Indonesia » Seremonial

Perayaan Waisak 2563 EB Bersama SMI Angkat Tema Tentang Hargai Perbedaan

Sabtu, 11 Mei 2019

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Sangha Mahayana Indonesia (SMI) telah menggelar perayaan Waisak 2563/2019 bersama pada Minggu (5/5/2019) pekan lalu di Sekolah Mahabodhi Vidya, Jakarta Barat.

Perayaan Waisak Bersama Sangha Mahayana Indonesia. Foto: Y.M. Sakya Sugata

Seperti dalam informasi yang diterima oleh Bhagavant.com dari Y.M. Sakya Sugata (釋能修师), anggota SMI, perayaan Waisak yang dihadiri oleh sekitar 800 Umat Buddha dari Jabodetabek dan Bandung mengangkat tema: “Menghargai Perbedaan Dan Menjaga Kebersamaan Untuk Persatuan.”

Tema tersebut diangkat untuk semua umat Buddha di Indonesia agar selalu menghargai perbedaan yang ada, menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan Bangsa.

Kepanitiaan Waisak berasal dari Anggota Sangha Mahayana Indonesia didukung oleh umat Buddha dan vihara-vihara di bawah naungan Sangha Mahayana Indonesia serta bantuan dari Keluarga Mahasiswa Buddhis dari berbagai universitas di Jabodetabek.

Perayaan tersebut dihadiri oleh Ketua Umum Sangha Mahayana Indonesia Y.M. Bhiksu Kusala Sasana Mahasthavira (学良大和尚) dan segenap anggota Sangha Mahayana Indonesia ( 印尼大乘僧伽会), serta Sekretaris Ditjen (Sesditjen) Bimas Buddha Bapak Nyoman Suriadarma S.Pd.,M.Pd,.M.Pd.B, beserta Jajaran.

Foto: Y.M. Sakya Sugata

Dalam acara tersebut diselenggarakan sejumlah kegiatan di antaranya tradisi memandikan rupang Bayi Bodhisattva Siddhartha dan puja bakti Waisak yang dipimpin oleh Y.M. Bhiksu Andhanavira Mahasthavira (宏慧大和尚), Y.M. Bhiksu Kusalasana Mahasthavira(学良大和尚), Y.M. Bhiksu Matra Maitri Mahasthavira (惟慈法师), Y.M. Kusala Phasa Mahastavira (隆善法师), dan Y.M. Bhiksu Bhadra Pala Sthavira(贤秉法师).

Dalam sambutannya, Y.M. Bhiksu Duta Smirti (传念法师), Ketua Pelaksana acara tersebut mengajak umat Buddha selalu meneladani jiwa Boddhisatva dan memahami bahwa semua makhuk yang ada di alam sebenarnya terlahir dengan wujud yang berbeda-beda, akan tetapi semuanya memiliki benih-benih keboddhian di dalam diri masing-masing.

Sehingga, lanjut beliau, kita bisa belajar bahwa perbedaan yang ada tersebut adalah sebuah karunia yang harus kita syukuri bersama. Beliau, memberi perumpamaan dengan mengibaratkan perbedaan seperti sebuah lukisan yang terdapat di dinding, yang memiliki berbagai warna yang berbeda-beda namun, ketika disatukan, maka akan menghasilkan sebuah mahakarya seni yang tinggi.

Foto: Y.M. Sakya Sugata

“Baru setelah kita menerima semua perbedaan yang ada maka akan lahir sebuah toleransi,yang memiliki tujuan yang sama yaitu bersatu untuk membangun bangsa yang adil, makmur dan sejahtera,” papar Y.M. Bhiksu Duta Smirti seperti dalam rilis pers yang disampaikan.

Sementara itu, Pesan Waisak 2563 EB dari Ketua Umum Sangha Mahayana Indonesia Y.M. Bhiksu Kusala Sasana Mahasthavira (学良大和尚) menjelaskan bahwa Ajaran Buddha di dunia memiliki Guru yang sama tetapi pada penyebarannya memiliki banyak aliran dan sekolah yang berbeda dari segi budaya, geografis dan perkembangan ajaran Buddha.

Tetapi semua itu memiliki esensi dan intisari serta rasa Dharma yang sama. Maka betapa pentingnya kebersamaan di era globalisasi di zaman serba keterbukaan, khususnya menjaga persatuan dan menjauhkan dari segala hal yang dapat memecah belah antar umat Buddha sendiri.

[Baca juga: SMI Sampaikan Pesan Waisak 2563 EB/2019, Ini Isinya]

Sesditjen Bimas Buddha Bapak Nyoman Suriadarma. S.Pd.,M.Pd,.M.Pd.B membacakan kata sambutan mewakili Bapak Caliadi, SH.MH Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama.

Foto: Y.M. Sakya Sugata

“Waisak adalah sebuah refleksi diri atas upaya dan semangat manusia agar dapat mengimplementasikan nilai-nilai dharma yang terkandung di dalamnya. Nilai tentang pengabdian dan penghargaan terhadap sesama, nilai tentang pentingnya cinta kasih yang universal,  dengan mengembangkan nilai-nilai tersebut, sehingga waisak akan dirasakan kehadirannya oleh masyarakat,” kata Sesditjen seperti yang dilansir situs Bimas Buddha Senin, (6/5/2109).

Sesditjen Bimas Buddha menyampaikan tentang perbedaan merupakan anugerah yang harus di syukuri karena kita terlahir dari hasil buah karma kita masing-masing. Oleh karenanya perbedaan yang ada di dalam diri kita tidak untuk saling di benturkan dan bermusuhan, tetapi sebaliknya menjadi kekuatan untuk membangun tatanan kehidupan yang maju, adil, makmur dan bermartabat.

Selain itu, pejabat Bimas Buddha juga menganggap tema Waisak dari SMI sesuai dengan tema Waisak yang diangkat oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI. Tema tersebut adalah “Kita Jaga Kebersamaan Umat untuk Memperkokoh NKRI”.[Bhagavant, 11/5/19, Sum]

Kata kunci: , ,
Penulis: