Amerika » Amerika Serikat » Tokoh

Kisah Kapelan Buddhis yang Melayani di Kemiliteran AS

Senin, 7 Agustus 2017

Bhagavant.com,
Texas, Amerika Serikat – Jika Anda berpikir tidak ada umat Buddhis yang berperan dalam kemiliteran di Amerika Serikat, maka Anda perlu mempertimbangkannya kembali setelah membaca kisah ini.

Kapten Christopher Mohr , salah satu kapelan Buddhis yang melayani sebagai kapelan batalion untuk Batalion Polisi Militer Ke-93 di Fort Bliss, Texas. Foto: www.army.mil

Kisah yang dilansir situs web Angkatan Darat Amerika Serikat pada Jumat (4/8/2017), menceritakan sekelumit tentang seorang kapelan Buddhis yang mengabdi di Pasukan Angkatan Darat Amerika Serikat.

Kapelan (Inggris: chaplain) sendiri adalah agamawan yang bertugas untuk kelompok khusus seperti pada universitas, tentara, penjara. Istilah ini berasal dari istilah dalam Kekristenan, namun kini di dunia Barat istilah ini mengacu pada semua agamawan dari semua agama.

Kapten Christopher Mohr (36), salah satu kapelan Buddhis yang melayani sebagai kapelan batalion untuk Batalion Polisi Militer Ke-93 di Fort Bliss, Texas, baru saja menempati posisinya tersebut pada bulan Juli lalu.

Ia adalah satu dari tiga kapelan Buddhis yang aktif bertugas di Angkatan Darat, namun yang lebih penting, katanya, ia adalah satu dari sekitar total 3.000 kapelan yang ada di dalam Angkatan Darat.

Mohr mengatakan bahwa ia merasa terpanggil ke Angkatan Darat untuk melayani dan menolong para prajurit dari semua agama. Ia mengatakan bahwa panggilan pertamanya tersebut masih mengarahkan dirinya lepas dari keyakinan atau denominasi tertentu.

Tahun lalu, seorang prajurit Kristen yang taat pernah ditempatkan di Kuwait mengetuk pintu kantor Mohr dan masuk dalam keheningan. Prajurit itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mohr bisa melihat bahwa prajurit itu letih secara emosional dan terlalu galau untuk berbicara.

Tiba-tiba, Prajurit itu mulai menangis histeris dan menceritakan tragedi yang menimpa orang yang penting dalam dirinya. Mohr hanya mendengarkan dengan tenang dan membiarkan kegalauan prajurit tersebut keluar. Prajurit itu sangat marah dan merasa bersalah karena ia tidak berada di rumah untuk melindungi seseorang yang ia sayangi.

Setelah beberapa sesi dalam beberapa minggu ke depan, Mohr membantu prajurit tersebut berdamai dengan dirinya sendiri.

Di antara tantangan yang dijumpai Mohr di pos barunya adalah mengenal pola pikir polisi militer sambil memahami misi yang sangat berbeda yang dimiliki oleh polisi militer, dibandingkan dengan unit AD gabungan yang ditugaskan kepadanya di tempat ia bertugas sebagai kapelan batalion untuk Batalion Ke-2, Resimen Lapis Baja Ke-70 di Fort Riley, Kansas.

“Di Fort Riley, saya mengenal 30 prajurit Buddhis,” kata Mohr. “Dengan populasi yang agak tinggi di Fort Bliss, saya kemungkinan akan memiliki lebih banyak prajurit Buddhis untuk dilayani.”

Mohr mengatakan di Fort Riley, ia menyelenggarakan pelayanan Buddhis untuk jumlah umat yang sangat kecil setiap minggu, atau sesering mungkin saat berada di lapangan.

“Saya menyambut siapa pun yang ingin menghadiri kebaktian saya bahkan jika itu hanya karena keingintahuan. Tugas saya adalah memberikan dukungan religius kepada siapa pun yang bertanya.”

Mohr menerima sebuah komisi langsung ke Angkatan Darat delapan tahun yang lalu untuk melayani sebagai kapelan Buddhis karena ia melihat kebutuhan spiritual yang ia rasa mampu ia penuhi.

Berbagai fungsi seremonial komando atas permintaan telah ia lakukan, seperti melakukan puja dan pemberkatan pada pertukaran komando dan pada pertemuan makan siang.

Ia juga melayani para prajurit tanpa memperdulikan perbedaan keyakinan termasuk menyediakan prajurit Yahudi dengan Makanan Kosher (jenis makanan sesuai hukum Yahudi) yang siap dimakan selama pelatihan lapangan dari pasukan unitnya baru-baru ini. Mohr berkoordinasi dengan petugas pasokan untuk memastikan makanan tersebut tersedia selama pelatihan.

Salah satu penghargaan terhebat Mohr sejauh ini terjadi beberapa tahun yang lalu ketika Garda Nasional Angkatan Darat California memintanya untuk melakukan pemakaman militer untuk seorang prajurit Buddhis. Keluarga mendiang prajurit tersebut, yang juga beragama Buddha, secara khusus meminta agar kapelan Buddhis melakukan pelayanan ini.

Mohr mengatakan ia melakukan pelayanan di pos untuk hari-hari besar utama Buddhis utama seperti Vesak dan Ullambana.

Hingga kini ia telah melayani kebutuhan spiritual sekitar 150 prajurit Buddhis sejak ia ditugaskan pada tahun 2009. Ia telah memberikan dukungan spiritual dan kenyamanan kepada para prajurit yang terluka sesering yang diperlukan, dan tahun ini saja, ia telah membantu sembilan tentara dalam kasus bunuh diri dengan menyelesaikan masalah yang membawa mereka ke tempat tergelap mereka.

Ketika kebanyakan prajurit non-Buddhis bertemu dengannya untuk pertama kalinya, Mohr mengatakan bahwa mereka seringkali curiga dan penasaran. “Hal itu biasanya berubah cukup cepat menjadi sebuah tempat kepercayaan dan keterbukaan begitu mereka menyadari bahwa saya adalah seorang prajurit dan di sini untuk membantu mereka jika mereka membutuhkannya.”

Mohr mengatakan bahwa, ciri khas semua kapelan, sebagian besar waktunya dipenuhi dengan gabungan antara pertemuan staf, keterampilan pelayanan, hadir di mana para prajurit berlatih atau bekerja dan menangani suatu keprihatinan atau masalah yang mereka sampaikan, serta bimbingan spiritual atau sesi konseling saat permasalahan prajurit diberi perhatian penuh dalam pengaturan yang lebih formal.

“Namun, Anda tidak pernah tahu kapan permintaan bantuan dari para prajurit atau sepasang prajurit Angkatan Darat yang ingin merencanakan pernikahan mereka akan didahulukan dan menggeser keseluruhan rencana untuk hari itu,” Mohr menjelaskan.

Ibu Mohr yang beragama Katolik mendorongnya untuk mengekslporasi mengeksplorasi agama, kepercayaan, keyakinan, dan identitas spiritualnya.

“Saya menerima keyakinan Buddhis setelah diundang untuk mengunjungi vihara utama dari ordo religius kecil dari Buddhisme tradisi Shingon,” kata Mohr yang secara formal menjadi Buddhis pada usia 22 tahun.

“Tradisi ini berfokus pada penerapan Agama Bdudha dalam kehidupan kita sehari-hari dan berfokus pada penyediaan layanan pelayanan altruistik (suka rela) untuk membangun kerukunan di dalam masyarakat tempat kita tinggal. Model ini sesuai dengan kecenderungan religius saya. Hal ini masuk akal bagi saya ketika saya melihat rangkulan mereka terhadap lingkungan yang lintas agama,” jelas Mohr mengenai tradisi utama Agama Buddha Vajrayana yang berkembang di Jepang.

Kapten Christopher Mohr (kanan) membawa rupaka Buddha duduk di atas Naga Mucalinda. Foto: www.army.mil

Meskipun memiliki dasar keyakinan Agama Buddha, Mohr mengatakan bahwa ia menempatkan “penekanan yang kuat pada fungsi di dalam lingkungan lintas agama, dan pendidikan, penyatuan dan sokongannya juga mendorong hal tersebut”

“Saya merasa betah bekerja dengan beragam keyakinan, praktik keyakinan, dan komunitas,” katanya.

Roxanne Martinez, direktur pendidikan agama di Fort Riley, Kansas, mengatakan, “Kapelan adalah orang-orang luar biasa yang melayani para prajurit, tanggungan, warga sipil DoD (Department of Defense – Departemen Pertahanan) dan pensiunan, namun suatu saat Anda bertemu dengan seorang kapelan yang mewakili, tidak hanya nilai-nilai Angkatan Darat seperti menghargai, kehormatan, integritas dan pelayanan tanpa pamrih, tetapi juga nilai dan karakteristik dari keyakinan religius mereka.”

“Sebagai kapelan Buddhis, ia (Mohr) mewujudkan kualitas Agama Buddha: cinta kasih, belas kasih, empati kebahagiaan (mudita), dan keseimbangan batin, serta kemurahan hati, cinta dan kebijaksanaan. Pembicaraan dan ajarannya tentang Agama Buddha merupakan pembicaraan yang dapat direnungkan oleh bahwa orang-orang dari semua keyakinan dalam kehidupan keseharian mereka.”

Martinez mengatakan bahwa sebagai direktur pendidikan agama di Angkatan Darat, ia dengan senang hati mendukung Mohr dalam pelayanannya untuk komunitas Buddhis.

Mohr memiliki afinitas khusus untuk “kapal tanker dan infanteri” yang dia katakan adalah beberapa manusia paling setia dan layak yang pernah dia temui.

Salah satu ajaran inti Agama Buddha, kata Mohr, adalah melatih keseimbangan batin atau ketenangan mental, penguasaan diri, dan ketidakberpihakan kepada kemarahan, terutama dalam situasi yang sulit.

“Dalam Agama Buddha, ini berarti tetap di tengah-tengah apa pun yang terjadi, tapi ini juga berarti bahwa seseorang harus melatih belas kasih yang tenang saat bekerja dengan orang-orang dari semua agama.”

Mohr berharap suatu hari nanti bisa melayani baik sebagai kapelan brigade maupun kapelan sebuah keluarga.

Pada tahun 1990, Angkatan Darat Amerika Serikat memutuskan untuk membuat lencana untuk para kapelan Buddhis. Dewan Kapelan Angaktan Bersenjata Amerika Serikat bersama dengan Institut Angkatan Darat Heraldry merancang lencana tersebut. Rancangan lencana selesai pada Agustus 1990 dengan menggambarkan Roda Dhamma (Skt: Dharmacakra) yang hingga kini digunakan para kapelan Buddhis.[Bhagavant, 7/8/17, Sum]

Kata kunci:
Penulis: