Amerika » Amerika Serikat » Kesenian

Konsep Buddhis dalam Film Animasi “Kubo and the Two Strings”

Sabtu, 3 September 2016

Bhagavant.com,
New York, Amerika Serikat – Sebuah film animasi berjudul Kubo and the Two Strings (Kubo dan Dua Senar) yang tayang perdana pertengahan bulan lalu, ternyata mengandung konsep Buddhis di dalamnya.

Kubo and the Two Strings, produksi Laika. Gbr: echoba.se
Kubo and the Two Strings, produksi Laika. Gbr: echoba.se

Kubo and the Two Strings, sebuah film animasi gerak henti (stop motion) 3D bertema petualangan aksi fantasi, karya sutradara Travis Knight, mengangkat kisah seorang anak bernama Kubo dari zaman Jepang kuno.

Film animasi ini menampilkan tradisi dan kebudayaan Jepang serta konsep Buddhis di dalam alur kisahnya. Kelahiran kembali dan perayaan Hari Obon yang bersumber dari Hari Ullambana, hari untuk menghormati mendiang para leluhur khususnya dalam tradisi Mahayana Asia Timur, di antara yang ditampilkan dalam film tersebut.

Travis Knight yang juga memproduseri film tersebut, dalam wawancara yang dilansir Metro US pada Sabtu (3/9/2016), mengungkapkan ide dasar dari film yang memiliki penekanan konsep Buddhis.

“Ibu mertua saya dan keluarganya adalah umat Buddhis. Spiritualitas seperti itu bukanlah sesuatu yang biasanya bisa Anda lihat dalam film,” katanya.

“Saya pikir film itu berbicara dengan ide dasar tentang kehilangan sesuatu yang penting bagi Anda, yang merupakan bagian mendasar dari kehidupan. Anda tidak bisa menjalani kehidupan tanpa mendapatkan cedera.”

“Mampu mengeksplorasi ide-ide tersebut melalui sudut pandang fantasi dan animasi benar-benar memungkinkan orang tua dan anak-anak untuk mengalami hal-hal tersebut bersama-sama, dengan cara yang bisa mereka mengerti. Kadang-kadang ide-ide ini sulit untuk diucapkan, tetapi dalam sebuah film, jika dilakukan dengan cara yang puitis, hal-hal tersebut bisa masuk akal dan Anda dapat berbicara mengenainya,” jelas Travis.

Kubo and the Two Strings bercerita mengenai pertualangan dan perjuangan Kubo dalam lingkaran perseteruan dan dendam antara leluhurnya yang telah meninggal dengan kedua orang tuanya. Berbekal sebuah shamisen, alat musik dawai tradisional Jepang, dan ditemani oleh dua hewan (kera dan kumbang), Kubo harus bertahan dari semuanya itu.

Entah disengaja atau kebetulan, film Kubo and the Two Strings sendiri diputar pada 19 Agustus 2016, di tengah-tengah perayaan bulan ke-7 (Cit Gwee) yang dalam tradisi Tionghoa disebut sebagai perayaan Zhong Yuan Jie (Yu Lan Jie) atau Festival Bulan Hantu.[Bhagavant, 3/9/16, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: