India » Sosial

1.500 Kaum Dalit Gujarat Memeluk Agama Buddha, Tuntut Kesetaraan

Jumat, 1 November 2019

Bhagavant.com,
Gujarat, India – Gelombang beralih keyakinan memeluk Agama Buddha kembali terjadi lagi di kalangan kaum Dalit di India, untuk menuntut kesetaraan.

1.500 Kaum Dalit Gujarat Memeluk Agama Buddha, Tuntut Kesetaraan
Para bhiksu dari Buddha’s Light International Association (BLIA) dalam upacara alih keyakinan kaum Dalit di Gujarat, Senin (28/10/2019) . Foto: newsd.in

Seperti yang dilansir Indian Express, Senin (28/10/2019), sekitar 1.500 Dalit dari berbagai daerah di Gujarat memutuskan untuk memeluk Agama Buddha di sebuah acara yang diselenggarakan di Sardar Vallabhbhai Patel National Memorial di daerah Shahibaug, Ahmedabad pada hari Minggu (27/10/2019).

Kegiatan massal tersebut, diselenggarakan oleh Buddha’s Light International Association (BLIA) Gujarat, sebuah organisasi Buddhis internasional, yang dipimpin oleh Y.M. Bhiksu Hsin Bau dari Taiwan.

Sejumlah bhiksu dari India dan luar negeri ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Warga Dalit mengambil ikrar untuk mengikuti Agama Buddha setelah mendaftarkan diri mereka pada BLIA untuk kegiatan tersebut.

Mereka yang hadir pada kesempatan itu termasuk mantan presiden BLIA cabang Gujarat dan Kongres MLA saat ini dari konstituensi Dasada Naushad Solanki dan mantan anggota parlemen BJP Ratilal Varma.

Presiden BLIA cabang Gujarat, Tushar Shripal mengatakan, hampir 1.400 orang dari mereka yang terdaftar untuk program ini adalah orang-orang yang mengenal Agama Buddha untuk pertama kalinya.

Manjula Makwana, seorang warga Surendranagar di Saurashtra, yang beralih memeluk Agama Buddha bersama dengan suaminya, Ghanshyam Makwana, dan tiga anaknya di acara tersebut, mengatakan, “Kesetaraan adalah satu-satunya alasan bagi kami untuk memeluk Agama Buddha. Sebagai umat Hindu, kami tidak menemukan kesetaraan … Kami menyaksikan banyak diskriminasi dan kekejaman terhadap orang-orang Kasta Anusucita (Inggris: Scheduled Caste; Kasta Terjadwal – Kaum Dalit). Surendranagar terkenal karena hal itu.”

Nisarg Parmar, seorang insinyur dari daerah Naroda Ahmedabad yang sedang mengejar gelar Sarjana Administrasi Bisnis (BBA), merupakan warga Dalit lainnya yang berikrar untuk mengikuti kegaitan Agama Buddha tersebut. Sebanyak sekitar 25 orang dari keluarga besar Nisarg mengambil ikrar untuk memeluk Agama Buddha di acara tersebut.

Berbicara kepada Indian Express mengenai alasan di balik ikrarnya, Parmar mengatakan, “Kami dulu mengikuti Hindu. Tapi kami tidak suka dengan diskriminasi dan hierarki kasta di dalamnya. Agama Buddha mengajarkan kesetaraan. Jadi, hari ini kami telah berikrar untuk mengikuti Agama Buddha … Saya ingin India menjadi yang terbaik di dunia. Tetapi saya pikir salah satu rintangan terbesar dalam kemajuannya adalah sistem kasta yang mendiskriminasi orang dan memperlakukan mereka secara tidak adil,” tambahnya.

Sebelumnya, pada 6 Oktober 2019 sekitar 500 orang kaum Dalit dari berbagai daerah di Gujarat, beralih keyakinan memeluk Agama Buddha.

PG Jyotikar, Ketua Perhimpunan Buddhis India dan salah satu dari warga Dalit pertama yang pindah agama untuk memeluk Agama Buddha mengatakan bahwa keputusan warga Dalit di seluruh Gujarat untuk berpindah agama menjadi Agama Buddha, adalah ungkapan kemarahan untuk memprotes kekerasan berbasis kasta yang diterapkan kepada mereka.

Sebelum insiden Una, Gujarat telah menyaksikan 400-500 perpindahan agama setiap tahunnya, tetapi jumlahnya sekarang meningkat menjadi sekitar 1.500-1.600.

Insiden Una sendiri terjadi pada Juli 2016 saat tujuh anggota keluarga Dalit dianiaya oleh sekelompok orang dengan dalih sebagai bentuk perlindungan terhadap sapi di Una di Gujarat, India.

Kaum Dalit, meskipun menjadi bagian dari Agama Hindu di India, mereka tidak pernah diizinkan masuk ke pura-pura. Kaum Dalit dianggap sebagai orang-orang di luar kasta yang lebih rendah dari Kasta Sudra. Istilah dalit berasal dari bahasa Sanskerta yaitu dalita yang berarti hancur, pecah berserakan.

Pada dasarnya Agama Hindu tidak mengenal apa yang disebut dengan kasta, tetapi status sosial yang disebut varṇa (baca: warna) berdasarkan pekerjaannya. Ada 4 varṇa yaitu Brahmana, Ksatriya, Waisya, dan Sudra. Namun, pada perkembangannya, terjadi pergeseran praktik dalam sistem varṇa ini.[Bhagavant, 1/11/19, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: