Indonesia » Seremonial

Pesan Waisak 2562 EB/2018 Sangha Agung Indonesia

Senin, 28 Mei 2018

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Menyambut Waisak 2562 EB/2018, Sangha Agung Indonesia menyampaikan pesannya kepada para umat Buddha di Indonesia.

Dalam pesannya, Sangha Agung Indonesia menekankan bahwa kehadiran setiap individu yang mengenal Dharma hendaknya menciptakan kebaikan untuk menjaga kebhinnekaan yang ada demi kesatuan dan persatuan. Umat Buddha Indonesia sendiri pada dasarnya sudah terlatih dalam memahami perbedaan yang juga terasah di masa kejayaan Majapahit.

Mengusung tema Waisak: “Harmoni dalam Kebhinnekaan untuk Bangsa”, Sangha Agung Indonesia mengajak untuk terus menciptakan kerukunan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama.

Berikut pesan Waisak 2562 EB/2018 dari Sangha Agung Indonesia yang ditandatangani oleh Y.M. Khemācaro Mahathera, Ketua Umum Sangha Agung Indonesia.

PESAN WAISAK 2562 BE 2018
SANGHA AGUNG INDONESIA

Namo Sanghyang Ādi Buddhaya
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammā Sambuddhassa
Namo Sabbe Bodhisattāya-Mahasattāya

Harmoni Dalam Kebhinnekaan Untuk Bangsa

Cahaya gemilang terpancar dari surga Tusita. Para Dewa dan brahma mengiringi kesadaran Makhluk Agung pergi memasuki rahim wanita mulia. Di Kapilavastu, Ia adalah calon Buddha, turun ke bumi untuk menjadi Buddha (M.iii.120).

Setelah sepuluh bulan dalam kandungan wanita luhur Dewi Mahamaya, Ia lahir sebagai Pangeran, bernama Sidharta Gotama. Di keheningan Lumbini, taman yang indah, saat purnama di bulan Vesakha tahun 623 SM, semesta menyambut dengan gegap gempita. Ia lahir di dunia ini, calon Buddha yang akan terus berjuang menyempurnakan kebajikan dalam merealisasi aspirasi Pencerahan Sempurna sejak empat asankhyeyya, seratus ribu kalpa yang lampau, dihadapan Sammasambuddha Dipankara. Tepat saat purnama bulan Vesakha tahun 588 SM di Bodhgaya, di bawah pohon Bodhi, pohon pencerahan, calon Buddha merealisasikan nirwana menjadi Sammasambuddha Gotama (M.i.249).

Selama empat puluh lima tahun, Ia berbagi pengetahuan untuk membuka kabut kebodohan batin para dewa maupun manusia. Mencerdaskan generasi dimasanya untuk bebas dari kelahiran di alam penuh penderitaan dan siklus kelahiran kembali agar merealisasi nirwana. Sesuai dengan hukum ketidak-kekalan yang diajarkannya, di usia 80 tahun, Ia wafat saat purnama di bulan Vesakha tahun 543 SM di Kusinara, di antara dua pohon Sala kembar (D.ii.156).

Saat ini, tepat purnama di bulan Vesakha 252 BE tahun 2018 seluruh umat Buddha di Indonesia bahkan dunia mengingat dan merefleksikan kembali keagungan serta keluhuran Dharma yang dibabarkan Sammasambuddha Gotama, Guru dewa dan manusia (M.i.37). Umat Buddha telah terlatih dalam memahami perbedaan pandangan saat berjalan menuju pembebasan. Sebelum kelahiran Indonesia, kecerdasan dan keluhuran budi juga terasah dimasa kejayaan agama Buddha. Kini, generasi buddhis Indonesia mewarisi nilai-nilai Dharma dengan memahami kebhinnekaan untuk menjaga bangsa dan keutuhan Negara Kesatuan republik Indonesia yang majemuk.

Bhinneka Tunggal Ika; Berbeda-beda, tetapi tetap satu (KS.139.5) sebuah kalimat dari seorang Guru Dharma dizaman Majapahit, yaitu Empu Tantular di abad ke empat belas. Semboyan ini masih terus menjadi kekuatan pemersatu dan harmoni dalam kebhinnekaan untuk bangsa. Sebagaimana kehadiran manusia Buddha di dunia adalah untuk kebaikan, kebahagiaan dan kesejahteraan dewa dan manusia (A.i.22) demikian halnya, kehadiran setiap individu yang mengenal Dharma hendaknya menjadi cahaya terang, menciptakan kebaikan untuk menjaga kebhinnekaan yang ada demi kesatuan dan persatuan. Sikap awal dalam menjaga keutuhan bangsa ini adalah memahami kemajemukan sebagai sebuah realitas kekayaan bangsa, yang dipersatukan oleh nilai-nilai kebangsaan yaitu, Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Harmoni dalam Kebhinnekaan untuk Bangsa,” ditetapkan Sangha Agung indonesia sebagai tema Waisak Nasional 2562 BE tahun 2108 bagi Keluarga Buddhayana Indonesia merupakan cerminan semangat dari pelopor kebangkitan agama Buddha indonesia, yaitu Mendiang Ashin Jinarakkhita, Mahathera. Beliau mengedepankanpandangan nonsektarian untuk dapat melihat secara objektif kebhinnekaan yang ada di indonesia; suku, agama, ras dan antar golongan. Mengajak untuk terus menciptakan kerukunan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama dengan senantiasa memiliki perbuatan, ucapan, pikiran yang berdasarkan cinta kasih; saling berbagi, tidak saling menyakiti, dan menghargai segala bentuk perbedaan (A.iii.288-289).

Semoga momentum Waisak 2562 BE tahun 2018 menguatkan kembali harmoni dalam kebhinnekaan seluruh masyarakat Indonesia untuk terus menjaga keutuhan bangsa, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selamat merayakan Waisak 2562 BE tahun 2018. Semoga dengan kekuatan Buddha, Dhamma dan Sangha para dewa memberkati Anda.

Jakarta, 29 Mei 2018

Mettacittena
Dewan Pimpinan Pusat Sangha Agung Indonesia

Ttd.

Khemācaro Mahathera

Ketua Umum


Demikian Pesan Waisak 2562 EB/2018 dari Sangha Agung Indonesia.[Bhagavant, 28/5/18, Sum]

Kata kunci: , , ,
Penulis: