Asia Tenggara » Seremonial » Thailand

Perayaan Magha Puja 2559 di Bangkok, Thailand

Selasa, 23 Februari 2016

Bhagavant.com,
Bangkok, Thailand – Hari Raya Magha Puja diperingati oleh masyarakat Buddhis Thailand dengan berbagai kegiatan keagamaan. Dan di hari yang dijadikan hari libur nasional tersebut, pemerintah Thailand melarang penjualan minuman keras di para pengecer, bar, restoran dan tempat lainnya.

Magha Puja. Para bhikkhu melakukan puja bakti di Taman Buddhis Weruwan di Sanam Luang, Bangkok, sebuah hutan bambu rekreasi sementara yang terinspirasi dari Hutan Bambu (Veluvana), di India.
Magha Puja. Para bhikkhu melakukan puja bakti di Taman Buddhis Weruwan di Sanam Luang, Bangkok, sebuah hutan bambu rekreasi sementara yang terinspirasi dari Hutan Bambu (Veluvana), di India. Foto: Nation/Anan Chantasoot

Departemen Agama Kementerian Kebudayaan Thailand mendesak para umat, terutama anak-anak sekolah, untuk secara aktif mencari untuk mengisi saddha (keyakinan) mereka melalui puja bakti dan terlibat dalam peringatan Magha Puja (Thailand: Makha Bucha, Pali: Māgha Pūjā).

Selama seminggu terakhir masyarakat telah mengunjungi Taman Buddhis Weruwan di Sanam Luang, Bangkok, sebuah hutan bambu rekreasi sementara yang terinspirasi dari Hutan Bambu (Veluvana) di India tempat Sri Buddha berkhotbah kepada 1.250 orang Arahant. Taman tersebut kemudian ditutup setelah acara Magha Puja selesai.

Sekitar taman yang bertenda dan ber-AC tersebut, kementerian terkait menanam ribuan pohon bambu hijau dan emas, menampilkan kalimat-kalimat ajaran Buddha dan altar puja bakti.

Setiap paginya, di sana diselenggarakan upacara pindapata, diikuti dengan khotbah dan pradaksina mengelilingi situs tersebut. Setiap malam, hampir 100 bhikkhu melantunkan paritta maupun sutta di bawah rupaka Buddha yang mengangkat kedua tangan dengan ujung jari tengah menyentuh ujung ibu jari. Diyakini pose tangan yang disebut mudra akasa tersebut adalah pose saat Sri Buddha membabarkan Ovada Patimokkha (Pali: Ovāda Pāṭimokkha) yang terjadi sembilan bulan setelah Pencerahan Agung-Nya.

Dirjen urusan Agama, Kitsayapong Siri mengatakan rupaka Buddha yang berpoles kuningan tersebut dibuat khusus untuk Hutan Weruwan. Rupaka itu berukuran tunggi 59 inci dan lebar 32 inci dan duduk dengan pose yang sama yang Sri Buddha terapkan hari itu.

Kamis (18/2/2016) malam, terlihat puluhan umat awam berpakaian putih, sebagian besar orang tua, duduk di atas tikar dalam puja bakti bersama. Sepasang turis Jerman bergabung dengan mereka, mereka mengangkat tangan ke arah rupaka Buddha dengan penuh hormat.

“Kami melihat markah tanah dan datang ke upacara ini,” kata Andre Nanjo dengan Sarah Farran di sisinya, seperti yang dilansir The Nation, Senin (22/2/2016). Mereka berasal dari Bavaria. “Meskipun kami tidak mengerti bahasanya, upacara spiritual seperti ini menarik. Ini benar-benar menunjukkan keyakinan umat Buddha. Seorang pejabat mengundang kami untuk bergabung.”

Tentu saja orang asing bukan satu-satunya orang yang kurang mengetahui tentang kisah di balik Hari Magha Puja. Banyak warga Buddhis Thailand yang ternyata juga tidak menyadari makna dan pesan yang ada di dalamnya.

Khotbah Ovada Patimokkha atau Nasihat Menuju Pembebasan yang dibabarkan oleh Sri Buddha kepada 1.250 Arahant menjadi landasan dasar bagi para viharawan/ti dalam kehidupan keviharaan dan juga sebagai “jantung dari Agama Buddha”. Para Arahant tersebut datang dengan inisiatif sendiri, tanpa diundang, pada waktu yang sama dari tempat yang berbeda, dan merupakan para siswa-Nya yang telah ditahbiskan sendiri oleh-Nya.

Prinsip-prinsip yang Sri Buddha terapkan untuk kebhikkhuan tersebut tetap tidak berubah, seperti yang dijelaskan Y.M. Phra Prom Wachirayan, kepala Vihara (Wat) Yannawa yang sekaligus salah satu penyelenggara di acara di taman tersebut.

“Prinsip-prinsip tersebut dapat diringkas menjadi tiga pedoman utama: berbuat baik, menjauhkan diri dari yang jahat dan memurnikan pikiran (batin – red),” kata kepala vihara tersebut. “Mengadopsi ajaran-ajaran ini di zaman modern dan di dalam sebuah masyarakat yang begitu kompleks menyebabkan ketenangan pikiran. Dan jika para individu merasa bahagia, masyarakat akan bahagia, begitu juga negara.”

Departemen Agama Kementerian Kebudayaan Thailand mensponsori gratis jasa tur gratis dengan kapal motor ke sembilan vihara di sepanjang Sungai Chao Phraya, dengan bhukkhu sebagai pemandu.
Departemen Agama Kementerian Kebudayaan Thailand mensponsori gratis jasa tur gratis dengan kapal motor ke sembilan vihara di sepanjang Sungai Chao Phraya, dengan bhukkhu sebagai pemandu. Foto: Nation

Pada kesempatan tersebut juga Departemen Agama Kementerian Kebudayaan menyelenggarakan turgratis dengan kapal motor di Sungai Chao Phraya dengan sejumlah bhikkhu yang memandu dan mengajar sejarah vihara-vihara, mural-mural, dan arti pentingnya. Dibuka pada Senin (22/2/2016) dari pukul 8.30 hingga 16.30, perahu-perahu tersebut singgah di sembilan vihara tepi sungai, yaitu Vihara Ratcha Singkhorn, Vihara Worachanyawas, Vihara Yannawa, Vihara Kalayanamitr, Vihara Arun, Maha Vihara Rakang Kositaram Wora, Vihara Kharuhabodi, Maha Vihara Thewarat Kunchorn Wora, dan Vihara Rachathiwat Ratchawora.

Perayaan Magha Puja 2559 EB (versi Thailand: 2558 EB) di Bangkok rampung sekitar pukul 19.00 dengan penyalaan dan pembawaan lilin sambil berjalan oleh para umat.[Bhagvant, The Nation, 23/2/16, Sum]

Kata kunci:
Penulis: