Amerika » Amerika Serikat » Seni dan Budaya » Tradisi dan Budaya

Diaspora Buddhis Jepang di A.S. Mulai Sambut Hari Raya Obon

Senin, 8 Agustus 2016

Bhagavant.com,
California, Amerika Serikat – Diaspora umat Buddhis asal Jepang di berbagai wilayah Amerika Serikat menyambut Hari Raya Obon, sebuah hari untuk mengenang dan menghormati para leluhur yang telah tiada.

Pertunjukan genderang dalam Festival Hari Obon yang diselenggarakan oleh komunitas Cetiya San Luis Obispo di Wilayah San Luis Obispo, California, Amerika Serikat, Sabtu (6/8/2016).
Pertunjukan genderang dalam Festival Hari Obon yang diselenggarakan oleh komunitas Cetiya San Luis Obispo di Wilayah San Luis Obispo, California, Amerika Serikat, Sabtu (6/8/2016). Foto: tangkapan gambar video The Tribune and San Luis Obispo

Alunan musik, tari-tarian dan arak-arakan dalam sebuah festival mulai diselenggarakan oleh komunitas-komunitas diaspora warga Jepang terutama umat Buddhis di berbagai wilayah Amerika Serikat dalam rangka menyambut Hari Raya Obon atau disebut Festival Obon (O-Bon) atau Bon.

Seperti yang dilakukan komunitas Buddhis Jepang di Cetiya San Luis Obispo di Jalan Ontario, Wilayah San Luis Obispo, California, yang menyelenggarakan Festival Obon di Sekolah Katolik St. Patrick di Kota Arroyo Grande, Wilayah San Luis Obispo, pada Sabtu (6/8/2016).

Bagi para pengunjung, festival tersebut memberikan kesempatan bagi mereka untuk menikmati musik dan berbagai demonstrasi pertunjukan sambil menikmati sepiring tempura dan sebotol minuman dingin. Namun bagi para anggota cetiya dan warga Jepang-Amerika di wilayah tersebut, festival itu memungkinkan mereka untuk membagi dan memperkenalkan tradisi berusia berabad tahun tersebut dan menghormati leluhur mereka.

Pandita Naomi Nakano, yang memimpin cetiya tersebut selama enam tahun mengatakan, Obon dirayakan terutama di Jepang selama musim panas dan memungkinkan para umat untuk memberikan rasa terima kasih kepada para kerabat dan leluhur yang telah meninggal atas dukungan dan bimbingan mereka.

“Bagi kami, ini sesungguhnya melihat pada apa yang mereka berikan kepada kami ketika mereka masih hidup,” kata Pandita Nakano, seperti yang dilansir The Tribune and San Luis Obispo, Sabtu (6/8/2016). “Ini adalah cara kami untuk menunjukkan rasa terima kasih.”

Warga Fukushima, Jepang melakukan Bon Odori (tarian Bon) yang merupakan tradisi yang selalu ada saat Festival Hari Raya Obon dan dilakukan secara bersama-sama.
Warga Fukushima, Jepang melakukan Bon Odori (tarian Bon) yang merupakan tradisi yang selalu ada saat Festival Hari Raya Obon dan dilakukan secara bersama-sama. Foto: hawaiimagazine.com

Selain di berbagai daerah di California yang memiliki jumlah umat Buddhis sebesar 2 persen dari jumlah penduduknya, perayaan Hari Obon juga diselenggarakan di Las Vegas Utara Negara Bagian Nevada, di Oregon, Illinois, Washington, hingga Hawaii.

Hari Raya Obon merupakan hari raya tradisional Jepang yang berdasarkan pada hari raya Agama Buddha khususnya tradisi Mahayana yang menyebar di Asia Timur yaitu Hari Raya Ullambana. Berdasarkan asal katanya, “obon” sendiri merupakan kependekan dari kata dalam bahasa Sanskerta yaitu “ullambana“, yang dalam bahasa Jepang dilafalkan sebagai “urabon’e”, kemudian menjadi “bon” atau “obon”.

Meskipun awalnya berdasarkan pada hari raya Agama Buddha, Hari Raya Obon yang ada dalam bentuknya sekarang ini merupakan perpaduan dari berbagai kepercayaan dan tradisi yang ada, termasuk kepercayaan Kong Hu Chu dan tradisi Tionghoa yang masuk ke Jepang.

Kentalnya kepercayaan dan tradisi lain yang menyelimuti dan melekat pada perayaan Obon, membuat Hari Raya Obon ini menjadi menyerupai perayaan Festival Hantu Kelaparan (Zhong Yuan Jie atau Yu Lan Jie) dalam tradisi Tionghoa dibanding dengan Hari Raya Ullambana itu sendiri.[Baca juga: Ullambana, Pattidana di Bulan Hantu Cit Gwee]

Hari Ullambana sendiri muncul berdasarkan pada kepustakaan Buddhisme Mahayana yaitu Ullambana Sutra yang isinya mengenai Yang Arya Maudgalyāyana (Pali: Moggallāna), salah satu Siswa Utama Sri Buddha yang ingin menolong mendiang ibunya yang terlahir kembali sebagai hantu kelaparan (Pali: petā; Skt: preta; Jpn: gaki).

Berkat nasihat Sri Buddha, Y.A. Maudgalyāyana dapat menolong mendiang ibunya dengan cara melimpahkan, membagi atau mengalihkan hasil perbuatan baiknya berupa mempersembahkan dana untuk Sangha Bhiksu, kepada mendiang ibunya, dan dilakukan pada akhir masa varsa (Pali: vassa – retret musim hujan) atau Pravarana (Pali: Pavarana) para bhiksu yaitu pada tanggal 15 bulan 7.

Melimpahkan, membagi atau mengalihkan hasil perbuatan baik berupa mempersembahkan dana untuk Sangha Bhiksu, disebut juga Pattidāna (bahasa Pali). Praktik inilah yang menjadi kabur dan dilupakan karena kentalnya kepercayaan dan tradisi lain pada Festival Obon.

Timun dan terung buah yang selalu ada di persembahan makanan pada shōrōdana/shōryōdana (altar persembahan untuk leluhur) atau bondana (altar obon) saat perayaan Hari Raya Obon.
Timun dan terung yang selalu ada di persembahan makanan pada shōrōdana/shōryōdana (altar persembahan untuk leluhur) atau bondana (altar obon) saat perayaan Hari Raya Obon. Foto: nikko-shugendo.com

Namun, terlepas dari tradisi dan kepercayaan lain yang membalutnya serta bagaimana caranya, Hari Raya Obon memiliki satu persamaan dengan Hari Raya Ullambana yaitu upaya untuk membantu para makhluk lain yang menderita khususnya para leluhur (orang tua atau kerabat yang telah meninggal).

Sama seperti Hari Raya Ullambana, pada umumnya Hari Raya Obon umumnya dirayakan pada tanggal 15 bulan ke-7 dari penanggalan suryacandra (lunisolar). Namun, beberapa daerah di Jepang yang menggunakan penanggalan Masehi, mengalihkan tanggalnya menjadi tanggal 15 Juli.

Di Jepang, selain menyelenggarakan tarian secara beramai-ramai yang disebut Bon Odori (tarian Bon) dan beberapa komunitas melarung lampion kertas pada perayaan Hari Obon, para umat melakukan sembahyang di rumah dengan meletakkan persembahan makanan pada shōrōdana/shōryōdana (altar persembahan untuk leluhur) atau bondana (altar obon).

Para umat juga mengunjungi vihara untuk melakukan puja bakti yang disebut segaki (memberi makan preta) dengan mempersembahkan makanan kepada para makhluk tersebut diiringi dengan pembacaan sutra dan mantra.[Bhagavant, 8/8/16, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: