Lingkungan Hidup

Pakar Lingkungan Hidup: Fang Sheng dapat Picu Krisis Ekologi

Sabtu, 2 Februari 2019

Bhagavant.com,
Wellington, Selandia Baru – Salah satu tradisi Buddhis yaitu fang sheng (放生 – fàngshēng), jika tidak dilakukan dengan benar dapat menyebabkan bencana ekologis, kata seorang pakar lingkungan hidup di Selandia Baru.

Salah satu bentuk fang sheng adalah melepaskan ikan ke alam.
Salah satu bentuk fang sheng adalah melepaskan ikan ke alam. Foto: Shutterstock

Tradisi fang sheng atau melepas kehidupan dengan cara melepaskan hewan yang tertangkap ke alam dipraktikkan oleh sejumlah umat Buddhis di hampir semua tradisi Agama Buddha. Tradisi ini dipandang sebagai cara ideal mendapatkan karma baik melalui tindakan belas kasih yang sederhana untuk membuat dunia sedikit jauh lebih baik.

Namun sayangnya, seperti halnya dengan niat baik lainnya, ketika tidak dipraktikkan secara sadar dan dengan kebijaksanaan, hal itu dapat menghasilkan lebih banyak kerugian daripada kebaikan. Sebagai contoh, melepaskan hewan ke habitat yang bukan aslinya dapat mematikan hewan yang dilepaskan tersebut, dan dalam beberapa kasus dapat mendatangkan bencana pada ekosistem yang peka.

“Meskipun bermaksud baik, melepaskan hewan yang tertangkap ke alam liar sering kali bukan demi kepentingan hewan yang dilepaskan itu dan juga dapat membahayakan lingkungan alam kita,” kata Dr. Imogen Bassett, penasihat utama biosekuriti Dewan Auckland, seperti yang dilansir New Zealand Herald, Minggu (13/1/2019).

“Hewan yang dibebaskan mungkin tidak dapat menemukan makanan yang cukup, tempat tinggal, atau beradaptasi dengan lingkungan di sekitar mereka, yang mengarah ke masalah kesejahteraan hewan.”

Fang sheng secara tradisional melibatkan pembebasan hewan yang seharusnya dibunuh — seperti ikan yang dibeli dari nelayan atau restoran makanan laut, atau hewan ternak dari rumah jagal. Namun di tengah semakin populernya fang sheng di komunitas-komunitas Buddhis di seluruh dunia, harus diakui bahwa ada banyak konsekuensi yang tidak terduga dan berpotensi negatif, baik untuk hewan yang dilepaskan maupun untuk lingkungan yang mereka masuki.

[Baca juga: Buddhis Singapura Disarankan Tidak Fang Sheng saat Vesak]

Sebagai contoh, Dr. Basset mencatat bahwa ekosistem Selandia Baru sangat rentan terhadap pengenalan spesies non-asli. “Hewan seperti kura-kura atau ikan koi yang bukan asli Selandia Baru dapat berdampak buruk pada spesies asli kami dan memberi tekanan tambahan pada ekosistem air tawar kami yang sudah rapuh,” katanya.

Beberapa aspek masalah dari fang sheng yang tidak dilakukan secara benar antara lain:
– melepaskan hewan ke lingkungan yang tidak sesuai untuk bertahan hidup
– melepaskan spesies yang bersifat invasi (menjajah) ke lingkungan yang habitannya mungkin tidak memiliki predator alami
– melepaskan hewan yang dapat menyebabkan penyakit yang mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati
– praktik maraknya penangkapan atau membiakkan hewan secara eksplisit untuk tujuan fang sheng — biasanya dengan imbalan uang — yang menghasilkan siklus penderitaan dan kemalangan yang terus-menerus bagi hewan-hewan yang “dibebaskan”.

Sebagai contoh, Dr. Basset mengamati bahwa kura-kura slider bertelinga merah (kura-kura Brazil), yang aslinya berasal dari Amerika Serikat bagian selatan dan Meksiko utara, adalah salah satu dari 100 spesies invasi terburuk di dunia, dan dapat mengganggu stabilitas ekosistem yang rentan ketika diperkenalkan. Sebagai hasil dari popularitasnya sebagai hewan peliharaan, kura-kura Brazil telah menjadi mapan di banyak daerah di dunia, di mana ia sering mengungguli spesies aslinya.

Seorang praktisi fang sheng di Selandia Baru yang tidak disebut namanya yang diwawancarai oleh surat kabar New Zealand Herald menjelaskan bahwa ia lebih suka membeli kura-kura untuk melepas kehidupan karena mereka melambangkan umur panjang dalam kosmologi Tionghoa dan akan mendapatkan pahala yang lebih besar. Ia mengatakan membeli kura-kura peliharaan secara online seharga antara 370 ribu hingga 930 rupiah.

Praktisi fang sheng lainnya yang diwawancarai oleh surat kabar itu mengatakan mereka telah melepaskan belut dan ikan yang dibeli dari restoran dan pasar ke sungai dan laut.

Tony Fernando, dosen kesehatan senior Universitas Auckland yang juga seorang Buddhis, menyarankan bahwa ada cara lain, yang mungkin lebih baik daripada melepaskan kehidupan bagi umat Buddhis yang berbelas kasih untuk mendapatkan karma baik.

“Membebaskan hewan adalah tradisi mulia belas kasih dalam tindakan,” katanya. “Tetapi praktik yang lebih praktis dan yang pasti lebih sulit adalah mempraktikkan kebaikan dalam ucapan, pikiran, dan tindakan secara sadar, setiap hari — tidak hanya untuk hewan, tetapi juga untuk keluarga, kolega, teman, dan orang asing.”[Bhagavant, 2/2/19, Sum]

Kata kunci:
Penulis: