Korea Selatan » Penyembuhan dan Spiritualitas » Tradisi dan Budaya

Bhiksuni Korea Ini Terbitkan Buku Kuliner Vihara untuk Kesehatan Batin dan Tubuh

Jumat, 13 Januari 2017

Bhagavant.com,
Seoul, Korea Selatan – Seorang bhiksuni asal Korea Selatan menerbitkan sebuah buku kuliner vihara untuk mengubah pola pikir masyarakat dalam mengomsumsi makanan untuk kesehatan batin dan tubuh.

Y.M. Bhiksuni Seonjae, "Master Kuliner Vihara" menerbitkan buku kuliner vihara untuk mengubah pola pikir masyarakat.
Y.M. Bhiksuni Seonjae, “Master Kuliner Vihara” menerbitkan buku kuliner vihara untuk mengubah pola pikir masyarakat. Foto: Bulkwang Publishing Co.

Dalam buku barunya berjudul “Apa yang Anda Makan untuk Hidup?” (Kor: 당신은 무엇을 먹고 사십니까), Y.M. Bhiksuni Seonjae (Kor: 선재스님) Kepala Pusat Kebudayaan Kuliner Vihara Sun Jae, berbagi kisah pribadinya mempraktikkan Agama Buddha untuk mengolah batin dan tubuhnya serta mengatasi kanker hatinya melalui makanan vihara yang sederhana namun sehat.

Selama konferensi pers pada hari Rabu pekan lalu untuk menandai terbitnya buku tersebut, Y.M. Seonjae mengatakan orang-orang tampaknya terlalu berfokus pada rasa, sebuah hal yang ia sadari yang menyebabkannya menulis buku keduanya dalam lima tahun.

“Sejak buku pertama saya diterbitkan pada tahun 2000, saya diminta oleh begitu banyak orang untuk menulis sebuah buku masak. Fokusnya tidak harus pada bagaimana membuat makanan lezat,” katanya seperti yang dilansir Yonhap News, Rabu (4/1/2017). “(Buku) yang satu ini bertujuan untuk mengubah pikiran dan pendekatan masyarakat terhadap makanan secara umum.”

Y.M. Seonjae, yang berusia 60 tahun, merupakan salah satu pakar yang paling terkenal dalam makanan vihara di Korea Selatan. Ia telah mendedikasikan hampir tiga dekade dalam mengembangkan resep, meningkatkan kesadaran publik dan terlibat dalam kampanye luas untuk memperbaiki pola makan masyarakat.

Pada tahun 1994, ia menerbitkan tesis tentang makanan vihara Korea, merupakan tesis yang pertama yang pernah ada dari jenisnya, yang menimbulkan banyak minat masyarakat dalam hal cara makan yang lebih sehat. Ia telah memberikan konseling tentang kebiasaan makan terutama bagi orang tua dengan anak-anak yang suka pilih-pilih makanan dan ia juga mengadakan kelas memasak untuk membuat makanan keviharaan.

Kuliner vihara ini mirip dengan makanan vegetarian, namun perbedaannya terletak pada fakta bahwa “ada dosis kebijaksanaan dalam kuliner vihara Korea,” kata Y.M. Seonjae yang telah menjadi bhiksuni tradisi Zen sejak berusia 17 tahun.

Ia menguraikan bahwa memakan makanan saat mengutamakan kehidupan keviharaan bukan hanya tentang memuaskan rasa lapar seseorang dan tetap sehat tetapi juga tentang mencapai kesadaran melalui makanan.

Y.M. Seonjae bahkan menjadi lebih berdedikasi untuk misinya itu setelah ia dapat mengatasi kanker hati melalui terapi makanan.

“Ayah dan dua saudara saya semua meninggal karena kanker hati. Dokter bilang saya hanya punya satu tahun untuk hidup. Pada waktu itu saya harus beristirahat tiga kali untuk berjalan selama 10 menit.”

Y.M. Seonjae berhenti mengunjungi dokternya yang mengatakan tidak ada yang bisa ia lakukan untuknya. Ia kembali ke alam dan sangat menggantungkan makanan yang ia makan untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Ia menjadi lebih berhati-hati dengan makanannya; ia memasak hanya dengan bahan-bahan buatan rumahan (dalam tradisi Agama Buddha di Korea, hal yang umum bagi sebagian para viharawan/ti memasak makanannya sendiri).

Ia juga berhenti makan di luar dan mengikuti keyakinan Agama Buddha seperti “Semua makanan adalah obat”, dan “Mengubah apa yang Anda makan sesuai dengan musim”. Makan (dengan kesadaran) menjadi bagian praktik Agama Buddha dalam seumur hidupnya.

Usaha keras dan dedikasinya baru-baru ini diakui oleh komunitas Buddhis tradisi Jogye yang menunjuknya sebagai “Master Kuliner Vihara”. Ia menjadi praktisi Agama Buddha yang pertama yang menyandang gelar tersebut.

“Para master sejati ada di pegunungan sekarang, yang memasak dan makan makanan vihara sebagai cara mempraktikkan Agama Buddha,” kata Y.M. Seonjae. “Saya percaya bahwa mereka (komunitas Buddhis tradisi Jogye) telah menganugerahkan saya dengan gelar ini agar saya merasa bertanggung jawab untuk menjalankan misi ini selama sisa hidup saya.”

Lima tahun belakangan ini kuliner vihara menjadi salah satu tren kebudayaan Korea selain K-pop (musik pop Korea), K-drama (drama Korea), dan K-movie (film Korea) dan populer di kalangan para pecinta makanan sehat baik di Korea maupun di luar negeri.[Bhagavant, 13/1/17, Sum]

Kata kunci:
Penulis: