Indonesia » Tokoh » Wanita Buddhis

Mengenang M.U.P. Parwati Soepangat, Tokoh Wanita Buddhis Indonesia

Selasa, 26 Juli 2016

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Dr. Parwati Soepangat MA, salah satu tokoh wanita Buddhis pelaku sejarah perkembangan Agama Buddha di Indonesia, tutup usia pada Minggu (24/7/2016) pukul 17.50 WIB.

Ibu Parwati Soepangat

Ibu Dr. Parwati Soepangat yang memiliki gelar dan nama Buddhis Maha Upasika Pandita (M.U.P.) Dr. Metta Pannakusuma Parwati Soepangat Soemarto, M.A., meninggal di usia 84 tahun saat dalam perawatan di Rumah Sakit Puri Indah, Jakarta.

Beliau yang akrab disapa sebagai Ibu Parwati ini merupakah salah satu tokoh wanita Buddhis Indonesia yang saat kepergiannya menjabat sebagai Ketua PP Wanita Buddhis Indonesia I.

Setelah jenazah mendiang Ibu Parwati disemayamkan di rumahnya di Jl. Niaga Hijau II no. 32, Pondok Indah, tempat para umat Buddhis memberikan penghormatan terakhir, jenazah beliau dikreamsi di Krematorium Oasis, Jatake, Cikupa, Banten, pada Rabu (26/7/2016) sekitar pukul 14.00 WIB.

Biografi singkat
Ibu Parwati lahir di Keraton Surakarta Hadiningrat pada 1 Mei 1932 dari pasangan mendiang Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Widyonagoro yang merupakan Bupati Keraton dengan mendiang Raden Ajeng (RA) Soewiyah yang merupakan Guru Sekolah Keraton. Meskipun dibesarkan dikalangan bangsawan dan memiliki gelar ningrat, beliau tetap rendah hati, ramah, dan murah senyum pada semua orang.

Lahir dalam keluarga Buddhis dan mempraktikkan vegetarian sejak kecil, Parwati dididik dan dilatih dalam budaya Jawa yang luhur. Ia adalah perempuan yang cerdas dan gemar menari. Selain kepribadiannya yang teguh dan berani melawan segala rintangan untuk membela kebenaran yang ia yakini, beliau juga giat dalam menuntut ilmu.

Setelah lulus dari Universitas Gajah Mada, pada tahun 1958, Ibu Parwati pergi ke Amerika Serikat untuk mengambil program Master of Arts. Sekembalinya ke tanah air, ia menjadi dosen di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran dan Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha di Bandung.

Pada masa Pemerintahan Orde Lama, ketertarikan beliau pada Teosofi mempertemukan dirinya dengan suaminya, Prof. Dr. Soepangat Soemarto, guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pernah menjadi Pembantu Rektor III ITB dan juga Dekan Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti, Jakarta.

Kegiatannya dalam Teosofi juga akhirnya mempertemukan beliau dengan gurunya, Tee (The) Boan An yang kemudian lebih dikenal sebagai Y.M. Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita (1923-2002) yang merupakan putra Indonesia pertama yang ditahbiskan menjadi bhikkhu sejak punahnya kerajaan Majapahit dan sekaligus merupakan pelopor kebangkitan kembali Agama Buddha di Indonesia.

Ibu Parwati dengan semangat selalu terlibat aktif dalam pengembangan Agama Buddha di Indonesia sejak Waisak Nasional pertama di Borobudur tahun 1953 (2497 EB).

Pada awal tahun 60-an, sebagai seorang dayaka Y.M. Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita, Ibu Parwati menemani gurunya itu berkeliling untuk membabarkan ajaran Buddha ke seluruh Indonesia, terutama setiap pelosok di Jawa Tengah.

Pengetahuan beliau akan Agama Buddha menuntun beliau untuk mengajar kuliah Agama Buddha bagi para mahasiswa di Vihara Vimala Dharma Bandung. Selama puluhan tahun beliau juga menjadi dosen Agama Buddha di berbagai kampus perguruan tinggi di Bandung.

Setelah 3 tahun berdirinya organisasi Wanita Buddhis Indonesia (WBI) dalam naungan Sangha Agung Indonesia, dan setelah re-organisasi pada tahun 1976, Ibu Parwati berkesempatan memimpin organisasi tersebut sebagai Ketua Umum yang pertama.

Perjuangan beliau dalam mengembangkan Agama Buddha di Indonesia mendapatkan pujian dari Y.M. Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita dengan memberikannya sebutan “Srikandi Buddhis asal Solo”.

Biasa berbusana dalam pakaian Jawa, mengenakan kebaya tradisional, dan lebih memilih bepergian dengan naik kendaraan umum, menjadi ciri khas Ibu Parwati. Bagi mereka yang dekat, Ibu Parwati merupakan perempuan Buddhis yang sangat bersungguh-sungguh dalam melakukan praktik Dharma dalam kehidupan kesehariannya, penuh kesadaran dengan tubuh, ucapan, dan perbuatannya. Baik dalam seminar maupun tulisan, beliau selalu mengedepankan dan mengutamakan kesetaraan gender dan emansipasi perempuan.

Ibu Parwati Soepangat kini telah tiada, namun jasa-jasa beliau dalam mengembangan Agama Buddha di Indonesia akan tertulis dan menjadi bagian dari sejarah Buddhis Indonesia dan menjadi inspirasi bagi semua perempuan Buddhis Indonesia.

Semoga mendiang Ibu Parwati terlahir di alam surga menyenangkan atau lebih dari itu.[Bhagavant, 26/7/16, Sum]

Kata kunci:
Penulis: