India » Sosial

Dalit Gujarat Memeluk Agama Buddha Bertambah Tiga Kali Lipat

Kamis, 13 Juli 2017

Bhagavant.com,
Gujarat, India – Sekitar 1.500 hingga 1.600 kaum Dalit di Gujarat, India, memeluk Agama Buddha. Jumlah ini bertambah tiga kali lipat dari sebelumnya 400-500 orang per tahunnya, kata ketua Buddhist Society of India.

Kaum Dalit beralih keyakinan memeluk Agama Buddha di Kalol, Gandhinagar, Gujarat, India.
Kaum Dalit beralih keyakinan memeluk Agama Buddha di Kalol, Gandhinagar, Gujarat, India. Foto: the Indian Express

Bertambahnya jumlah kaum Dalit yang memeluk Agama Buddha di Gujarat dimulai sejak tahun lalu dan diduga terkait dengan insiden Una yang terjadi pada 10-11 Juli 2016, terjadi saat empat orang kaum Dalit tewas dianiaya di Kota Una karena dituduh membunuh dan menguliti seekor sapi. Berdasarkan penyelidikan polisi diketahui sapi tersebut ternyata telah mati diterkam singa sebelum dikuliti.

Ketua Buddhist Society of India, PG Jyotikar, yang merupakan salah seorang Dalit pertama yang beralih keyakinan memeluk Agama Buddha di Gujarat, mengatakan sekitar 1.500-1.600 Dalit telah memeluk Agama Budha di negara bagian tersebut sejak insiden Una, dan hampir 500 dari mereka pergi ke Nagpur untuk beralih keyakinan. Ia menambahkan, sebelum insiden Una, ada 400-500 orang beralih keyakinan per tahun di Gujarat.

Seperti yang dilansir The Indian Espress, Selasa (11/7/2017), di daerah Manjipura, Nadiad di Distrik Kheda, tahun lalu, Suresh Maheriya (56) dan beberapa keluarga menjadi yang pertama beralih keyakinan memeluk Agama Buddha di daerah tersebut sejak insiden Una.

Maheriya, yang kini bernama ‘Samyak Bauddh’, adalah Asisten Kesejahteraan Sosial bersama pemerintah kabupaten Anand. Duduk di bawah poster Dr. Ambedkar dan Sri Buddha, ia berbicara tentang bagaimana meskipun menjadi pelayan pemerintah, ia tidak dapat melepaskan diri dari “pola pikir diskriminasi”, dan bagaimana ia tidak terkejut dengan sikap kaum Dalit yang benar-benar mengambil langkah untuk beralih keyakinan setelah merenungkan diri.

“Secara batin saya telah menjadi Buddhis dan meninggalkan Hinduisme bertahun-tahun yang lalu. Tapi beralih keyakinan yang resmi hanya terjadi pada bulan Oktober yang lalu, ketika seluruh keluarga saya, termasuk menantu perempuan saya, beralih keyakinan di sebuah shibir (kamp) di Nagpur, “kata Maheriya.

“Kami menemukan kedamaian dalam Agama Bdudha, di mana setiap orang sama. Tidak ada dewa di sini yang membawa senjata, yang merupakan pertanda perang dan kehancuran. Buddhisme hanya mengajarkan kedamaian dan kasih sayang. Ini memberi Anda kepuasan dalam diri bahwa Anda tidak lagi dipandang rendah oleh orang-orang yang pola pikirnya tercemar saat mereka menggunakan sistem kasta.”

Kantibhai Makwana, seorang warga dari Desa Dharmaj, Distrik Anand, mengatakan tiga anaknya, yang termuda 16 tahun, menginspirasinya untuk mengambil langkah, dan ia berharap ini akan “membebaskan” dia dari “cengkeraman sistem kasta Hindu yang menyiksa”.

“Kami telah menjadi umat Hindu sepanjang hidup kami tapi kami tidak pernah ditangani sebagai umat Hindu. Orang-orang memanggil kita Dalit, Shudra dan kata-kata penghinaan lainnya. Dalam agama lain seperti Agama Buddha, Kristen atau Islam, tidak ada sistem kasta. Orang tidak membaca nama keluarga Anda dan menandai Anda pada kasta tertentu.” kata Makwana

“Jadi saya memutuskan untuk membebaskan diri dari penghinaan sehari-hari dengan berjalan di jalan yang telah ditunjukkan oleh Dr. Babasaheb Ambedkar kepada kami. Kami telah mengikuti ajaran Babasaheb dan Buddha selama bertahun-tahun, namun setelah insiden Una, kami memutuskan bahwa inilah saatnya untuk memeluk cara hidup Buddhis,” jelasnya.

Teman dekat Maheriya, Narendrakumar Nakum, mantan manajer sebuah bank yang dinasionalisasi, mengatakan bahwa ia telah berpikir panjang dan keras saat ia memutuskan untuk beralih keyakinan pada waktu yang lalu, dia menghabiskan bertahun-tahun mempelajari ajaran Agama Buddha.

“Meskipun orang telah menunjukkan rasa hormat yang besar terhadap saya selama karir saya sebagai manajer bank, saya masih memiliki teman yang canggung berbagi secangkir teh bersama saya. Ada rekan terpelajar yang telah meminta saya untuk menulis ‘Harijan‘ di samping nama keluarga saya dalam tanda kurung selama karir saya. Hal-hal ini menimbulkan luka yang sangat besar,” tambah Nakum. Harijan sendiri merupakan istilah yang dipopulerkan oleh Mahatma Gandhi yang mengacu pada kaum Dalit.

Namun, “Saya ingin memastikan bahwa saya mengetahui keyakinan tersebut sebelum saya beralih keyakinan”, katanya mengakui.

Akhirnya, September ini, dia akan meninggalkan Hinduisme. “Saya berumur 67 tahun,” kata Nakum. “Jika pada usia ini, saya ingin beralih ke Agama Buddha, pastilah ada yang benar-benar salah dengan sistem kasta Hindu ini.”

Ramesh Banker, sekretaris Akademi Buddhis Gujarat, mengungkapkan ketidaksetujuannya jika beralih keyakinan “dilakukan sebagai ungkapan amarah”. “Saya pikir orang-orang harus memutuskan dengan tenang. Hanya dengan begitu, itu memenuhi tujuannya.”[Bhagavant, 13/7/17, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: