Thailand

Inilah Calon Sangharaja Thailand yang Baru dan Kontroversinya

Minggu, 14 Februari 2016

Bhagavant.com,
Bangkok, Thailand – Maha Sangha Sabha atau Dewan Agung Sangha Thailand telah menentapkan calon Sangharaja Thailand yang baru, namun penetapan ini menimbulkan kontroversi dan debat khususnya di kalangan masyarakat Buddhis Thailand.

Somdet Phra Maha Ratchamangalacharn, calon Sangharaja Thailand Ke-20.
Somdet Phra Maha Ratchamangalacharn, calon Sangharaja Thailand Ke-20. Foto: posttoday.com

Somdet Phra Maha Ratchamangalacharn atau dikenal dengan nama Somdet Chuang ditetapkan sebagai calon Sangharaja Thailand Ke-20 oleh Maha Sangha Sabha (MSS) Thailand pada 5 Januari 2016 yang lalu.

Penetapan bhikkhu berusia 90 tahun yang merupakan kepala Vihara Paknam (Wat Paknam) tersebut menuai kontroversi di masyarakat Buddhis Thailand terkait dengan kemampuannya memimpin dan terlebih lagi hubungannya dengan aliran kontroversi Dhammakaya.

Seperti yang diungkapkan oleh Patcharawalai Sanyanusin, seorang penulis dari Bangkok Post, dalam opininya pada Jumat (26/1/2016), setidaknya di Thailand ada dua kelompok dengan dua pandangan yang berbeda terkait pencalonan Somdet Chuang sebagai Sangharaja Thailand yang baru.

Yang pertama adalah kelompok yang dipimpin oleh Paiboon Nititawan seorang kritikus gigih yang juga mantan kepala panel reformasi Agama Buddha, yang telah mencoba sejak awal untuk menghentikan pencalonan Somdet Chuang oleh MSS, dengan alasan perilaku bhikkhu tersebut meragukan.

Kelompok berseberangan yang membela penetapan yang dilakukan MSS adalah sekelompok bhikkhu yang dipimpin oleh Phra Methi Thammachan, wakil rektor Universitas Mahachulalongkornrajavidyalaya. Ia sering mengklaim bahwa seleksi yang dilakukan sesuai dengan peraturan Sangha yang menunjukkan bahwa MSS harus menominasikan bhikkhu yang paling senior dan perdana menteri berkewajiban untuk memberikan namanya kepada Raja Thailand untuk penobatan secara kerajaan.

Mengingat peringkat Somdet Chuang sebagai Somdet Phra Racha Khana (Thailand: สมเด็จพระราชาคณะ – Yang Mulia Maha Raja Karana) yaitu bhikkhu senior berperingkat besar/tinggi, ia sangat sesuai dengan kriteria yang ada. Tapi yang mendorong banyak umat Buddha Thailand untuk menentang dengan sangat penetapan tersebut adalah secara fakta ia memiliki hubungan baik dengan Phra Dhammachayo (Dhammajayo), pemimpin aliran kontroversi Dhammakaya.

Dhammakaya sendiri merupakan sebuah aliran baru yang dianggap oleh sebagian besar masyarakat Buddhis Thailand telah mengajarkan ajaran yang menyimpang dari ajaran dasar Agama Buddha tradisi Theravada yang dianut mayoritas rakyat Thailand, seperti ajaran mengenai adanya diri yang kekal (atta) alih-alih ajaran tidak ada diri yang kekal (anatta). (Baca: Sangha Theravada Indonesia Tidak Kerjasama dengan Dhammakaya)

Dalam tulisannya, Patcharawalai, mengatakan bahwa Somdet Chuang adalah pembimbing dari Phra Dhammachayo ketika ia ditahbiskan di Vihara Paknam 47 tahun yang lalu dan telah gagal dalam melaksanakan tugasnya sebagai ketua komite MSS.

“Namun ia memberikan nama buruk bagi dirinya sendiri ketika ia gagal dalam tugasnya sebagai ketua komite MSS untuk memberhentikan sebagai bhikkhu mantan muridnya tersebut karena menggelapkan aset 900 juta baht dari viharanya dan mendistorsi ajaran Buddha. MSS diperintahkan untuk bertindak 16 tahun yang lalu oleh mendiang Sangharaja Somdet Phra Nyanasamvara. Kasus bersejarah yang ditutup dalam waktu singkat tanpa memberlakukan hukuman apa pun untuk bhikkhu tersebut, telah melemparkan MSS ke dalam cahaya yang sangat negatif sejak saat itu,” tulis Patcharawalai.

“Juga bukan rahasia bahwa Somdet Chuang kadang-kadang bergabung dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Vihara Dhammakaya, apalagi setelah menerima dukungan keuangan yang besar dari vihara tersebut. Ia pernah dilaporkan mengatakan bahwa viharanya dan Vihara Dhammakaya seperti saudara dan terikat untuk saling mendukung.

Sikapnya disebut memalukan karena ia dianggap tidak menyadari bahwa betapa Phra Dhammachayo dan viharanya telah merusak agama selama bertahun-tahun dengan kumpulan ajaran baru mereka yang benar-benar berlawanan dengan perkataan Buddha. Alih-alih menjauhkan diri dari bhikku yang korup, atau setidaknya memperingatkan bhikkhu itu untuk menghentikan menipu para umat Buddha, Somdet Chuang dianggap terlihat merasa senang mempertahankan hubungan dengannya.

Somdet Chuang baru-baru ini juga diduga terlibat dalam skandal mobil mewah yang kasusnya saat ini dalam penyelidikan oleh Departemen Investigasi Khusus dan diharapkan lengkap penyelidikannya pada 20 Februari 2016 ini.

Patcharawalai menyatakan perasaan agak kecewanya terhadap kebanyakan bhikkhu yang memilih sikap untuk bungkam mengenai kelemahan yang nyata dari Somdet Chuang tersebut. Selain bhikkhu aktivis Phra Buddha Issara, tak seorang pun di kebhikkhuan berani sama sekali mempertanyakan penilaian MSS. Lebih buruknya, Phra Methi Thammachan, salah satu pendukung setia Somdet Chuang, selalu mengancam akan menyerukan kepada para bhikkhu dari seluruh Thailand untuk menggelar protes jika pemerintah tidak menyampaikan nama Somdet Chuang untuk penobatan secara kerajaan.

Perbedaan antara umat Buddha awam dan para bhikkhu mengenai penilaian kualifikasi terhadap calon bhikkhu yang pantas menjadi Sangharaja Thailand menjadi sesuatu yang aneh.

“Sementara kelompok Buddhis dipimpin oleh Paiboon menempatkan prioritas mereka atas dasar moral dan memperjelas bahwa mereka tidak ingin seorang bhikkhu dengan sejarah’ seperti Somdet Chuang menjadi Sangharaja Ke-20 negara tersebut, kelompok bhikkhu yang dipimpin oleh Phra Methi Thammachan mengesampingkan kemoralannya (Somdet Chuang) yang dipertanyakan dan bersikeras bahwa kesenioritasannya cukup membuatnya memenuhi syarat untuk peran tersebut,” kata Patcharawalai.

Baru-baru ini, kritikus sosial Sulak Sivaraksa, salah satu intelektual yang paling dihormati di Thailand, menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap pencalonan Somdet Chuang. Ia memperingatkan bahwa jika bhikkhu tersebut menjadi Sangharaja yang baru, Dhammakaya akan melebarkan sayapnya lebih lebar dan Buddhisme tradisional di Thailand akan hancur. Inilah apa yang telah lama dikhawatirkan oleh banyak umat Buddha dan mengapa mereka tidak ingin melihat Somdet Chuang mencapai tujuannya.

Kontroversi nominasi Somdet Chuang dianggap sebagai contoh terbaru yang menunjukkan Maha Sangha Sabha (MSS) Thailand sekali lagi gagal mempertahankan kebajikan moral sebagai hal yang tertinggi setelah sering kali MMS tidak mampu mengatasi permasalahan dalam kebhikkhuan. 

Banyak orang yang menilai sistem autokrasi dan feodal dalam MMS memberikan kontribusi terhadap kerentanan dewan tersebut terhadap godaan materialistis. Suara permintaan agar MMS direformasi atau dihapuskan semakin nyaring tiap hari dan dipandang menjadi kebutuhan mendesak demi kelangsungan masa depan Agama Buddha di Thailand.

Biografi singkat Somdet Chuang

Somdet Phra Maha Ratchamangalacharn lahir dengan nama Chuang Sudprasert di Distrik Bang Phli, Provinsi Samut Prakan, pada 26 Agustus 1925. Ia ditahbiskan sebagai samanera di usia 14 tahun pada 1 Mei 1939 di Vihara Sangkhraja di Distrik Lat Krabang, Bangkok. Ditahbiskan menjadi bhikkhu pada 11 Mei 1945 di Vihara Paknam Phasi Charoen. Ia mendapat gelar somdet pada tahun 1995.[Bhagavant, Bangkok Post, 14/2/16, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: