Arkeologi » Tiongkok

Ditemukan Sutra yang Diduga Diterjemahkan Bhiksu Xuan Zang

Kamis, 22 Maret 2018

Bhagavant.com,
Xinjiang, Tiongkok – Para arkeolog Tiongkok menemukan sejumlah besar fragmen yang diduga sebagai salinan sutra hasil terjemahan langsung oleh Maha Bhiksu Xuan Zang.

Fragmen Mahaprajnaparamita Sutra yang diduga hasil terjemahan Maha Bhiksu Xuan Zang yang ditemukan di Gua Tuyugou, Xinjiang, Tiongkok.
Fragmen Mahaprajnaparamita Sutra yang diduga hasil terjemahan Maha Bhiksu Xuan Zang yang ditemukan di Gua Tuyugou, Xinjiang, Tiongkok. Foto: Courtesy of Xia Lidong

Setelah penggalian kedelapan terhadap Gua Tuyugou (Tuyugou Grotto) di Daerah Otonomi Xinjiang selesai pada bulan Januari tahun ini, para arkeolog dari Akademi Ilmu Sosial Tiongkok dan Akademisi Turfanika menemukan penemuan mengejutkan yang telah membantu menjelaskan sejarah dari Maha Bhiksu Xuan Zang (602-664) dari Dinasti Tang (618-907).

Penggalian tersebut menemukan sejumlah besar naskah Buddhis di selembar kertas berukuran sekitar 20 cm x 18 cm. Meskipun sebagian kertas telah rusak selama berabad-abad, sekitar 70 persennya masih utuh.

Setelah diidentifikasi cepat oleh para ahli, naskah ini segera diakui sebagai salinan dari Mahaprajnaparamita Sutra versi bahasa Tionghoa, sebuah sutra klasik yang ditulis sekitar abad ke-1 SM.

Yang lebih menarik, pada baris awal teks menunjukkan bahwa sutra itu diterjemahkan sendiri oleh Maha Bhiksu Xuan Zang atas perintah Kaisar Taizong (598-649).

Meskipun isi sutra mungkin terjemahan dari Maha Bhiksu Xuan Zang, namun tidak ada cara untuk menentukan apakah karakter tulisan pada lembaran tersebut telah ditulis olehnya sendiri.

“Tidak ada bukti yang membuktikan sutra khusus ini ditulis oleh Xuanzang,” jelas Xia Lidong, seorang profesor dari Akademi Ilmu Sosial Tiongkok, seperti yang dilansir Global Times, akhir bulan lalu (28/2/2018).

“Banyak tempat yang melakukan pekerjaan penerjemahan dan banyak orang dipekerjakan untuk membuat salinan sutra di Chang’an dan Liangzhou [Provinsi Gansu di Barat Laut Tiongkok]. Mungkin sutra ini adalah salinan yang ditulis oleh salah satu staf di sebuah pusat penerjemahan.”

Selain Mahaprajnaparamita Sutra, lebih dari 150 potongan kertas bersama dengan sutra juga digali di lokasi tersebut.

Gua Tuyugou di Xinjiang.
Gua Tuyugou di Xinjiang. Foto bjreview.com.cn

Menurut Xia, sutra tersebut pasti ditulis oleh para profesional karena karakter tulisannya ditulis dengan hati-hati dan indah.

Penemuan penting lainnya adalah sistem gua yang ada di bagian tenggara Gua Tuyugou.

Sisa-sisa vihara tua yaitu Vihara Ding Gu, ditemuka di dua gua. Selain sisa-sisa dinding kapur yang ditutupi, lebih banyak lagi fragmen sutra ditemukan dengan tulisan dalam bahasa Tionghoa dan Uyghur bersama dengan koin Uyghur, tekstil, bahan bangunan kayu dan beberapa teks non-agama.

Di antara semua teks ini, sebuah surat perjanjian menarik perhatian para arkeolog karena mencatat tagihan dan transaksi antara Vihara Ding Gu dan vihara-vihara lainnya. Teks ini menjadi referensi besar bagi para sarjana yang mempelajari ekonomi periode waktu.

“Perjanjian itu tidak hanya mendaftar Vihara Ding Gu,” kata Xia.

“Anda bisa melihat juga nama-nama dari vihara-vihara lain, dan mereka semua terhubung ke Vihara Ding Gu.”

Xia juga menjelaskan bahwa penemuan baru itu membantu menunjukkan hubungan yang ada antara Dinasti Tang dan wilayah barat.

“Kami dapat belajar banyak dari penemuan baru ini,” kata Xia.

“Semua peninggalan yang digali ini memberikan jendela yang memungkinkan kita untuk melihat bagaimana sikap terhadap Agama Buddha berubah di daerah tersebut. Ditambah lagi, hal itu memberi kita kerangka kerja untuk studi lebih lanjut tentang gua-gua tersebut.”[Bhagavant, 22/3/18, Sum]

Kata kunci:
Penulis: