Asia Tenggara » Buddhisme dan Kesehatan » Thailand

Para Bhikkhu Thailand Bergelut dengan Masalah Kegemukan

Minggu, 16 Desember 2018

Bhagavant.com,
Bangkok, Thailand – Tidak bisa menolak dan tidak bisa memilih-pilih makanan dari umat membuat para bhikkhu Thailand bermasalah dengan kegemukan.

Seorang bhikkhu melakukan pengecekan kesehatan di rumah sakit pemerintah di Bangkok, Thailand, pada 12 November 2018.
Seorang bhikkhu melakukan pengecekan kesehatan di rumah sakit pemerintah di Bangkok, Thailand, pada 12 November 2018. Foto: AFP

Setiap pagi, Y.M. Pipit Sarakitwinon berjalan-jalan di sekitar viharanya dan melakukan ratusan olahraga lengan, bagian dari cara hidup baru yang ditujukan untuk mengurangi berat badan sebagai perbaikan kesehatan bagi anggota Sangha di Thailand.

Para umat Buddhis di Thailand telah mencurahkan para bhikkhu dengan dana makanan yang penuh dengan gula, lemak dan minyak, yang berkontribusi pada krisis kesehatan para anggota Sangha tersebut.

“Sebelum saya mulai diet, saya hampir tidak bisa berjalan 100 meter tanpa merasa lelah,” kata Y.M. Pipit, seperti yang dilansir The Asean Post dari AFP, Kamis (22/11/2018). Selama pemeriksaan kesehatan di sebuah rumah sakit bagi para bhikkhu di Bangkok, Y.M. Pipit yang berusia 63 tahun menambahkan bahwa biasanya beratnya 180 kilogram.

Dengan meroketnya kasus diabetes, hipertensi, dan masalah lutut, pejabat kesehatan dan keagamaan Thailand Desember tahun lalu menerbitkan “Piagam Kesehatan Bhikkhu”, sebuah panduan yang menginstruksikan anggota Sangha untuk memperhatikan apa yang mereka makan.

Umat Buddhis khususnya di Thailand yang berusaha melakukan kebajikan dan menghormati leluhur mereka sering menyediakan makanan bagi para bhikkhu dalam pindapata sehari-hari. Namun dalam kedermawanan para umat kadang terselip suatu kesalahan.

Kari yang kental, permen manis, soda, dan camilan asin adalah salah satu rangkaian dana makanan mewah dan tidak sehat.

“Jika mereka makan makanan kita dan puas, kita merasa nyaman bahwa makanan akan dilimpahkan kepada orang yang kita cintai,” kata Prachaksvich Lebnak, wakil sekretaris jenderal di Balai Keamanan Kesehatan Nasional Thailand.

“Beberapa orang bahkan memberi para bhikkhu rokok,” kata Lebnak, mengacu persembahan simbolis kepada leluhur yang perokok berat.

Tidak bisa menolak makanan

Menurut Asian Development Bank (ADB), Thailand menjadi salah satu negara dengan tingkat obesitas tertinggi di Asia.

Menurut survei 2016 yang dialkukan oleh Fakultas Ilmu Kesehatan Teraliansi di Universitas Chulalongkorn Bangkok, anggota Sangha adalah salah satu yang paling terdampak obesitas dengan tingkat obesitas melonjak setinggi 48 persen, dengan 42 persen menderita tekanan darah tinggi.

Vinaya (peraturan disiplin para bhikkhu) melarang para bhikkhu makan setelah tengah hari, dan Sri Buddha sendiri telah memberitahu para bhikkhu untuk tidak makan setelah siang hari hingga keesokan paginya.

Tetapi pāna dalam kitab Vinaya yang diartikan sebagai minuman jus-jus tertentu, diizinkan untuk dikonsumsi setelah tengah hari. Ini membuat jus-jus tersebut menjadi alat penghantar gula yang sempurna.

Persembahan yang dikemas yang di dalamnya termasuk makanan olahan juga memperburuk masalah.

Meskipun pedoman baru menyerukan para bhikkhu untuk menjaga kesehatan mereka sehingga mereka dapat “bersiap untuk menyampaikan ajaran Buddha”, namun menolak persembahan para umat adalah hal yang rumit bagi para bhikkhu.

“Menurut ajaran Sri Buddha, apa pun yang mereka persembahkan, kami harus menerima. Kami tidak dapat menangkal, kami tidak dapat menolak,” kata Y.M. Phra Rajvoramuni, asisten kepala Vihara Sungvej di Bangkok yang membantu penulisan piagam baru tersebut.

Y.M. Rajvoramuni berharap bahwa pendidikan kesehatan termasuk pelatihan para bhikkhu untuk menjalankan pemeriksaan medis dasar akan membawa perubahan.

“Para bhikkhu juga harus melakukan sesuatu, seperti olahraga … seperti meditasi berjalan, membersihkan vihara di pagi hari, menyapu halaman,” katanya.

Tidak pergi dokter umum dan dokter gigi

Panduan kesehatan untuk para bhikkhu tersebut juga menyasar inisiatif skala kecil di pedesaan Thailand.

Y.M. Phra Bhavana Dhamakosit, kepala Vihara Phochai (Wat Phochai) di timur laut provinsi Nongkhai, mengatakan kepada AFP bahwa pra bhikkhu di vihara itu mulai melakukan pemeriksaan medis tiga tahun lalu, dengan obesitas dan tekanan darah tinggi yang menjadi masalah umumnya.

Karena para bhikkhu cenderung pindah dari satu vihara ke vihara berikutnya, banyak para bhikkhu yang tidak mengunjungi dokter umum atau dokter gigi untuk pemeriksaan, katanya.

Meskipun panduan baru itu juga menginstruksikan para umat untuk membuat persembahan yang lebih sehat, namun para pemimpin agama berhati-hati untuk tidak menerapkan terlalu banyak tekanan terhadap para umat.

“Lebih baik dan lebih efektif untuk meminta para bhikkhu agar tidak makan jenis makanan tertentu,” kata Y.M. Bhavana.

Jongjit Angkatavanich Ph.D, Lektor Kepala dari Universitas Chulalongkorn yang melakukan survei tahun 2016 mengatakan dia berharap “perubahan nyata setidaknya membutuhkan waktu tiga tahun.”

Meskipun panduan baru tersebut bersifat tidak wajib, para bhikkhu yang menjaga berat badan mereka mulai melihat hasilnya.

Selain berolahraga, Y.M. Pipit telah mencoba makan porsi yang lebih kecil, terutama ketika menerima persembahan yang tidak sehat.

Ia mengatakan dirinya telah kehilangan 30 kilogram sejak dia mulai menjaga berat badannya awal tahun ini.

“Sekarang saya memilah makanan yang telah dipersembahkan oleh para penduduk desa,” katanya.[Bhagavant, 16/12/18, Sum]

Kata kunci:
Penulis: