Lingkungan Hidup » Sains

Kajian: Praktik Vegetarisme Buddhis di Tiongkok Dapat Kurangi Gas Rumah Kaca

Jumat, 24 Maret 2017

Bhagavant.com,
Arizona, Amerika Serikat – Berdasarkan sebuah kajian kuantitatif menujukkan praktik vegetarisme yang dilakukan Buddhis di Tiongkok dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (EGRK).

Ilustrasi: Masakan vegetarian
Ilustrasi: Masakan vegetarian

Kajian yang dilakukan oleh Dr. Ampere A. Tseng dari Institut Manufaktur Universitas Arizona Amerika Serikat, mengatakan Buddhis di Tiongkok yang mempraktikkan vegetarisme dapat mengurangi EGRK berupa karbon dioksida (C02) sebesar 39,68 juta ton per tahun.

Jumlah pengurangan tersebut merupakan jumlah yang cukup besar dan sama dengan 7,2 % dari EGRK yang terjadi di Inggris Raya dan 9,2% yang terjadi di Perancis pada tahun 2012.

Kajian tersebut dilakukan dengan menganalisa data yang diperoleh dari studi nasional. Analisis korelasi dilakukan untuk mendapatkan formula yang tepat untuk memprediksi hubungan EGRK dengan kebiasaan makan dengan menggunakan konsumsi daging sebagai satu-satunya input.

Untuk menunjukkan kehandalannya, prediksi dari formula yang dikembangkan sebelumnya dibandingkan dengan hasil penelitian produksi makanan dengan menggunakan pendekatan yang berbeda. Kemudian disampaikan kajian kuantitatif berkurangnya EGRK yang terkait dengan praktik vegetarisme oleh Buddhis di Tiongkok.

Pengkajian terhadap populasi vegetarian di antara umat Buddhis di Tiongkok juga termasuk dalam kajian ini.

Dalam kajian yang dirilis di Journal of Contemporary Buddhism dari grup penerbit Taylor & Francis, dengan judul “Reduction of Greenhouse-Gas Emissions by Chinese Buddhists with Vegetarian Diets: A Quantitative Assessment” juga menyarankan agar masyarakat perlu mengikuti praktik vefetarianisme jika bermanfaat untuk lingkungan dan kesehatan.

“Di zaman modern, praktik vegetarian Buddhisme di Tiongkok perlu menarik lebih banyak umat Buddhis atau masyarakat awam untuk mengikutinya, jika manfaat lingkungan dan kesehatan tambahan dari vegetarian bisa ditegaskan,” kata kajian yang dirilis daring (online) 12 Maret 2017.

“Dampak yang dihasilkan untuk pengurangan EGRK yang setara bisa menjadi lebih besar dan masalah pemanasan global yang disebabkan manusia bisa lebih dikurangi.”

Meskipun dalam kajian kuantitatif tersebut mengatakan bahwa praktik vegetarisme dapat menurunkan kadar EGRK, namun menjadi ironi tersendiri saat sejumlah penelitian lain yang dirilis pada tahun 2012 mengatakan sistem pertanian global bertanggung jawab atas sepertiga dari seluruh EGRK yang disebabkan oleh manusia.

Penelitian tahun 2016 juga menyampaikan bahwa proses dari pembukaan ladang pertanian hingga penggunaan pupuk sintetis juga meningkatkan kadar emisi gas rumah kaca.

Kedua penelitian ini (2012 dan 2016) menyarankan agar adanya perhatian lebih terhadap sistem pertanian yang lebih baik khususnya di negara-negara berkembang sehingga dapat terhindar dari pemanasan global akibat efek gas rumah kaca.

Praktik vegetarisme sendiri dalam Agama Buddha hanya merupakan salah satu cara praktik melatih cinta kasih universal (Pali: metta; Skt: maitri) di antara cara praktik latihan cinta kasih universal lainnya seperti praktik meditasi cinta kasih.

Tidak semua umat Buddhis melakukan praktik ini dengan pertimbangan yang tidak bisa dianggap remeh, yaitu pertimbangan untuk melatih diri untuk tidak melekat pada apa pun termasuk pada jenis makanan yang tersedia untuk dimakan, tentu saja dengan batasan-batasannya. – Ketidakmelekatan pada apa pun merupakan faktor penting agar seseorang terhindar dari dukkha (penderitaan) dan terlepas dari kelahiran kembali.

Akhirnya semua berpulang kepada situasi dan kondisi serta kecocokan pribadi masing-masing individu dalam melatih diri mengembangkan cinta kasih universal.[Bhagavant, 24/3/17, Sum]

Kata kunci:
Penulis: