Amerika Serikat » Tokoh

Perkenalkan Ini Kapelan Buddhis Pertama di Angkatan Udara AS

Jumat, 29 Desember 2017

Bhagavant.com,
Colorado, Amerika Serikat – Siapa sangka, Letnan Satu Angkatan Bersenjata Amerika Serikat ini adalah kapelan Buddhis pertama di Angkatan Udara Amerika Serikat.

Letnan Satu Brett Campbell , kapelan Buddhis pertama di Angkatan Udara Amerika Serikat.
Letnan Satu Brett Campbell, kapelan Buddhis pertama di Angkatan Udara Amerika Serikat. Foto: Naropa – A1C Holden Faul.

Letnan Satu Brett Campbell anggota 460th Space Wing, Pangkalan Angkatan Udara Buckley, Colorado, menjadi salah satu kapelan terbaru Angkatan Udara saat lulus sekolah kapelan pada akhir September lalu. Dan ia menjadi kapelan Buddhis pertama dan satu-satunya di Angkatan Udara AS.

Kapelan sendiri adalah agamawan yang bertugas untuk kelompok khusus seperti di universitas, tentara, dan penjara. Istilah ini berasal dari istilah dalam Kekristenan, namun kini di dunia Barat istilah ini mengacu pada semua agamawan dari semua agama.

Brett yang merupakan warga asli Iowa dan dibesarkan secara Katolik, menemukan meditasi dan diperkenalkan kepada Agama Buddha saat di Universitas Negeri Iowa. Ia tertarik dengan Agama Buddha karena Agama BUddha lebih dari sekadar filsafat hidup dan Brett merasa frustrasi dengan budaya dan sistem gereja arus utama yang sangat rentan terhadap korupsi.

Setelah lulus, Brett bergabung dengan Pasukan Perdamaian dan bertugas di Mongolia di mana dia mengatakan bahwa dia mulai mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Buddhis tradisi Tibet.

Setelah kembali ke AS, ia mulai sekolah pascasarjana di Universitas Naropa, sebuah universitas berbasis ajaran Buddhis di Boulder, Colorado, dan terus memperdalam keyakinan barunya. Ia mendapatkan gelar master of divinity pada tahun 2013 dan juga diwisuda sebagai upasaka Buddhis, oleh guru Buddhis terkenal Rinpoche Dzogchen Ponlop.

Brett ingin melayani sebagai seorang kapelan, terutama di militer. Ia mulai mengejar program kapelan baik di Angkatan Laut dan Angkatan Udara dan mengisi tahun-tahun rintangannya dengan melayani dalam peran agama dan pengajaran di beberapa rumah sakit yang berbeda, termasuk rumah sakit Veteran Denver, tempat ia mengajar kelas meditasi dan cinta kasih di bangsal PTSD dengan rekan sesama Buddhisnya, Steve Burden.

Lettu. Brett Campbell saat memberi ceramah tentang kesadaran penuh di kapel Buckley.
Lettu. Brett Campbell saat memberi ceramah tentang kesadaran penuh di kapel Buckley. Foto: Naropa.edu – Amn Jake Deatherage

“Saya benar-benar terkesan dengan Brett,” kata Burden, seperti yang dilansir situs Komando Komponen Cadangan Angkatan Udara AS. “Ia memiliki empati, kasih sayang, dan kemampuan untuk menjangkau orang-orang yang lebih muda.”

Selama masa ini, Brett mendaftar dan diterima dalam program calon kapelan Angkatan Udara AS.

“Saya sebenarnya kapelan Budhis pertama di seluruh Angkatan Udara,” kata Brett seperti yang dilansir Majalah Naropa edisi musim gugur 2017.

Diakui olehnya, posisinya sebagai kapelan Buddhis adalah hal yang sulit untuk dijalani, tapi Brett mengalami perkembangan, begitu juga rekan-rekannya sesama penerbang berkat nasihat dan kepemimpinannya yang damai.

Menjawab pertanyaan mengenai kontradiksi besar antara Agama Buddha dan pembawaan militer, ia menjelaskan, “Ini pertanyaan bagus – dan yang harus saya hadapi pada masa lalu. Pertama, saya harus menunjukkan bahwa sebagai seorang kapelan di militer, saya bukan seorang petarung.”

“Saya tidak bisa membawa senjata sama sekali, tidak pernah. Faktanya, jika saya terlihat membawa senjata, saya bisa dikeluarkan dari dinas. Itu bagian dari Konvensi Jenewa.”

Fakta bahwa sebenarnya kemiliteran bukan hanya mengenai pertempuran menjawab kontradiksi tersebut. Kemiliteran tentu saja juga menyokong masyarakat setempat dalam kapasitas lainnya, mulai dari bantuan dan penyelamatan darurat hingga rekonstruksi.

Sebagai seorang Buddhis, Brett berada di militer karena ia secara khusus berkomitmen untuk membantu meringankan penderitaan, seperti juga semua umat Buddhis.

“Saya mendukung misi Angkatan Udara dengan membantu para penerbang tetap tabah secara spiritual. Jika itu berarti saya membawa karma negatif ke arah saya, maka biarlah,” katanya.

“Dengan senang hati saya akan menerima hutang karma tersebut atas kesempatan membantu para penerbang ini tetap sehat secara spiritual dan psikologis.”

“Tujuan saya adalah untuk menjaga agar penerbang tetap sehat sehingga Angkatan Udara sebagai sistem berfungsi pada tingkat yang lebih sehat, yang pada gilirannya dapat meringankan penderitaan di sekitar,” jelasnya. “Jadi, ketika mereka meninggalkan militer, mereka dapat berfungsi secara positif di masyarakat dan juga bahagia dan sehat secara pribadi.”

“Jelas, sebagai seorang praktisi Buddhis, saya harus memilih profesi saya dengan bijak,” kata Brett. “Tapi saya tidak akan menolak mendukung siapa pun, bahkan jika tindakan orang tersebut menyebabkan penderitaan.”

Sebagian besar waktu Brett difokuskan pada konseling- konseling empat mata, konseling pasangan, dan banyak lagi – tapi ia selalu merasakan bahwa ia dapat menerapkan konsep Buddhis sesuai kebutuhan pasiennya.

Seperti yang bisa diduga, sulit untuk secara akurat memikirkan bagaimana menggunakan gagasan itu secara konsisten, dalam bahasa yang sesuai dengan lingkungan militer, tapi hal itu adalah tantangan yang ia rencanakan untuk ditangani terus-menerus, selama ia terus melakukan pekerjaannya sebagai kapelan Buddhis.

Dalam delapan minggu pertamanya bertugas di Pangkalan Angkatan Udara Buckley di Aurora, sebagai kapelan Buddhis, Brett telah mengadakan sesi kunjungan pada hari Senin, Rabu, dan Jumat benar-benar secara sukarela dan terbuka untuk semua anggota. Ia juga memulai pertemuan Buddhis mingguan yang berpusat pada meditasi, diskusi dharma, dan diskusi tentang konsep Buddhis.

“Sesi kunjungan adalah semacam kursus ‘kesadaran penuh untuk mengurangi stres’,” katanya. “Selama satu jam yang bisa dilakukan saat makan siang. Ini adalah usaha pertama saya untuk merasakan apa yang pahami orang-orang di lingkungan ini tentang kesadaran penuh.”

Sejauh ini, kelas tersebut telah diikuti dengan cukup baik, meskipun ia mengakui bahwa sulit menemukan orang-orang yang bersedia melewatkan makan siang untuk bermeditasi, atau untuk bersantai.

“Pada akhirnya, tujuan saya adalah mengembangkan program empat atau lima minggu yang benar-benar dapat saya bawa ke semua unit dan mengajarikan mereka di mana mereka berada, alih-alih membuat mereka datang kepada saya.”

Baru-baru ini, ia mengundang salah satu temannya – juga seorang lulusan Naropa yang juga seorang bhiksu Tibet – untuk datang ke Buckley dan mengajar. Ia terbang dari Tibet dan mengajar di salah satu pertemuan kelompok Buddhis.

“Itu sangat keren. Kami tentu saja mendapatkan kerumunan yang lebih besar untuk kelas itu,” katanya. Brett juga berkeinginan mengundang para guru dari berbagai tradisi Buddhis untuk datang dan mengenalkan gaya khas Agama Buddha mereka. Dengan begitu, mungkin orang bisa merasakan semua jenis Agama Buddha, dan menemukan sesuatu yang mungkin lebih mudah diterapkan.

Brett mengatakan bahwa pengalamannya di Universitas Naropa telah mengajarinya untuk menyadari cara kerja batin dirinya, bagaimana ia berhubungan dengan dunia, dan tentang gagasan dari kebaikan dasar pada setiap orang.

“Semakin saya menerapkan gagasan itu dalam kehidupan sehari-hari saya, dan semakin dalam pemahaman saya tentang diri mereka, semakin saya menyadari bahwa saya harus mendekati dunia ini dari tempat belas kasih yang sejati, dengan keyakinan yang mendalam akan kebaikan mendasar tersebut.”[Bhagavant, 29/12/17, Sum]

Kata kunci:
Penulis: