Asia Tenggara » Buddhisme dan Kesehatan » Thailand

Buddhis Thailand Adakan Program Makanan Sehat Para Bhikkhu

Senin, 4 Juli 2016

Bhagavant.com,
Bangkok, Thailand – Mempersembahkan makanan kepada para bhikkhu di negara berpenduduk mayoritas Buddhis seperti di Thailand sudah menjadi sebuah tradisi setiap harinya. Tapi disadari atau tidak, sering kali para umat memberikan makanan yang tidak sehat.

Seorang umat mempersembahkan makanan kepada para bhikkhu.
Seorang umat mempersembahkan makanan kepada para bhikkhu.

Setiap hari pada pagi hari, bhikkhu-bhikkhu di Thailand melaksanakan prosesi pindapata (menerima dana makanan) dari para umat perumah tangga. Setelah sekitar dua jam, mereka kembali ke vihara mereka masing-masing dengan mangkuk dana terisi makanan.  Kadang warga juga mengunjungi vihara untuk mempersembahkan makanan.

“Beberapa warga benar-benar merasa bangga dengan makanan mereka. Tetapi ketika kami memakannya, makanannya terlalu asin,” ungkap Bhante Pisit Siriwathatano, seorang bhikkhu dari sebuah vihara di Provinsi Nonthaburi, saat diwawancarai seperti yang dilansir Bangkok Post, Senin (4/7/2016). Di usianya yang 58 tahun, Bhante Pisit menjelaskan kesehatannya yang menurun.

“Ketika saya makan makanan yang tidak sehat, tubuh saya bereaksi buruk,” katanya yang juga melaporkan bahwa bhikkhu-bhikkhu yang ia ketahui pada umumnya tidak dalam kesehatan yang baik.

Makanan yang diterima Bhante Pisit pada pindapata hari itu adalah makanan siap makan yang dibeli dari pasar tradisional lokal, dan bahkan makanan yang dikemas dari toko-toko. Ia tidak mengomentari makanan tersebut. Ia tidak bisa memilih makanan, dan hanya bisa makan apa yang dipersembahkan kepadanya.

Makanan seorang bhikkhu di Thailand dapat terdiri dari berbagai macam masakan Thailand sehari-hari seperti sayuran tumis, sup panas, kari, sambal, dan banyak lagi, kadang-kadang ditambah dengan beragam kue manisan Thailand. Makanan tersebut kelihatannya mengundang selera dan bernutrisi, tapi beberapa dari makanan tersebut mengandung kadar gula, lemak, dan garam yang tinggi, dan juga tidak sehat, sebuah fakta yang tampaknya diabaikan banyak orang.

Menurut Profesor Rekanan (Assoc. Prof.) Dr. Jongjit Angkatavanich, seorang ahli kesehatan dan gizi dari Universitas Chulalongkorn, telah ditemukan bahwa 44% dari para bhikkhu di Bangkok memiliki kelebihan berat badan, sementara 52% menderita hiperkolesterolemia (kelebihan kolesterol dalam aliran darah).

Sebagai perbandingan, terdapat 37% dari pria normal dengan usia yang sama menderita kelebihan berat badan dan 39% menderita hiperkolesterolemia. Sekitar 9% dari para bhikkhu juga menderita diabetes.

Dr. Jongjit telah bekerja dalam sebuah proyeknya yang didukung oleh Thai Health Promotion Foundation (sebuah yayasan kesehatan Thailand), untuk meneliti dan meningkatkan perilaku dan gizi makanan para bhikkhu sejak 2011. Ahli gizi tersebut mengatakan masalah kesehatan ini memiliki penyebab yang sama, dan itu tidak lain disebabkan oleh makanan yang dimakan para bhikkhu setiap harinya.

Sebagai contoh, makanan seperti kari dengan santan, merupakan sumber lemak dan garam. Minuman ringan, teh hijau manis dan jus olahan merupakan persembahan yang sering diberikan, mengandung kadar gula tinggi. Dan bila dikonsumsi secara berulang, terutama oleh para bhikkhu yang oleh peraturan vinaya (peraturan ke-bhikkhu-an) tidak bisa berolahraga seperti orang pada umumnya, maka makanan-makanan yang dipersembahkan kepada mereka dengan niat baik tersebut, menjadi beban bagi tubuh mereka, menjadi sumber penyakit.

Cukup umum makanan yang dipersembahkan kepada para bhikkhu adalah berdasarkan makanan kesukaan dari umat itu sendiri atau makanan kesukaan mendiang seorang umat. Secara umum, kesehatan tidak menjadi perhatian utama para umat dalam mempersembahkan makanan kepada para bhikkhu.

Semenjak para bhikkhu tidak dapat memilih makanan mereka sendiri, Dr. Jongjit telah mengembangkan empat konsep dan solusi kunci – makanan, minuman, fisik dan aktivitas – bagi para bhikkhu untuk berhati-hati agar tetap sehat. Konsep dan solusi tersebut meminta para bhikkhu untuk mengubah beberapa kebiasaan mereka, melalui cara yang tidak akan melanggar kode agama (vinaya).

Beberapa saran tersebut termasuk mengonsumsi jumlah yang sama antara nasi dan sayuran, dan minum air dan susu alih-alih minuman manis.

Ahli gizi tersebut juga menyarankan para bhikkhu untuk menjaga berat badan dan lingkar pinggang mereka sendiri. Umumnya, lingkar pinggang pria tidak boleh melebihi 85 cm.

“Ukuran pinggang adalah inti dari merawat kesehatan Anda. Sebuah perut besar berhubungan dengan tingkat kadar gula, tekanan darah dan lemak.”

Untuk aktivitas, Dr. Jongjit mengatakan pindapata, pradaksina (meditasi berjalan), menyapu halaman vihara, dan berjalan pada umumnya merupakan beberapa olahraga yang dapat dilakukan oleh para bhikkhu tanpa perlu melanggar sila mereka.

“Saya bergulat dengan keyakinan masyarakat dalam melakukan proyek ini,” kata ahli gizi tersebut. “Ini kelihatannya seperti mematahkan tradisi budaya dan keterbatasan agama. Tapi, sungguh, ini bukanlah untuk membuat para bhikkhu mulai menjadi pilih-pilih tentang apa yang mereka makan, melainkan agar mereka berhati-hati terhadap apa dan berapa banyak mereka makan. Penyakit yang menimpa mereka bisa dicegah dengan mengubah kebiasaan.”

Proyek Dr. Jongjit tersebut menghasilkan materi-materi pendidikan seperti buklet informasi, buku harian, poster dan kalender – serta pita ukur dan ikat pinggang warna-warni untuk memantau lingkar pinggang seseorang – yang bertujuan untuk mendorong para bhikkhu untuk memantau dan memberi perhatian lebih pada kesejahteraan mereka sendiri.

Materi-materi tersebut telah menghasilkan hasil yang memuaskan dalam menanamkan dan menyesuaikan para bhikkhu ke dalam kebiasaan baru. Menurut Dr. Jongjit, bhikkhu-bhikkhu yang mulai mematuhi empat konsep kesehatan tersebut menunjukkan penurunan signifikan secara statistik pada kolesterol, trigliserida dan indeks massa tubuh setelah dua bulan.

Sejauh ini, tim dari Dr. Jongjit telah menyelenggarakan beberapa lokakarya di provinsi-provinsi, dihadiri oleh bhikkhu-bhikkhu dan juru rawat setempat untuk membantu menyebarkan pengetahuan kepada komunitas mereka masing-masing. Satu set poster dan buklet juga dikembangkan untuk para umat awam dan juru masak vihara untuk mendidik mereka tentang jenis makanan yang harus diberikan kepada para bhikkhu. Dr. Jongjit mengatakan tim tersebut juga berencana untuk bermitra dengan Departemen Kesehatan Thailand dan organisasi-organisasi keagamaan untuk memperluas penggunaan materi-materi pendidikan tersebut secara nasional.

“Semua pesan-pesan yang kami berikan kepada para bhikkhu – berlaku untuk semua orang,” kata Dr. Jongjit. “Dan ketika para bhikkhu telah melihat manfaat dari gaya hidup sehat ini, mereka bisa menjadi panutan masyarakat dan mendidik para umat awam. Ketika para bhikkhu menjadi lebih kuat dan sehat, begitu juga masyarakat,” katanya.

Adanya hubungan saling membutuhkan antara para bhikkhu dan para umat, maka masalah kesehatan khususnya mengenai makanan para bhikkhu, sudah layak dan sepantasnya juga menjadi perhatian bagi para umat Buddhis.[Bhagavant, Bangkok Post, 4/7/16, Sum]

Kata kunci:
Penulis: