Gerakan Buddhis » Mongolia

Mongolia Bangun Rupaka Bodhisattva Maitreya Tertinggi di Dunia

Minggu, 17 April 2016

Bhagavant.com,
Ulan Bator, Mongolia – Mongolia akan menjadi tempat bagi rupaka Bodhisattva Maitreya tertinggi di dunia yang saat ini dalam proses pembangunannya di luar ibu kota Ulan Bator.

Gambar desain rupaka Bodhisattva Maitreya setinggi 54 menter di Mongolia.
Gambar desain rupaka Bodhisattva Maitreya setinggi 54 menter di Mongolia. Gbr: grandmaitreya.com

Pembangunan rupaka Bodhisattva Maitreya (Pali: Metteyya) tertinggi di dunia tersebut merupakan bagian dari Grand Maitreya Project, sebuah proyek raksasa untuk membangun sebuah “mercusuar” universal untuk cinta kasih dan perdamaian dunia.

Proyek yang berada di bawah naungan Grand Maitreya Foundation, sebuah yayasan nirlaba yang berbasis di Amerika Serikat dan Mongolia, rencananya akan membangun sebuah kompleks sebagai pusat pendidikan, spiritual, wisata dan budaya bagi dunia.

Tujuan dari pembangunan kompleks tersebut adalah untuk menciptakan kondisi-kondisi bagi terwujudnya cinta kasih secara luas yang menghasilkan perdamaian dunia. Pihak Grand Maitreya Project percaya bahwa perdamaian dunia hanya dapat dicapai melalui praktek cinta kasih dan kasih sayang.

Seperti yang disampaikan situs web resminya Grand Maitreya Project, proyek inti dari pembangunan tersebut adalah membangun sebuah rupaka Bodhisattva Maitreya setinggi 177 kaki (54 meter) sebagai simbol cinta kasih. Sebuah stupa setinggi 354 kaki (108 meter) dengan beberapa tingkat interiornya akan berada dibelakang dan terhubung dengan rupaka tersebut. Rencananya, baik rupaka maupun stupa tersebut akan menjadi tempat menyimpan relik Buddha Gotama.

Rupaka Bodhisattva Maitreya dalam pembangunan.
Rupaka Bodhisattva Maitreya dalam pembangunan. Foto: huffingtonpost.com

“Tujuannya adalah ukuran dan keindahan rupaka ini akan membawa simbol ini cinta kasih yang menjadi perhatian banyak orang di seluruh dunia,” kata Michael Fouts, direktur eksekutif proyek cabang Amerika Serikat, seperti yang dilansir The Huffington Post, Rabu (6/4/2016).

Setelah beberapa dekade di bawah penindasan pemerintah komunis, yang menghancurkan ratusan vihara, membakar teks-teks kuno dan mengeksekusi ribuan lama (guru spiritual), Mongolia kini mengalami transisi ke pemerintahan konstitusional dengan parlemen dan presiden terpilih pada tahun 1990. Dengan perubahan ini datang kesempatan untuk menghidupkan kembali komunitas Buddhis di negara tersebut, yang akhirnya terbentuklah Grand Maitreya Project tersebut.

Gambar desain Kompleks Grand Maitreya.
Gambar desain Kompleks Grand Maitreya. Gbr: grandmaitreya.com

Proyek yang dimulai dari tahun 2009 tersebut sedang dibangun di sebuah situs suci Buddhis yang dikenal dengan sebutan Bukit Hati, di Lembah Uguumur dekat ibu kota Mongolia, Ulan Bator. Fouts mengatakan baha Bukit Hati diyakini menjadi tempat dari Jebtsundamba Khutuktu yang merupakan pemimpin spiritual Buddhis Tibet di Mongolia yang hidup sekitar 300 tahun yang lalu.

“Hal ini sangat istimewa dan menguntungkan bagi rakyat Mongolia untuk membangun simbol cinta dan pusat Buddhis di situs ini, serta untuk menerima pelajaran di sini,” kata Fouts.

Rupaka Bodhisattva Maitreya dalam posisi berdiri yang dibangun tersebut menggunakan model rupaka karya abad ke-17 yang diciptakan oleh Jebtsundamba Khutuktu Ke-1 Öndör Gegeen Zanabazar yang juga seorang seniman Mongolia dan dikenal sebagai “Michelangelo dari Asia” karena karya-karya seni pahatnya.

Sedangkan stupa yang dibangun berdasarkan pada bentuk stupa yang dibawa ke Tibet oleh Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna (Atisha). Atisha adalah guru besar dari penyebaran ajaran Budddhis di Tibet. Setiap kali Atisha melakukan perjalanan di Tibet, ia membawa sebuah stupa kayu yang memiliki bentuk seperti itu untuk dukungan spiritualnya.

Selain Dalai Lama Ke-14, para pemimpin spiritual yang juga menjadi penasihat spiritual dari proyek tersebut adalah Lama Khamba Gyabje Choijamts Demberel dari Mongolia, Rinpoche Khensur Jhado dari Tibet dan guru Buddhis Amerika Serikat Robert Thurman yang menjabat sebagai presiden Tibet House di Kota New York.

Diperkirakan pembangunan rupaka Bodhisattva Maitreya tersebut akan selesai pada tahun 2018, sedangkan kompleksnya akan selesai pada tahun 2020.

Maitreya adalah seorang bodhisattva (calon Buddha) yang akan menjadi Buddha pada masa yang akan datang dengan mengajarkan Dharma yang sama dengan Buddha Gotama. Namun berbeda dengan Buddha Gotama yang menitikberatkan ajaran-Nya pada praktik kebijaksanaan, Ia akan menitikberatkan pada praktik maitri (metta) atau cinta kasih.[Bhagavant, 17/4/16, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: