa tidak peduli orang lain dan lingkungan orang sekitar, merasa dirinya lebih baik dari orang lain, menginginkan pendapatnya selalu didengar, serta merasa tidak membutuhkan bantuan orang lain. Cinta kasih inilah yang akan membangun kebersamaan di tengah-tengah banyaknya perbedaan pendapat warga bangsa.

Dari cinta kasih juga terlahir perilaku yang baik atau bemoral. Masyarakat yang memiliki cinta kasih akan berupaya menjunjung tinggi kemoralan, sebab kemajuan sebuah bangsa bukan hanya diukur secara intelektualitas maupun penguasaan teknologi, tetapi perlu memiliki kemoralan. Rasa malu untuk berbuat jahat serta takut akan akibat dari perbuatan jahat juga dibutuhkan untuk membentuk perilaku yang bermoral.

Dari cinta kasih juga terlahir perilaku yang baik atau bermoral. Masyarakat yang memiliki cinta kasih akan berupaya menjunjung tinggi kemoralan, sebab kemajuan sebuah bangsa bukan hanya diukur secara intelektualitas maupun penguasaan teknologi, tetapi perlu memiliki kemoralan. Rasa malu untuk berbuat jahat serta takut akan akibat dari perbuatan jahat juga dibutuhkan untuk membentuk perilaku yang bermoral. Wujud masyarakat yang bermoral dapat dilihat dari tindakan luhur seperti menghargai hak orang lain, gotong royong, ramah, jujur, bermusyawarah, dan saling peduli satu sama lain. Pada akhirnya kemoralan akan melindungi dari kemunduran dan mendukung kemajuan sebuah bangsa.

Selamat Hari Trisuci Waisak 2565/2021, marilah kita mengembangkan cinta kasih agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat serta berbudi pekerti luhur. Wujudkan cinta kasih dalam bentuk tindakan nyata, dimulai dari diri sendiri dengan berperilaku baik serta saling bantu membantu dalam menghadapi berbagai permasalahan bangsa. Cinta kasih kita butuhkan untuk membangun keluhuran bangsa di tengah-tengah permasalahan dan kondisi saat ini.

Marilah kita bersama berbagi cinta kasih dengan cara menaati protokol kesehatan dan mengikuti vaksinasi agar pandemi Covid-19 segera berakhir, sehingga kondisi perekonomian dan sosial dapat berangsur pulih.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu melindungi.

Jakarta, 26 Mei 2021

SAṄGHA THERAVĀDA INDONESIA

Bhikkhu Sri Subhapañño, Mahāthera

Ketua Umum/ Saṅghanāyaka

[Bhagavant, 21/5/21, Sum]

Kata kunci: , , ,
Penulis:
REKOMENDASIKAN