Bangladesh » Sosial

Ratusan Rumah Warga Etnis dan Agama Minoritas di Rangamati, Bangladesh Dibakar

Senin, 12 Juni 2017

Bhagavant.com,
Chittagong, Bangladesh – Kekerasan terhadap etnis dan agama minoritas di Bangladesh masih terjadi. Kini ratusan rumah warga etnis dan agama minoritas Hindu dan Buddha di Upazila Langadu, Distrik Rangamati, Jalur Bukit Chittagong, dibakar oleh massa .

Puing-puing rumah warga etnis minoritas setelah sebuah serangan pembakaran terjadi di di Upazila Langadu, Distrik Rangamati, pada 2 pekan lalu, Jumat (2/6/2017).
Puing-puing rumah warga etnis minoritas setelah sebuah serangan pembakaran terjadi di di Upazila Langadu, Distrik Rangamati, pada 2 pekan lalu, Jumat (2/6/2017). Foto: dhakatribune.com

Sebuah serangan terorganisir terhadap rumah-rumah etnis dan agama minoritas yang merupakan masyarakat adat, terjadi di Upazila Langadu, Distrik Rangamati, pada 2 pekan lalu, Jumat (2/6/2017). Dalam dua jam, kehidupan keluarga masyarakat adat tersebut hancur.

Seperti yang dilansir Dhaka Tribune, Minggu (11/6/2017), kelompok yang terdiri dari warga etnis Banggala (Bengali) bersenjata bergerak dengan niat buruk dan peralatan memulai kebakaran yang menyebar ke seluruh daerah tersebut. Semua rumah etnis minoritas hancur, tapi tidak ada satu rumah warga etnis Bangali yang tersentuh.

Serangan kilat di Desa Batiyapara dan Tintila tersebut memaksa warga untuk mengungsi dengan pakaian di punggung mereka. Warga Desa Tintila tidak asing dengan kekacauan seperti itu. Pada tanggal 4 Mei 1989, 36 orang warga adat ditembak dan dipenggal sampai mati dalam serangan serupa dari warga Banggala yang mayoritas beragama Islam.

Tapi kali ini, warga desa melarikan diri begitu mereka merasakan gerombolan para penyerang mendekat. Hanya segelintir pria yang tinggal di belakang, mengevakuasi rumah demi rumah, menjaga wanita, anak-anak dan orang tua ke daerah yang lebih aman di lokasi berbukit dan hutan terpencil. Setelah evakuasi selesai para pria itu ikut mengevakuasi diri.

Hanya di Desa Manikjorchara para warganya memutuskan untuk tetap tinggal. Tapi perlawanan tersebut hanya bertahan untuk sementara.

Peran aparat penegak hukum selama serangan tersebut tetap menjadi misteri. Hanya dalam satu hari pada Jumat sore, 224 rumah, kantor dan toko milik masyarakat adat benar-benar hancur.

Peristiwa ini terjadi diawali dengan kematian seorang sekretaris organisasi Liga Jubo (organisasi sayap dari Partai Liga Awami Bangladesh) di daerah tersebut pada Kamis (1/6/2017). Diduga kematiannya karena motif perampokan sepeda motor. Dan pelaku pembunuhan yang terdiri dari dua tersebut diamankan oleh polisi, pada Sabtu (10/6/2017).

Kematian sekretaris tersebut diikuti dengan penyebaran foto-foto tubuhnya di Facebook. Hasutan-hasutan dan rumor mulai menyebar pada Jumat. Warga adat mulai takut akan serangan komunal yang akan terjadi mengenai masalah ini.

Di Desa Manikjorchara, para warga adat sempat berhadapan dengan para penyerang yang berjumlah ratusan orang.

“Di Manikjorchhaara, warga adat dan warga Banggala berdiri di pekarangan mereka. Ada 200-300 Banggala dengan senjata setempat. Kebanyakan dari mereka masih muda, berusia antara 17-20 tahun,” kata Tofajjal Hossain seorang pemimpin Partai Nasional Bangaldesh setempat seperti yang dilansir Dhaja Tribune, Minggu (11/6/2017).

Warga adat melarikan diri dari desa mereka meninggalkan rumah mereka di belakang yang dibakar oleh massa Benggala, 2 Juni 2017.
Warga adat melarikan diri dari desa mereka meninggalkan rumah mereka di belakang yang dibakar oleh massa Benggala, 2 Juni 2017. Foto: dhakatribune.com, Facebook

Penyerangan terhadap warga adat Desa Manikjorchara sempat tertahan dengan kehadiran tentara, polisi dan perwakilan warga setempat, namun pembakaran sebanyak 88 rumah tidak dapat dihindari.

Warga desa meyakini bahwa jika tentara tidak membubarkan mereka saat mereka berkumpul untuk mengusir serangan tersebut, maka rumah mereka mungkin bisa diselamatkan.

Kalaron Chakma, kepala desa tersebut, mengatakan dua kelompok perusuh memasuki desa tersebut dari arah yang berlawanan.

“Kami bisa saja berjuang kalau tentara tidak mengikuti mereka. Orang-orang kami siap untuk mennghadapi orang-orang yang membakar rumah kami. Tapi kami harus pergi. Mereka menunggu untuk membakar saat kami berjalan pergi. Tidak butuh waktu lama, kami kembali dan melihat lidah api berkedip-kedip di langit, diberi makan oleh rumah dan mata pencaharian kami,” katanya.

Warga setempat mengatakan bahwa penyerang tidak melanjutkan tindakanya ketika mereka melihat warga setempat bertahan di tempat mereka. Tapi saat pasukan tentara melepaskan tembakan kosong, warga setempat dipaksa untuk bubar, membiarkan desa rentan terhadap para perusuh tersebut.

Hasil panen yang disimpan di lumbung dibakar dan ternak yang berada di gudang dibunuh – menampilkan pemandangan kehancuran yang luar baisa.

Komisi Internasional Jalur Bukit Chittagong pada hari Sabtu (3/6/2017) pekan lalu mengatakan bahwa mereka dibingungkan dengan peristiwa tersebut karena serangan pembakaran tersebut dilakukan di enam desa di puncak bukit di hadapan pasukan keamanan.[baca juga: Masyarakat Adat Buddhis Jumma Teraniaya di Bangladesh]

Yayasan Kapaeeng dan Forum Hak Asasi Manusia Bangladesh mengecam serangan tersebut dan menuntut diadilinya para penyerang dan menuntut keamanan bagi warga minoritas di Bangladesh.

Begitu juga dengan Amnesti Internasional, Senin (5/6/2017), menyatakan mengutuk dan meminta pemerintah Bangladesh harus mengadili mereka yang bertanggung jawab atas serangan keji terhadap masyarakat adat di Jalur Bukit Chittagong tersebut.

Puluhan tahun, masyarakat etnis/adat dan agama minoritas di Bangladesh khususnya di Jalur Bukit Chittagong menjadi target kekerasan dari warga dan agama mayoritas, bahkan tidak jarang tentara nasional dan ansar (paramiliter) terlibat di dalamnya.[Bhagavant, 12/6/17, Sum]

Kata kunci: , ,
Penulis: