Bodhi Yātrā » Tiongkok » Travel

Uniknya Jalan Kebijaksanaan di Hong Kong

Minggu, 13 Desember 2015

Bhagavant.com,
Hong Kong, Tiongkok – Menelusuri Jalan Kebijaksanaan menjadi pilihan wisata yang unik dan menarik sebagai pelengkap saat mengunjungi rupaka Buddha Tian Tan (Tian Tan Buddha) dan Vihara Po Lin di Ngong Ping, Pulau Lantau, Hong Kong.

Jalan Kebijaksanaan (Wisdom Path, Xin Jing Jian Lin), Pulau Lantau, Hong Kong. terlihat dari jauh.
Jalan Kebijaksanaan (Wisdom Path, Xin Jing Jian Lin), Pulau Lantau, Hong Kong. terlihat dari jauh. Foto: dokumen bhagavant.com

Jalan Kebijaksanaan (Wisdom Path), berlokasi di kaki Puncak Lantau (Lantau Peak), atau kurang lebih 0,7 km dari Altar Bumi (地壇, Di Tan) yaitu plaza atau pelataran tengah berbentuk lingkaran dengan bendera Buddhis mengelilinginya, terletak di antara jalan menuju Vihara Po Lin dan di depan anak tangga menuju rupaka Buddha Tian Tan.

Meskipun menjadi salah satu objek wisata, tempat yang memiliki nama asli Xin Jing Jian Lin (心經簡林, Xīnjīng Jiǎn Lín; harfiah: Hutan Inskripsi Sutra Hati) ini sering luput dari perhatian para pelancong, khususnya mancanegara karena letaknya yang tersendiri dari 2 objek wisata utama di daerah itu, yaitu Buddha Tian Tan dan jalan menuju Vihara Po Lin.

Sesuai dengan nama aslinya, Hutan Inskripsi Sutra Hati, adalah sebuah tempat objek wisata pemandangan unik berupa kumpulan tonggak-tonggak kayu yang berdiri tegak layaknya hutan, yang permukaannya terukir teks kaligrafi Sutra Hati (Skt: Prajñāpāramitā Hṛdaya Sūtra), teks Buddhis tradisi Mahayana yang sangat terkenal.

Tonggak arah "Wisdom Path" (kiri) dan jalan menuju lokasi Jalan Kebijaksanaan (kanan).
Tonggak arah “Wisdom Path” (kiri) dan jalan menuju lokasi Jalan Kebijaksanaan (kanan). Foto: dokumen bhagavant.com

Berada di bukit kecil, tonggak-tonggak setinggi 8-10 meter yang berjumlah 38 buah dan tampak tersusun dalam pola menyerupai simbol ∞ (tak terhingga) tersebut merupakan karya Profesor Jao Tsung-I, seorang sarjana, penyair, sekaligus seniman kelahiran Tiongkok.

Terinspirasi oleh pahatan batu Vajracchedika Prajnaparamita Sutra di Gunung Tai (Taishan) di Shandong, Tiongkok, saat kunjungannya pada tahun 1980, Profesor Jao Tsung-I menyelesaikan kaligrafi Sutra Hati tersebut pada tahun 2002 dan didedikasikan untuk warga Hong Kong di bulan Juni di tahun yang sama. Konstruksi Hutan Inskripsi Sutra Hati sendiri selesai pada tahun 2005.

Menuju Jalan Kebijaksanaan dan menemukannya pada dasarnya tidaklah sulit, hanya butuh tenaga dan kesabaran untuk berjalan kaki sekitar 15 menit dengan mengikuti jalan masuk ke dalam hutan. Papan petunjuk terpasang dengan jelas sehingga kecil sekali kemungkinan untuk tersesat.

Perjalanan dimulai di plaza Altar Bumi. Tampak sebuah jalan di sebelah kiri anak tangga menuju Buddha Tian Tan, atau pengunjung dapat melihat papan petunjuk jalan menuju ke Jalan Kebijaksanaan (Wisdom Path) yang searah dengan jalan menuju Puncak Lantau.

Hanya beberapa menit perjalanan, di sisi jalan akan terlihat tonggak yang bertuliskan “Wisdom Path” sebagai penanda arah. Jalan setapak yang dilalui juga sudah berupa plesteran semen, sehingga nyaman untuk dilalui. Selama perjalanan tampak hutan dengan pepohonan di sisi kiri dan kanan jalan.

Gapura Fenghuang Guan Ri (kiri) dan patung burung phoenix (kanan) menuju Puncak Lantau.
Gapura Fenghuang Guan Ri (kiri) dan patung burung phoenix (kanan) menuju Puncak Lantau. Foto: dokumen bhagavant.com

Di akhir perjalanan akan tampak sedikit tanah lapang dengan dua persimpangan jalan. Jalan sebelah kanan adalah jalan mendaki Hutan Inskripsi Sutra Hati, dan jalan di depannya dengan gapura bertuliskan Fenghuang Guan Ri (鳳凰觀日, Fènghuáng Guān RìPhoenix Sunrise) serta patung burung phoenix adalah jalan menuju ke pendakian Puncak Lantau untuk melihat matahari terbit.

Menelusuri sepanjang Jalan Kebijaksanaan atau Hutan Inskripsi Sutra Hati, tampak tonggak-tonggak besar di sisi jalan yang berupa anak-anak tangga yang mendaki. Meskipun cukup aman untuk didaki, namun tetap perlu berhati-hati karena anak-anak tangga tersebut terbuat dari lempengan batu yang tidak rata dengan ketinggian yang tidak sama.

Teks Sutra Hati pada tonggak ke-2 (kiri): "Guān zìzài púsà xíng shēn bōrě"(觀自在菩薩行深般若) dan ke-3 (kanan): bōluómì duō shí (波羅蜜多時).
Teks Sutra Hati pada tonggak ke-2 (kiri): “Guān zìzài púsà xíng shēn bōrě”(觀自在菩薩行深般若) dan ke-3 (kanan): bōluómì duō shí (波羅蜜多時). Foto: dokumen bhagavant.com

Para pengunjung yang memahami teks bahasa Tionghoa tentu akan dapat membaca tulisan yang tertera pada tonggak-tonggak tersebut, sedangkan yang tidak mamahami, tetap akan menikmati pemandangan di sekeliling tempat itu. Uniknya, satu dari 38 tonggak yang terdapat di puncak tertinggi bukit itu, dibiarkan kosong tidak terukir tulisan. Hal ini menyiratkan konsep “Sunyata” (Kekosongan) yang merupakan inti ajaran dari Sutra Hati.

Setelah memperhatikan Hutan Inskripsi Sutra Hati dari dekat dan mengabadikannya dengan foto, pengunjung juga dapat melihat objek wisata tersebut dari kejauhan dengan mengambil jalan menuju ke pendakian Puncak Lantau dengan melewati gapura Fenghuang Guan Ri.

Sekitar 30 meter melewati gapura Fenghuang Guan Ri, telah disiapkan oleh pengelolah sebuah titik lokasi yang tepat untuk melihat keseluruhan Hutan Inskripsi Sutra Hati. Di sini juga terdapat papan pelat logam yang bergambar denah dari Jalan Kebijaksanaan termasuk nomor dan teks-teks Sutra Hati yang tertera pada tonggak-tonggak tersebut.

Sentuhan jari para pengunjung khususnya pada pola ∞ (tak terhingga) dan No. 23 membuat denah Jalan Kebijaksanaan ini tampak kotor dan berminyak.
Sentuhan jari para pengunjung khususnya pada pola ∞ (tak terhingga) dan No. 23 membuat denah Jalan Kebijaksanaan ini tampak kotor dan berminyak. Foto: dokumen bhagavant.com

Tertera di sana, tonggak kayu No.23 tidak terdapat kata-kata yang menyertainya. Kata-kata yang seharusnya tertera tulisan “Wu gua ai” (無罣礙, Wú guà ài – tidak ada rintangan/halangan) dalam teks lengkap Sutra Hati, tidak dicantumkan dan dibiarkan kosong.

Puas berlama-lama di Jalan Kebijaksanaan, para pengunjung dapat kembali menelusuri jalan yang sebelumnya telah dilewati untuk kembali ke rupaka Buddha Tian Tan dan Vihara Po Lin.

Musim semi (sekitar bulan Mei) menjadi waktu yang tepat untuk mengunjungi dan melihat pemandangan di Jalan Kebijaksanaan. Karena letaknya di bukit, kabut yang bisa datang sewaktu-waktu dapat menambah kesan mistis saat menelusurinya.[Bhagavant, 13/12/15, Sum]

Kata kunci:
Penulis: