Asia Tenggara » Thailand

Mantan Ketua Aliran Kontroversi Dhammakaya Jadi Buronan Polisi Thailand

Jumat, 17 Februari 2017

Bhagavant.com,
Pathum Thani, Thailand – Mantan ketua aliran Dhammakaya, menjadi buronan pihak kepolisian Thailand setelah diperintahkan untuk menyerahkan diri karena diduga telah melakukan kegiatan pencucian uang dan menerima aset curian.

Cetiya di Wat Phra Dhammakaya, Pathum Thani, Thailand, menyerupai simbal, sering digunakan untuk serimonial keagamaan berskala massal.
Cetiya di Wat Phra Dhammakaya, Pathum Thani, Thailand, menyerupai simbal, sering digunakan untuk seremonial keagamaan berskala massal. Foto: wikipedia.org

Tidak kunjung menyerahkan diri, hingga kini pihak kepolisian Thailand melakukan pencarian terhadap Phra Chaiboon Dhammajayo (Dhammachayo), mantan ketua aliran Dhammakaya, yang dicari berdasarkan surat perintah penangkapan karena diduga telah melakukan pencucian uang dan menerima aset-aset curian sehubungan dengan penggelapan ratusan miliar baht dari Klongchan Credit Union Co-operative.

Pada Kamis (16/2/2017), polisi bersama dengan Departemen Investigasi Khusus (DIK) melakukan penggeledahan di Vihara Dhammakaya (Wat Phra Dharmmakaya), markas besar aliran Dhammakaya di Provinsi Pathum Thani sebelah utara Bangkok, yang diduga sebagai tempat persembunyian Phra Dhammajayo.

Penggeledahan diawali dengan pengambilalihan kontrol Wat Phra Dhammakaya secara efektif oleh Perdana Menteri Thailand, Prayut Chan-o-cha, dengan menggunakan Bab 44 UU 2014, yang memungkinkan pemerintah untuk melakukan penggeledahan.

Dengan kekuatan total 4.200 personel gabungan antara polisi dan tentara melakukan pengepungan terhadap kompleks vihara tersebut pada pukul 2 hingga 7 pagi. Dan penggeledahan kompleks seluas 3,6 km persegi tersebut mulai dilakukan pukul 8 pagi. Pukul 17.30, DIK dan petugas polisi mengatakan kepada para wartawan bahwa mereka belum menemukan Phra Dhammajayo dan pencarian tersebut dilanjutkan pada Jumat (17/2).

Hingga berita ini diturunkan pihak polisi belum menemukan persembunyian mantan ketua Dhammakaya tersebut. Mereka menghabiskan dua jam menyisir bangunan dari ruang pameran hingga toilet, dan hanya menemukan sekitar 100 murid dari bhikkhu berusia 72 tahun tersebut.

Selain diduga melakukan pencucian uang, Phra Dhammajayo juga dituntut atas pelanggaran melakukan perambahan hutan lindung yang digunakan untuk pusat meditasinya di Provinsi Loei, Nakhon Ratchasima, dan Phang Nga. Ia menolak dimintai keterangan oleh pihak otoritas dengan alasan sakit.

“Pencarian diteruskan tetapi laporan terbaru yang diberikan belum ada yang melihat Phra Dhammajayo,” kata wakil juru bicara DIK, Woranan Srilam, dalam konferensi pers seperti yang dilansir Bangkok Post (17/2/2017).

DIK dan polisi telah berusaha mencari Phra Dhammajayo di vihara tersebut sebanyak tiga kali, tapi gagal. Penggeledahan pertama terjadi pada 16 Juni tahun lalu, kedua 13-16 Desember dan ketiga pada 27 Desember 2016.

Aliran Dhammakaya sendiri disebut-sebut sebagai aliran yang menyimpang karena ajarannya yang tidak sesuai dengan ajaran Agama Buddha pada umumnya dan Agama Buddha tradisi Theravada pada khususnya.

Bagi umat awam, sekilas ajaran umum yang disampaikan oleh aliran tersebut tidak berbeda dengan ajaran Agama Buddha pada umumnya. Tetapi perbedaan menjadi mencolok saat memasuki pemahaman yang lebih dalam.

Menurut sebuah artikel dalam Journal of Buddhist Ethics Volume 19, 2012, berjudul Ajaran Esoterik dari Wat Phra Dhammakaya (Esoteric Teaching of Wat Phra Dhammakāya) oleh Mano Mettanando Laohavanich, salah satu ajaran aliran ini mengajarkan bahwa Nibbana (Skt: Nirvana) bukan tujuan terakhir dari kehidupan dan hanyalah sebuah alam yang diciptakan oleh Phra Ton Thād (Buddha Awal/Asali). Hal ini berbeda dengan yang diajarkan Agama Buddha pada umumnya yang menyatakan bahwa Nibbana adalah tujuan akhir dan bukanlah suatu alam serta tidak diciptakan oleh siapa pun.

Secara kasatmata komunitas aliran tersebut memperlihatkan penyelenggaraan yang rapi dan teratur dengan berskala besar atau massal dalam kegiatan-kegiatan seremonial keagamaannya.

Mengetahui masuk dan berkembangnya aliran menyimpang tersebut di Indonesia, Sangha Theravada Indonesia (STI) yang menaungi umat Buddhis tradisi Theravada di Indonesia telah lama menentukan sikapnya dengan menyatakan tidak ada kerja sama dengan Dhammakaya.(baca: Sangha Theravada Indonesia Tidak Kerjasama dengan Dhammakaya)

Dengan demikian STI tidak memiliki kaitan dan tanggung jawab apa pun terhadap segala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh aliran Dhammakaya tersebut.[Bhagavant, 17/2/2017, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: