Asia Oseania

Ini Dia Satu-satunya Vihara di Uni Emirat Arab

Kamis, 10 Januari 2019

Bhagavant.com,
Abu Dhabi, Uni Emirat Arab – Keberadaan vihara di Uni Emirat Arab merupakah hal yang sangat langka bahkan untuk di kawasan Jazirah Arab.

Suasana di Vihara Mahamevnawa, Jumeirah, Dubai, Uni Emirat Arab.
Suasana di Vihara Mahamevnawa, Jumeirah, Dubai, Uni Emirat Arab. Foto: thenational.ae

Hal itu tidak lepas dari perundang-undangan di mayoritas negara-negara Arab yang intoleran terhadap agama lain khususnya agama dari Asia Selatan, seperti Agama Buddha.

Vihara kecil di Jumeirah sebuah area perumahan pinggir pantai di Dubai, menjadi satu-satunya vihara di Uni Emirat Arab (UEA) bahkan satu-satunya di Jazirah Arab. Keberadaannya pun tidak lepas dari hukum di UEA yang belakangan ini memungkinkan untuk mendirikan rumah ibadah meskipun dalam keterbatasan dan larangan untuk mengalihkan keyakinan orang lain.

Selain itu, kondisi Kota Dubai sebagai kota perdagangan dan wisata serta adanya kepentingan ekonomi/perdagangan dengan negara lain, membuat Kota Dubai mau tidak mau menerima keragaman yang datang dari negara lain baik sebagai turis maupun pekerja asing.

Vihara Mahamevnawa yang merupakan satu-satunya vihara di Uni Emirat Arab berwujud bangunan vila yang dicat putih dan berada di samping deretan tempat tinggal yang hampir identik. Vihara ini menjadi oasis Dhamma bagi sekitar setengah juta umat Buddhis di sana yang hampir 350 ribu di antaranya merupakan diaspora warga Sri Lanka.

Umat Buddhis telah tinggal di sini selama beberapa dekade, tetapi pada tahun 2009, vihara resmi pertama dibuka di Al Satwa, sebuah daerah di Dubai yang terkenal dengan banyaknya komunitas Asia Selatan. Keberadaan vihara ini adalah hasil upaya para pemimpin masyarakat setempat untuk membangun kesadaran tentang Agama Buddha.

Pada saat itu, masyarakat melakukan kegiatan peribadatan secara sembunyi-sembunyi karena menghormati hukum yang berlaku di negara itu sebelum akhirnya pindah ke Jumeirah beberapa tahun yang lalu.

Para pemimpinnya tidak mencari publisitas tetapi dalam beberapa tahun terakhir profil mereka telah meningkat seiring dengan komitmen UEA terhadap toleransi belakangan ini.

Vihara Mahamevnawa adalah bagian dari sebuah organisasi yang didirikan pada tahun 1999 berbasis di Sri Lanka oleh Y.M. Kiribathgoda Gnanananda Thera dengan tujuan memberi manfaat kepada semua makhluk hidup dengan berbagi ajaran Buddha Gotama.

Selain Vihara Mahamevnawa di Polgahawela dan 40 cabang di seluruh Sri Lanka, organisasi ini mengawasi jaringan vihara cabang internasional di Australia, Kanada, Jerman, India, Italia, Korea Selatan, UEA, Inggris, dan Amerika Serikat.

Umat Buddhis di UEA sebagian besar adalah pekerja asing dari negara-negara di Asia dengan populasi Buddhis yang besar, termasuk Tiongkok, Nepal, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam, serta sejumlah kecil insinyur, direktur perusahaan, dan manajer dari negara-negara seperti Tiongkok (termasuk Hong Kong), Jepang, Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan.

Penampakan luar Vihara Mahamevnawa, Jumeirah, Dubai, Uni Emirat Arab.
Penampakan luar Vihara Mahamevnawa, Jumeirah, Dubai, Uni Emirat Arab. Foto: gulfnews.com

Vihara Mahamevnawa Dubai buka setiap hari tetapi umat lebih banyak hadir pada hari Jumat untuk melakukan puja bakti. Dari jam 6 pagi, umat mulai berdatangan. Dengan mengenakan pakaian putih untuk melambangkan kehidupan sederhana, mereka pertama-tama melepas sepatu mereka.

Sekitar seribu umat Buddhis dari seluruh negeri itu datang pada hari Jumat untuk bermeditasi, mendengarkan ceramah seorang bhikkhu dan memberikan persembahan kepada Sri Buddha. Umat menyumbangkan makanan untuk para bhikkhu sementara pemeliharaan vihara disediakan melalui sumbangan pribadi.

“Kami jauh dari keluarga kami. Dan ini adalah satu-satunya tempat kami dapat menghilangkan rasa sakit kami,” kata Sam Edirisinghe, diasopra Sri Lanka yang telah datang ke vihara itu sejak pertama kali dibuka.

“Ini memberi kami kesempatan untuk mengisi ulang kekuatan kami,” lanjutnya seperti yang dilansir The National UAE, akhir tahun lalu, Senin (31/12/2018).

Dua orang bhikkhu berada di UEA pada waktu-waktu tertentu. Y.M. Gnanananda, sebagai pendiri organisasi juga mengunjungi vihara itu secara teratur untuk menjaga hubungan dengan komunitas Buddhis setempat.

Di vihara itu, para bhikkhu membacakan beberapa dari puluhan ribu ayat-ayat ajaran Buddha dalam bahasa Sinhala, bahasa yang digunakan di Sri Lanka. Setelah itu para bhikkhu memberikan ceramah Dhamma yang kemudian diikuti dengan pemberian persembahan dari umat kepada para bhikkhu. Dua ceramah Dhamma menyusul masing-masing di sore dan malam hari.

“Saya bekerja sebagai surveyor kuantitas, yang sangat penuh stres. Hal yang baik untuk memiliki vihara seperti ini untuk melepaskan tekanan kita,” kata Sasika Ranasinghe, 34, warga Sri Lanka yang telah melakukan perjalanan dari Abu Dhabi.

“Pikiran kita bisa tercemar – kita menjadi marah. Jadi saya datang ke sini untuk memurnikan pikiran,” jelasnya.

Pada tahun 2019 ini, pemerintah UEA mendeklarasikan tahun 2019 sebagai Tahun Toleransi. Komunitas Buddhis di UEA telah berpartisipasi dalam acara antaragama, serta menghadiri buka puasa selama bulan Ramadhan.

Salah satu masalah yang ada sekarang adalah vihara tersebut menjadi tempat yang sempit setelah jumlah komunitas Buddhis semakin berkembang. Komunitas Buddhis di UEA membutuhkan vihara yang lebih besar dan mereka telah berbicara kepada pemerintah.

Rubesh Pillai, salah seorang relawan yang istrinya membantu mengelola vihara itu, mengatakan bahwa ia berharap membangun vihara terbesar di dunia di Dubai yang dapat menampung 10.000 orang.

Data demografis untuk UEA secara inheren berubah-ubah karena komunitas ekspatriat yang besar di negara itu, yang merupakan sebagaian besar penduduk negara tersebut.

Islam adalah agama resmi di UEA. Menurut data sensus resmi untuk tahun 2005, 76,9 persen populasinya mengidentifikasikan diri sebagai Muslim. Menurut sensus tersebut, dari agama-agama lain yang dipraktikkan di UEA, terutama oleh komunitas ekspatriat, jumlah umat Kristen sekitar 12,6 persen, Hindu 6,6 persen, dan Buddhis 2 persen, dan sisanya adalah agama-agama lain.[Bhagavant, 10/1/2019, Sum]

Kata kunci:
Penulis: