Meditasi » Nepal » Sains

Penelitian di Nepal Kembali Ungkap Meditasi Berdampak Positif

Minggu, 14 Agustus 2016

Bhagavant.com,
Kathmandu, Nepal – Sebuah penelitan kembali mengungkapkan bahwa meditasi memiliki dampak yang positif bagi yang mempraktikkannya. Kali ini penelitian tersebut dilakukan di sebuah vihara tradisi Tibet di Desa Tengboche, Khumbu, Nepal.

Bhiksu di Vihara Tengboche di Desa Tengboche, Khumbu, Nepal. berpartisipasi dalam sebuah penelitian mengenai meditasi.
Bhiksu di Vihara Tengboche di Desa Tengboche, Khumbu, Nepal. berpartisipasi dalam sebuah penelitian mengenai meditasi. Foto: Times Colonist/Kait Mikes

Olav Krigolson, ilmuwan ahli saraf dari Universitas Victoria, British Columbia, Kanada, bekerja sama dengan Gordon Binsted dari Fakultas Kesehatan dan Pembangunan Sosial Universitas British Columbia, bersama dengan rekan peneliti lainnya, melakukan penelitian mengenai meditasi di Nepal dan kembali dengan temuan baru mengenai otak manusia dan manfaat dari meditasi.

Krigolson mengatakan penelitian serupa pernah dilakukan sebelumnya, namun dengan dilakukan penelitian di Vihara Tengboche tersebut, kelompoknya mampu mengumpulkan ukuran sampel yang besar dari 27 orang bhiksu yang semuanya telah mempraktikkan meditasi dengan baik.

“Setiap kali Anda mencoba untuk membangun kebenaran ilmiah, Anda perlu jumlah (sampel) yang besar,” katanya seperti yang dilansir Times Colonist, Kamis (4/8/2016). “Jadi ketika kesempatan ini muncul dengan sendirinya, kami hanya mengatakan, ‘Oh, kita harus melakukan ini.'”

Para ilmuwan tersebut menggunakan ikat kepala yang dilengkapi dengan elektroensefalografi, atau EEG, yang dijual di toko-toko elektronik sebagai bantuan untuk meneliti meditasi. Alat itu mengukur berbagai hal seperti detak jantung, suhu tubuh, tingkat pernapasan, ketegangan otot dan gelombang otak. Umpan baliknya memungkinkan pengguna untuk mengadaptasi metode mereka agar mendapatkan hasil yang lebih baik.

Para ilmuwan tersebut merancang ulang perangkat lunak untuk mengukur dan merekam aktivitas otak para bhiksu sebelum dan selama meditasi. Tapi sinyal tersebut juga menunjukkan aktivitas yang terkait dengan sinkronisasi berbagai fungsi otak, seperti emosi atau pemikiran matematis.

Pengukuran secara jelas menunjukkan peningkatan sinyal otak yang berhubungan dengan konsentrasi dan relaksasi selama meditasi. Tapi sinyal tersebut juga menunjukkan aktivitas yang berkaitan dengan sinkronisasi berbagai fungsi otak, seperti perasaan atau pemikiran matematis.

Krigolson mengatakan peningkatan sinkronisasi fungsi otak adalah hal yang positif. Ia menyamakannya dengan beragam departemen dari sebuah organisasi besar yang berfungsi baik yang terkoordinasi dan bertindak selaras.

“Sinkronisasi yang lebih baik adalah baik,” katanya. “Ini berarti otak Anda berfungsi lebih lancar.”

Para ilmuwan tersebut melangkah lebih jauh lagi untuk mengukur efek setelah meditasi terhadap fungsi kognitif.

Para bhiksu yang berpartisipasi dalam penelitian tersebut diajak untuk melakukan sebuah permainan video game sederhana berupa menghitung jumlah lingkaran biru yang muncul di layar yang sebagian besar penuh dengan lingkaran hijau. Mereka melakukan permainan tersebut sebelum dan setelah meditasi.

Hasilnya ternyata para bhiksu dapat menghitung lingkaran biru dengan lebih baik setelah bermeditasi, ini menunjukkan bahwa meditasi memiliki manfaat lebih bahkan setelah meditasi selesai dilakukan.

Krigolson mengatakan penelitiannya mungkin dapat dijadikan sebagai alat diagnostik yang dapat digunakan untuk menguji efektivitas seseorang ketika berhadapan dengan kelelahan yang sangat. Sejumlah rumah sakit menunjukkan minatnya, terutama untuk para dokter dan staf medis lainnya yang memiliki waktu kerja yang lama.

Hasil penelitian terhadap meditasi tersebut juga mungkin dapat digunakan sebagai alat diagnostik untuk kesehatan mental. Para dokter dapat mulai memeriksa sinyal di otak sebagaimana cara mereka memeriksa hal-hal seperti tekanan darah.

“Mampu untuk mengidentifikasi keadaan otak yang baik dengan keadaan otak yang buruk bisa sangat berguna,” kata Krigolson.

“Jika data otak Anda tidak terlihat sangat baik, Anda perlu untuk memperlambatnya.”

Krigolson mengatakan bekerja sama dengan para bhiksu merupakan hal menyenangkan. Mereka semua sangat tertarik dalam penelitian tersebut dan berbagi perasaan yang menyenangkan.

“Ini adalah orang-orang yang mempelajari hidup, jadi mereka merupaka para cendekiawan,” kata Krigolson. “Mereka sangat ingin tahu dan cukup terpukau ketika mereka melihat gelombang otak mereka sendiri.”

Mereka juga cukup periang, kata Krigolson. “Dulu perasaan saya para bhiksu tersebut adalah orang-orang yang pendiam dan serius, tapi ini justru sebaliknya – mereka bahagia, ceria dan tertawa sepanjang waktu.”

Penelitian yang dilakukan Krigolson dan timnya tersebut bisa menjadi referensi tambahan dari berbagai penelitian yang pernah dilakukan mengenai dampai positif dari praktik meditasi.[Bhagavant, 14/8/16, Sum]

Kata kunci:
Penulis: