Asia Oseania » Asia Tenggara

Sekilas Mengenal Tahun Baru Sankranti yang Dirayakan Buddhis Asia

Minggu, 14 April 2019

Bhagavant.com,
Bangkok, Thailand – Sejak 13 April hingga 15 April 2019, masyarakat Asia khususnya di Asia Tenggara dan Selatan merayakan Tahun Baru Sankranti.

Menyiramkan air wangi pada rupaka Buddha sebagai salah satu tradisi Buddhis dalam perayaan Tahun Baru Sankranti. Foto: Youtube

Sankranti (Pali: saṅkanta; Skt: saṁkrānti) berarti perpindahan atau pergeseran, dalam hal ini adalah perpindahan atau pergeseran posisi Matahari dari rasi bintang yang satu ke yang lain. Hal ini menyebabkan pergantian musim dan digunakan sebagai tanda pergantian tahun dalam kalender atau penanggalan suryacandra (lunisolar).

Kalender suryacandra ini banyak digunakan oleh negara-negara Asia Tenggara dan Selatan dengan berbagai versi dan nama.

Pergantian tahun atau Tahun Baru ini diberi nama beragam oleh masyarakat Asia Tenggara dan Selatan. Di Thailand dan Laos perayaan ini disebut Songkran, di Myanmar disebut Thingyan, di Kamboja disebut Choul Chnam Thmay, di Sri Lanka disebut Aluth Avurudda, dan di India Selatan disebut Puthandu.

Meskipun terselip sedikit tradisi Buddhis dalam perayaan tahun baru ini, namun awal mula perayaan tahun baru ini tidak terkait dengan ajaran Agama Buddha.

Tradisi dan Budaya dalam Tahun Baru Sankranti

Layaknya penyambutan tahun yang baru, Tahun Baru Sankranti juga disambut dan dirayakan secara meriah, sesuai dengan tradisi dan budaya setempat.

Namun dari keberagaman bentuk tradisi dan budaya dalam menyambut datangnya Tahun Baru Sankranti, ada sejumlah tradisi yang memiliki kesamaan atau kemiripan antara negara-negara yang merayakannya.

Salah satunya adalah Festival Air yang dilakukan oleh masyarakat Asia Tenggara seperti di Thailand, Laos, Kamboja dan Myanmar.

Festival ini dilakukan dengan cara menyiram air yang kepada orang-orang sekitar, menuangkan air kepada tangan orang yang lebih dihormati dan memercikan air wangi kepada rupaka Buddha bagi umat Buddhis.

Asal mula tradisi menyiramkan air ini tidak lepas dari udara yang panas yang terjadi saat Tahun Baru Sankranti di Asia Tenggara. Untuk menurunkan suhu maka masyarakat menyiramkan air ke sekitarnya termasuk ke orang lain.

Tradisi menyiram air tersebut kini menjadi sebuah festival besar terutama di Thailand yang menjadi daya tarik wisata di Negeri Gajah Putih tersebut di setiap tahunnya.

Sedangkan tradisi masyarakat di Asia Selatan seperti di Sri Lanka dan India Selatan tidak melibatkan festival air tetapi menyalakan lilin minyak dan membersihkan rumah.

Bagi umat Buddhis di Asia Tenggara dan Selatan, Tahun Baru Sankranti disambut juga dengan berbagai kegiatan keagamaan seperti mempersembahkan dana makanan kepada para bhikkhu dalam rangkaian pindapata, melakukan puja bakti di vihara masing-masing atau ke stupa-stupa terkemuka.[Bhagavant, 14/4/19, Sum]

Kata kunci:
Penulis: