Gerakan Buddhis

Apakah Ritual Kurban Hewan Bermanfaat dan Berpahala?

Minggu, 11 Agustus 2019

Bhagavant.com,
Kerala, India – Ritual kurban hewan merupakan salah satu ritual dalam kepercayaan kuno yang hingga kini masih dijalankan. Apakah ritual ini bermanfaat?

Ritual kurban hewan masa Yunani kuno.
Ritual kurban hewan masa Yunani kuno. Foto: ilmessaggero

Ritual kurban atau korban untuk persembahan telah ada sejak munculnya sistem kepercayaan. Banyak dalil atau alasan dari ritual kurban, dari untuk menyenangkan makhluk surgawi hingga untuk membantu sesama manusia.

Kehidupan hewan dan manusia tidak luput dari menjadi objek ritual kurban persembahan oleh orang-orang zaman dulu. Dan faktanya, di masa modern ini, masih ada kelompok masyarakat yang melakukan ritual kuno yang berlumuran darah ini meskipun objeknya sebatas hewan.

Di mata para praktisi kurban hewan, keberadaan dan kehidupan hewan yang dikurbankan hanya dianggap sebagai pelengkap kehidupan manusia, hanya sebagai makanan yang pantas disembelih dengan cara apa pun. Dan untuk memberi kesan masih memiliki belas kasih, ada di antara praktisi kurban hewan tidak segan-segan menggunakan istilah “membunuh dengan cara yang benar” dengan aturan-aturan yang mereka buat sendiri.

Lalu, bagaimana pandangan Agama Buddha mengenai ritual kurban hewan? Agama Buddha mengkritisi dan menentang ritual kurban hewan apa pun alasannya. Ritual kurban hewan merupakan ritual kurban yang kejam.

Pada masa kehidupan Sri Buddha, banyak jenis praktik ritual kurban yang dilakukan oleh para kaum brahmana yang merupakan kasta atas dalam masyarakat India kontemporer.

Di antara ritual kurban tersebut terdapat pengorbanan kuda (Pali: assamedha; Skt: aśvamedha), pengorbanan manusia (Pali: purisamedha; Skt: purushamedha), ritual samyaprasa (Pali: sammāpāsa; Skt: samyāprāsa – melibatkan pelemparan pasak kayu ), ritual vajapeya (Pali: vājapeyya; Skt: vājapeya – bagian dari ritual kurban soma), dan ritual niraggala (Pali: niraggaḷa; Skt: nirargala/nirargaḍa – sedekah kurban yang diberikan dengan terbuka lebar). Berdasarkan Ujjaya Sutta (Aṅguttara Nikāya 4.39), semuanya ritual kurban tersebut mengandung kekejaman karena penyembelihan makhluk.

Dalam Ujjaya Sutta (Aṅguttara Nikāya 4.39), dikisahkan seorang brahmana bernama Ujjaya bertanya kepada Sri Buddha mengenai apakah Beliau memuji bentuk pengorbanan (ritual kurban).

Sri Buddha menjawab bahwa Beliau tidak memuji pengorbanan dengan kekejaman saat ternak, kambing-kambing, domba-domba, ayam-ayam, dan babi-babi dibunuh, saat berbagai makhluk digiring untuk disembelih. Tetapi Beliau memuji pengorbanan tanpa kekejaman, saat tidak ada berbagai makhluk digiring untuk disembelih.

Apakah ritual kurban hewan bermanfaat?

Sri Buddha tidak melihat adanya nilai apa pun dalam ritual-ritual kurban hewan ini, karena sifatnya yang kejam dan semuanya merupakan ritual yang bersifat eksternal (non-spiritual).

“Pengorbanan kuda, pengorbanan manusia, sammāpāsa, vājapeyya,niraggaḷa, pengorbanan besar ini, yang penuh dengan kekejaman, tidak berbuah besar,” seperti yang disabdakan Sri Buddha yang juga terdapat dalam Yañña Sutta (Saṃyutta Nikāya 3.9)

“Para bijaksana yang berperilaku benar tidak melakukan pengorbanan demikian di mana kambing, domba, dan ternak dari berbagai jenis dibunuh.

Alih-alih bermanfaat dan berpahala besar, ritual kurban hewan yang tindakan intinya melakukan pembunuhan justru menimbulkan penderitaan. Bukan saja menimbulkan penderitaan bagi hewan yang menjadi kurban tetapi juga akan menumbulkan penderitaan bagi mereka yang melakukan ritual kejam tersebut, cepat atau lambat.

Banyak kisah dan penjelasan dalam Kitab Suci Tipitaka mengenai dampak dari kebiasaan membunuh makhluk hidup termasuk hewan.

“Siapa pun yang membunuh makhluk hidup menciptakan bahaya dan ancaman baik di kehidupan sekarang dan di kehidupan yang akan datang, dan mengalami sakit mental dan kesedihan.” – Dutiyavera Sutta (Aṅguttara Nikāya 9.28)

“Ia sendiri membunuh; mendorong orang lain untuk membunuh; ia menyetujui tindakan membunuh; dan ia memuji tindakan membunuh. Seseorang yang memiliki keempat kualitas ini akan turun di neraka.” – Pāṇātipātī Sutta (Aṅguttara Nikāya 4.264)

Agama Buddha melihat bahwa hewan memiliki kehidupan yang juga berharga, lantaran mereka juga memiliki kesadaran dan juga perasaan seperti manusia meskipun dalam kondisi yang lemah.

Keberadaan kesadaran dan perasaan pada hewan dapat dengan mudah kita amati dan buktikan. Berbagai film dokumenter satwa memperlihatkan kepada kita bagaimana hewan dapat memberikan perhatiannya kepada sesamanya, menolong hewan dari jenis lain hingga mengeluarkan air mata saat kehidupan mereka terancam. Para ilmuwan pun menemukan bahwa hewan memiliki emosi saat berhadapan dengan situasi tertentu.[Apakah hewan menangis?]

Terlebih lagi, sama seperti manusia, hewan memiliki kesempatan untuk mentransformasi kembali dirinya (baik fisik maupun batin) menjadi makhluk yang lebih baik melalui karma baik yang pernah ia lakukan.

Karena adanya kesadaran dan perasaan tersebut, maka para hewan juga berhak terbebas dari rasa sakit baik fisik maupun batin. Dan karena itulah pula membunuh mereka akan berakibat munculnya penderitaan pada si pelaku.

Sayangnya, mayoritas dari kita sebagai manusia tidak melihat persamaan yang ada antara manusia dengan hewan, tetapi lebih melihat perbedaan fisik yang ada. Sehingga dengan demikian kita sering menganggap hewan sebagai pelengkap kehidupan manusia, hanya sebagai makanan yang pantas disembelih dengan cara apa pun.

Bahkan lucunya, ada yang melakukan pembenaran membunuh hewan melalui praktik “cara membunuh yang benar” agar tidak sakit saat dibunuh. Padahal apa yang disebut membunuh bukan karena tindakannya menimbulkan sakit atau tidak sakit, tetapi karena tindakan tersebut menghilangkan kehidupan.

Ritual kurban hewan akan ada selama manusia tidak bisa peka melihat dan memahami hakikat kehidupan dengan benar. Dan selama pandangan keliru dalam diri seseorang menganggap bahwa ritual kurban hewan sebagai ritual yang indah dan bermanfaat, maka ia tidak akan bebas dari penderitaan.

Untuk itu umat Buddhis selalu diajarkan, dianjurkan dan didorong untuk mengurangi dan akhirnya meninggalkan tindakan membunuh hewan atas nama persembahan dana makanan baik kepada anggota sangha maupun kepada leluhur.[Bhagavant, 11/8/19, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: