Asia Tenggara » Thailand

Konferensi Buddhis ASEAN Ke-1 Bahas Isu Kontroversial

Bhagavant.com,
Nakhon Pathom, Thailand – Selain membahas pendidikan dan lingkungan hidup, Konferensi Buddhis ASEAN Ke-1 (1st ASEAN Buddhist Conference – ABC I) yang diadakan pada 22–23 September 2016 lalu, juga membahas mengenai isu yang kontroversial.

Konferensi Buddhis ASEAN Ke-1 (1st ASEAN Buddhist Conference – ABC I) di Universitas Rajabhat Nakhon Pathom di Provinsi Nakhon Pathom, Thailand, 22–23 September 2016.
Konferensi Buddhis ASEAN Ke-1 (1st ASEAN Buddhist Conference – ABC I) di Universitas Rajabhat Nakhon Pathom di Provinsi Nakhon Pathom, Thailand, 22–23 September 2016. Foto: Facebook.com/lieu.phap (Bhikkhuni Lieu Phap)

Diselenggarakan di Universitas Rajabhat Nakhon Pathom di Provinsi Nakhon Pathom, Thailand, konferensi Buddhis negara-negara Asia Tenggara yang untuk pertama kalinya diselenggarakan tersebut mengambil tema: “ASEAN Buddhists: Beyond 26th Buddhist Century” (Buddhis ASEAN: Melampaui Abad Buddhis Ke-26).

Konferensi tersebut dihadiri oleh para delegasi dari 23 negara yang terdiri dari para bhikkhu, bhikkhuni, dan upasaka-upasika sebagai pembicara serta para partisipan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, selain membahas pendidikan dan lingkungan hidup, juga dibahas mengenai isu upasampada penuh (penahbisan penuh) wanita menjadi bhikkhuni di kalangan Buddhis Theravada yang hingga kini masih tetap menjadi sebuah kontroversial.

Y.M. Brahmavamso Mahathera (Ajahn Brahm), kepala Vihara Bodhinyana Australia, sebagai pembicara kunci dalam konferensi itu dengan sub topik “We Are On the Right Side of History” (Kita Berada pada Sisi Benar Sejarah), mendorong kemunculan kembali Sangha Bhikkhuni yang kontroversial tersebut.

Mengakui adanya pertentangan penahbisan wanita oleh beberapa kalangan, Ajahn Brahm mencatat bahwa pada titik-titik tertentu dalam sejarah, banyak ilmuwan telah dianggap salah dan menghadapi penentangan dari masyarakat, di sisi lain ada yang bahkan mempertaruhkan keselamatan pribadi mereka karena penelitian dan pandangan mereka yang kemudian terbukti benar.

Y.M. Brahmavamso Mahathera (Ajahn Brahm) sebagai pembicara kunci di Konferensi Buddhis ASEAN Ke-1.
Y.M. Brahmavamso Mahathera (Ajahn Brahm) sebagai pembicara kunci di Konferensi Buddhis ASEAN Ke-1. Foto: Facebook.com/runa.barua

Y.M. Dalai Lama Ke-14 dalam pesannya yang dibacakan oleh Y.M. Bhikkhuni Dhammananda, wanita Thailand pertama yang ditahbiskan di era modern ini, menyampaikan kegembiraannya atas konferensi tersebut.

“Empat puluh tahun yang lalu, saya mendesak para bhiksuni untuk juga mempelajari teks-teks klasik dan akhir tahun ini kami akan memberikan gelar doktor tertinggi untuk para bhiksuni yang telah menyelesaikan studi mereka,” kata Dalai Lama dalam pesannya yang juga menyatakan kegembiraannya setelah mengamati sebuah perdebatan yang dilakukan oleh anak-anak sekolah yang telah dilatih oleh seorang bhiksuni di salah satu pemukiman warga Tibet di India.

Bhikkhuni Dhammananda juga berbicara tentang perkembangan terbaru dalam berdirinya kembali Sangha Bhikkhuni. Ia berterima kasih kepada para bhikkhu yang hadir, yang banyak dari mereka yang juga berbicara selama konferensi, atas dukungan mereka kepada para bhikkhuni.

Terdapat sembilan sesi panel yang diadakan dalam pertemuan selama dua hari tersebut, yang membahas sejarah dan kebangkitan sangha bhikkhuni, kondisi Agama Buddha dan keviharaan wanita saat ini, tantangan yang dihadapi Agama Buddha dalam ASEAN, serta pendidikan, kesenian, sejarah, ekologi Buddhis dan kontribusi umat Buddhis kepada berbagai negara.

Bagi sebagian kalangan, garis silsilah Sangha Bhikkhuni Theravada telah terputus dan menghilang sehingga tidak dapat dihidupkan kembali sejak kejatuhan Anuradhapura di Sri Lanka karena penjajahan Chola pada 1017 Masehi. Anuradhapura sendiri saat itu merupakan pusat Agama Buddha di Sri Lanka dan diyakini sebagai wilayah terakhir di dunia yang memiliki Sangha Bhikkhuni Theravada.

Ketentuan penahbisan wanita untuk menjadi bhikkhuni yang harus melewati penahbisan ganda (penahbisan oleh 2 sangha, yaitu Sangha Bhikkhu Theravada dan Sangha Bhikkhuni Theravada) disebut sebagai alasan tidak memungkinkannya Sangha Bhikkhuni Theravada untuk berdiri kembali. Karena saat ini dalam tradisi Theravada yang ada hanyalah Sangha Bhikkhu, maka penahbisan tidak bisa dilaksanakan dan jika dilaksanakan merupakan hal yang tidak sah atau tidak murni jika ditahbiskan oleh sangha dari tradisi lain.

Di sisi lain, mereka yang mendukung berdirinya kembali Sangha Bhikkhuni berpendapat bahwa silsilah Sangha Bhikkhuni Theravada tidak benar-benar terputus. Mereka mengklaim bahwa masih adanya bhiksuni (bhikkhuni dari tradisi lain seperti di Tiongkok, Vietnam, Korea, Taiwan) yang menjalankan Vinaya dari tradisi Dharmaguptaka yang dianggap sebagai tradisi Buddhis yang setidaknya memiliki garis “leluhur” yang sama dengan tradisi Theravada. Dengan demikian mereka berpendapat, berdirinya kembali Sangha Bhikkhuni Theravada dapat dimungkinkan.

Keberadaan para bhikkhuni Theravada yang ada sekarang ini di dunia, tidak lain berawal dari hasil penahbisan ganda dari Sangha Bhikkhu Theravada bersama dengan Sangha Bhiksuni (bhikkhuni dari tradisi lain). Dan hal ini tetap menjadi kontroversi hingga sekarang.[Bhagavant, 1/10/16, Sum]

Kata kunci: , ,
Penulis:
REKOMENDASIKAN