Psikologi » Sains

Pengalaman Menjelang Kematian Dapat Dipelajari dengan Meditasi Buddhis

Sabtu, 22 Desember 2018

Bhagavant.com,
London, Inggris – Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa pengalaman menjelang kematian (near-death experience – NDE) dapat dipelajari dan disempurnakan dengan meditasi Buddhis.

Pengalaman menjelang kematian adalah peristiwa psikologis mendalam yang biasanya terjadi pada orang-orang yang mendekati kematian yang sesungguhnya atau yang dipersepsikan.

Penelitian baru telah menelaah beberapa praktisi meditasi Buddhis yang dapat dengan sengaja memunculkan pengalaman menjelang kematian ini. Penelitian itu telah diterbitkan di jurnal Mindfulness.

“Praktik menggunakan meditasi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang kematian sudah lama ada. Khususnya dalam Agama Buddha yang memiliki teks-teks kuno yang bertujuan membantu para praktisi spiritual mempersiapkan diri, atau mendapatkan wawasan tentang proses kematian,” tulis William Van Gordon, dari Universitas Derby yang meneliti penelitian tersebut.

“Namun, sampai saat ini, tidak ada penelitian yang menyelidiki fenomena pengalaman menjelang kematian yang dimunculkan oleh meditasi (meditation-induced near-death experience – MI-NDE) yang dirujuk dalam teks-teks Buddhis kuno,” tulis jurnal tersebut.

Dalam penelitian tersebut, 12 praktisi meditasi Buddhis yang mahir menyelesaikan wawancara semi-terstruktur tentang pengalaman menjelang kematian yang dimunculkan meditasi bersama dengan penilaian psikometrik. Hanya peserta yang mendapat skor tinggi dalam Skala Pengalaman Menjelang Kematian yang dimasukkan dalam penelitian.

“Sekitar 4% orang dewasa di negara-negara Barat melaporkan memiliki pengalaman menjelang kematian ketika mereka hampir mati atau pada periode antara kematian klinis dan resusitasi. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa beberapa praktisi meditasi Buddhis yang mahir mampu memanfaatkan pengalaman ini sekehendaknya, menumbuhkan wawasan ke dalam psikologi proses kematian serta sifat alami dari diri dan realitas secara lebih umum,” tulis Van Gordon.

Para peneliti menemukan bahwa pengalaman menjelang kematian yang dimunculkan oleh meditasi berkaitan dengan persepsi waktu dan ruang yang berubah-ubah, dan sering melibatkan pertemuan dengan alam atau makhluk non-duniawi. Para peserta juga mengatakan mereka mempertahankan kendali atas pengalaman menjelang kematian ini, dan dapat memutuskan kapan pengalaman iti dimulai dan berakhir.

“Tidak seperti pengalaman menjelang kematian (NDE) biasanya, peserta secara sadar menyadari mengalami NDE yang disebabkan oleh meditasi dan mempertahankan kontrol atas konten dan durasinya. Juga, dibandingkan dengan bentuk-bentuk meditasi biasa, NDE yang dimunculkan oleh meditasi menyebabkan peningkatan lima kali lipat dalam pengalaman mistik dan peningkatan empat kali lipat dalam perasaan tidak melekat,” Van Gordon menjelaskan.

“Temuan juga menunjukkan bahwa sifat mendalam NDE yang disebabkan meditasi, meningkat selama periode penelitian tiga tahun, menunjukkan bahwa pengalaman menjelang kematian dapat dipelajari dan disempurnakan dari waktu ke waktu.”

“Implikasi utamanya adalah penelitian ini menunjukkan akan layak dan etis bagi penelitian masa depan untuk merekrut para meditator yang mahir untuk menilai perubahan waktu nyata dalam aktivitas neurologis seseorang selama pengalaman menjelang kematian. Hingga saat ini, risiko kesehatan dan tantangan etis yang terkait dengan melakukan penelitian semacam itu pada mereka yang mengalami pengalaman menjelang kematian yang biasa telah menjadikan hal ini mustahil,” jelas Van Gordon.

Penelitian “Meditation-Induced Near-Death Experiences: a 3-Year Longitudinal Study“, dilakukan oleh William Van Gordon, Edo Shonin, Thomas J. Dunn, David Sheffield, Javier Garcia-Campayo, dan Mark D. Griffiths.[Bhagavant, 22/12/18, Sum]

Kata kunci:
Penulis: