Arkeologi » Bangladesh

Vikrampura, Ibu Kota Kelahiran Bhiksu Atisa Ditemukan

Senin, 22 Januari 2018

Bhagavant.com,
Dhaka, Bangladesh – Sebuah tim arkeolog dari Tiongkok dan Bangladesh pada 3 Januari 2018 mengumumkan hasil penggalian selama 4 tahun terhadap reruntuhan Vikrampura (Vikrampur/Bikrampur) di Bangladesh, dalam sebuah forum arkeologi khusus.

Situs Vikrampura (Vikrampur, Bikrampur) ibu kota kuno di Distrik Munshiganj, Bangladesh , tempat lahirnya Bhiksu Atisa.
Situs Vikrampura (Vikrampur, Bikrampur) ibu kota kuno di Distrik Munshiganj, Bangladesh , tempat lahirnya Bhiksu Atisa. Foto: thedailystar.

Terletak di Distrik Munshiganj, dekat ibu kota Bangladesh, Dhaka, penggalian tersebut memberikan beberapa petunjuk berharga tentang sejarah Y.M. Bhiksu Atisa (Atīśa Dīpaṃkara Śrījñāna), seorang Guru Buddhis yang terkenal, yang menurut catatan sejarah Tibet lahir di daerah tersebut.

Situs penggalian tersebut diyakini sebagai sisa-sisa kota kuno Vikrampura, sebuah pusat Buddhis utama yang merupakan ibu kota beberapa dinasti, yaitu Dinasti Chandra (900-1050), Varman (1080-1150) dan Sena (1100-1230).

Signifikansi sejarah

Penggalian tersebut tidak hanya penting untuk penemuan terkait sejarahnya, tapi juga berarti untuk hubungan antara Tiongkok dan Bangladesh.

“Ini menandakan pertama kalinya Tiongkok berkolaborasi dengan sebuah negara di benua India pada penggalian arkeologi,” kata Guo Weimin, direktur Institut Peninggalan Budaya dan Arkeologi Provinsi Hunan, seperti yang dilansir Global Times, Selasa pekan lalu (16/1/2018).

“Penggalian ini diprakarsai oleh Yayasan Agrashar Vikrampur di Bangladesh pada tahun 2013. Mereka pertama kali memulai dengan menjelajahi area seluas 344 meter persegi di desa Nateshwar di Munshiganj.

Tampak atas dari situs Vikrampura di Distrik Munshiganj, Bangladesh
Tampak atas dari situs Vikrampura di Distrik Munshiganj, Bangladesh. Foto: .globaltimes.cn

“Kemudian, Kementerian Luar Negeri di Bangladesh, sponsor lain dari proyek tersebut, meminta kedutaan besar Tiongkok di Bangladesh untuk bantuan finansial dan teknis. Segera setelah itu, Institut Peninggalan Budaya dan Arkeologi Provinsi Hunan diminta untuk ikut serta dalam penggalian tersebut,” kata Guo, menjelaskan bagaimana kerja sama tersebut dimulai.

“Yang paling penting adalah penggalian dua reruntuhan bangunan, satu halaman stupa dan satu vihara yang berasal dari sekitar tahun 780 sampai 950,” kata Guo.

Melalui simbol-simbol yang ditemukan di lokasi, para ahli telah menentukan bahwa kedua kompleks bangunan ini terkait dengan Atisa.

“Dari abad ketujuh sampai kesembilan, ketika anak benua India berada dalam kejayaannya, tempat ini adalah ibu kota India Timur. Di sinilah Atisa memulai usahanya sebelum pergi ke Tibet dan menjadi leluhur tradisi Kadam dalam Agama Budddha di Tibet,” Guo menjelaskan.

Menurut Chai Huanbo, kepala tim gabungan Tiongkok dan seorang peneliti dalam Institut Arkeologi Hunan, reruntuhan ini juga penting karena alasan lain, yaitu merupakan bagian dari salah satu kompleks Buddhis terakhir di benua India yang dihancurkan setelah Islam menjadi agama yang dominan di daerah ini dari abad ke-13 sampai abad ke-16.

“Pada tahun 1204, Jenderal Turki Ikhtiaruddin Mohammad Bakhtiar Khalji mengalahkan Lakshmana Sena (penguasa Dinasti Sena). Ia kemudian memulai masa pemerintahannya di tahun berikutnya. Ketika tentara Muslimnya menyerang Vikrampur pada tahun 1223, hampir semua vihara dihancurkan untuk diberikan batu bata dan tiang untuk masjid.”[Bhagavant, 22/1/18, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: