Asia Oseania » Tradisi dan Budaya

Begini Cara Lain Merayakan Cheng Beng untuk Umat Buddha

Selasa, 26 Maret 2019

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Hari Cheng Beng bukan berasal dari tradisi dan budaya Agama Buddha, namun umat Buddha dapat ikut serta merayakannya dengan pemaknaan dan cara lain.

Hari Cheng Beng (Mandarin: qingming – cerah dan terang) setiap tahunnya dirayakan oleh masyarakat etnis Tionghoa pada bulan ketiga penanggalan Imlek, atau 15 hari setelah fenomena ekuinoks (matahari melintasi garis khatulistiwa) pada tanggal 21 Maret.

Cuaca yang cerah dan terang pada Hari Cheng Beng dianggap sebagai waktu yang baik untuk mengenang dan menghormati leluhur, menjadi dasar pemikiran terbentuknya tradisi ini.

Hari Cheng Beng dirayakan dengan berbagai tradisi seperti berziarah kubur dengan membersihkan makam, mempersembahkan makanan kepada leluhur, hingga membakar jinzhi (Hokkian: kimcoa – kertas emas) dan benda-benda replika dari kertas lainnya.

Meskipun Cheng Beng bukan tradisi dan budaya Buddhis, tetapi umat Buddha khususnya dari etnis Tionghoa bisa dan boleh ikut merayakannya.

Namun, alangkah baiknya jika perayaan Cheng Beng oleh umat Buddha didasarkan pada pemahaman yang benar dan dilakukan juga secara benar sesuai dengan ajaran Buddha.

Umat Buddha bisa mengubah tradisi Cheng Beng yang tidak sesuai dengan ajaran Buddha, tanpa menghilangkan makna penghormatan terhadap leluhur (orang tua) yang menjadi inti dari perayaan tersebut.

[Baca juga: Bolehkah Umat Buddha Merayakan Cheng Beng?]

Berikut cara lain merayakan Cheng Beng untuk umat Buddha
1. Tempat Mengenang

Secara tradisi ziarah kubur (mengunjungi makam) dan membersihkan makam atau disebut sǎomù (掃墓) mendiang orang tua ataupun leluhur dilakukan 10 hari sebelum atau sesudah Hari Cheng Beng. Tidak jelas mengapa harus 10 hari sebelum atau sesudahnya. Bahkan sekarang terjadi kompromi bahwa ziarah dapat dilakukan pada hari Minggu terdekat dari Hari Cheng Beng karena faktor kesibukan seseorang.

Bagi umat Buddha seharusnya tidak menjadikan masalah kapan melakukan ziarah kubur dan membersihkan makam, karena hari terbaik bisa kapan saja saat kita siap melakukannya.

Ketika kita tidak memiliki makam leluhur untuk dikunjungi karena jasad mendiang dikremasi, kita dapat mengunjungi rumah abu dan membersihkan tempat menyimpan sisa perabuannya.

Dan ketika tidak ada sama sekali tempat ziarah untuk dikunjungi, umat Buddha dapat mengenang mendiang leluhur dalam batin dan melakukan persembahyangan di rumah, karena inti dari perayaan Cheng Beng adalah mengenang dan menghormati leluhur.

2. Membaca Paritta atau Sutra

Saat ziarah kubur biasanya seseorang melakukan sembahyang dan kowtow (melakukan sujud hormat) sebanyak tiga atau sembilan kali tergantung kebiasaan. Bagi umat Buddha, memberi hormat dalam bentuk fisik bisa dalam posisi apa pun, bisa bersujud, atau hanya merangkapkan tangan Melakukan kowtow pun tidak menjadi masalah.

Alih-alih bersembahyang meminta atau memohon sesuatu kepada leluhur, umat Buddha memanjatkan harapan agar leluhur berbahagia.

Selain melakukan sembahyang dan kowtow kepada leluhur, umat Buddha bisa membacakan paritta atau sutra baik yang sederhana maupun yang panjang, tergantung kesiapan pribadi individu.

Meskipun kecil kemungkinannya, diharapkan getaran-getaran dari pembacaan paritta atau sutra ikut dirasakan oleh mendiang leluhur yang terlahir di alam yang memungkinkan untuk merasakannya, sehingga mereka merasa bahagia.

Tetapi yang paling terpenting dan mendapatkan manfaat nyata dari pembacaan paritta atau sutra saat Cheng Beng adalah orang yang membaca dan memahaminya. Dengan membaca paritta atau sutra, mengondisikan pikiran kita menjadi baik. Pikiran kita teralihkan dari pikiran-pikiran buruk, sehingga menjadi lebih tenang, tidak galau atau pun sedih. Dengan adanya pikiran baik maka batin kita akan menjadi tenang dan bahagia.

Jika kita merasa tidak pantas, tidak yakin untuk membacakan paritta atau sutra di depan makam mendiang yang dianggap berbeda agama, kita bisa mengesampingkannya. Tidaklah menjadi hal yang baik jika nanti batin kita sendiri terbebani karena merasa bersalah telah memaksakan pembacaan paritta atau sutra tersebut.

Namun pada dasarnya, paritta ataupun sutra bukanlah berisi ajakan untuk berpindah agama, tetapi berisi ajaran untuk melakukan kebaikan yang sifatnya universal.

3. Mengunjungi Vihara

Alih-alih hanya ziarah kubur dan membersihkan makam, umat Buddha juga mengunjungi vihara untuk melakukan puja bakti dan mendengarkan ceramah Dharma.

Jika ada, kita bisa mengunjungi vihara yang memang mengadakan puja bakti dan kegiatan khusus perayaan Cheng Beng.

Tujuan melakukan puja bakti dan mendengarkan ceramah Dharma lebih banyak berdampak kepada yang melakukannya daripada berdampak kepada mendiang leluhur.

Dengan melakukan puja bakti kita akan mendapatkan ketenangan pikiran dan mendengarkan ceramah Dharma bisa membantu mengingatkan dan menunjukkan jalan atau cara menghadapi keadaan yang kita hadapi. Kondisi pikiran kita menjadi baik dalam menghormati dan mengenang leluhur.

4. Memberikan Persembahan kepada Sangha

Salah satu tradisi dalam Cheng Beng adalah memberikan persembahan makanan kepada mendiang leluhur berupa makanan kegemaran semasa hidupnya.

Menurut ajaran Buddha, sangat sulit bagi mendiang leluhur yang telah terlahir kembali untuk menerima secara langsung persembahan makanan dari keluarganya. Hanya mereka yang terlahir di alam-alam tertentu saja yang dapat menerima persembahan makanan.

Alih-alih hanya mempersembahkan makanan kepada leluhur, umat Buddha juga mempersembahkan dana makanan kepada Sangha di vihara. Kita dapat mempersembahkan dana makanan saat kegiatan pindapata ataupun pattidana. Dengan demikian, jasa kebajikan yang telah kita peroleh dari berdana kepada Sangha dapat disalurkan kepada mendiang leluhur.

[Baca juga: Menambah Makna dan Nilai Hari Cheng Beng dengan Pattidana]

5. Berdana kepada yang Membutuhkan

Tradisi lain yang dilakukan saat Cheng Beng adalah membakar jinzhi (Hokkian: kimcoa – kertas emas) dan benda-benda replika dari kertas lainnya.

Di antara tradisi perayaan Cheng Beng, tradisi membakar jinzhi atau kimcoa dan benda-benda replika dari kertas merupakan hal yang paling tidak berdasar (cenderung takhayul) baik dari segi asal-usul maupun manfaatnya bagi mendiang leluhur.

Tidak bisa dipungkiri ratusan ribu hingga bisa jutaan rupiah dikeluarkan untuk membeli benda-benda replika dari kertas lainnya hanya untuk dibakar dalam perayaan Cheng Beng.

Alih-alih mendapatkan manfaat nyata untuk mendiang leluhur, tradisi
membakar jinzhi atau kimcoa dan benda-benda replika dari kertas dapat merusak lingkungan hidup. Selain menimbulkan polusi udara, tradisi ini juga dapat memperparah pemanasan global. Gas karbon dioksida yang dihasilkan dari pembakaran kertas tersebut dapat menimbulkan efek rumah kaca sehingga Bumi menjadi semakin panas. Bumi yang semakin panas akan menimbulkan berbagai bencana alam.

Daripada menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan merugikan, umat Buddha dapat menggunakan uang tersebut untuk berdana kepada yang membutuhkannya. Kita dapat memberikan sumbangan kepada panti asuhan, panti wreda (lansia), atau panti sosial lainnya, baik atas nama pribadi maupun atas nama mendiang leluhur.

Menggunakan uang untuk berdana kepada yang membutuhkan jauh lebih besar manfaatnya daripada digunakan untuk membeli kertas untuk dibakar. Selain membantu orang lain tindakan ini juga dapat membawa harum nama mendiang leluhur.

Perlu Direnungkan

Penghormatan terhadap mendiang leluhur bukan dilakukan dengan cara mempertahankan tradisi yang dapat merugikan dan tidak bermanfaat.

Mengubah, memodifikasi, bahkan meninggalkan tradisi yang buruk dan mengisinya dengan tradisi yang berdampak baik dan bermanfaat justru merupakan sebuah bentuk penghormatan kepada mendiang leluhur.

Ketika suatu tradisi justru akhirnya merusak keberlangsungan kehidupan generasi mendatang, akankah membawa nama harum para leluhur?

Dan, bukankah, harapan dari semua leluhur yang baik adalah memiliki generasi yang baik dengan kehidupan yang baik pula?[Bhagavant, 26/3/19, Sum]

Kata kunci:
Penulis: