Asia Oseania » Asia Timur » Jepang

Puluhan Ribu Vihara di Jepang Hadapi Krisis Eksistensi

Selasa, 10 November 2015

Bhagavant.com,
Tokyo, Jepang – Lebih dari 12.000 vihara di Jepang mengalami krisis eksistensi akibat kekurangan viharawan sebagai penghuni tetap, sebuah survei menunjukkan hal itu.

Umat Vihara Konno di Ota, Prefektur Shimane, baru-baru ini memutuskan untuk menutup vihara tradisi Jodo
Umat Vihara Konno di Ota, Prefektur Shimane, baru-baru ini memutuskan untuk menutup vihara tradisi Jodo. Foto: asahi.com

Survei yang dilakukan Asahi Shimbun pada bulan lalu, menunjukkan bahwa 12.065 vihara yang mewakili 16 persen vihara dari 10 tradisi atau aliran Buddhisme di Jepang termasuk tradisi Soto, Jodo, Shin, Shingon, dan Rinzai mengalami kekurangan viharawan sebagai penghuni tetap vihara. Hal ini dapat menyebabkan ditutupnya sejumlah vihara.

Menurut buku referensi tahun 2014 mengenai agama yang dipublikasikan oleh Badan Urusan Kebudayaan Jepang, vihara-vihara yang bergabung dengan tradisi atau aliran Buddhisme tersebut mencakup 80 persen dari keseluruhan vihara di Jepang yang berjumlah 75.900.

Survei Asahi Shimbun juga menemukan bahwa 434 vihara dari sembilan aliran denominasi besar telah ditutup selama dekade terakhir, sehingga sulit bagi umat untuk menjaga pemakaman keluarga mereka dan melakukan upacara peringatan terhadap mendiang, mengingat vihara-vihara di Jepang cukup berperan dalam kegiatan pemakaman.

Vihara-vihara tersebut berjuang untuk mempertahankan keberadaan umat dan untuk menemukan viharawan penggantinya semenjak populasi penduduk yang menua dan menyusut di berbagai daerah pedesaan.

“Vihara-vihara masih tetap sebagai pusat dari banyak komunitas lokal, dan tutupnya mereka kemungkinan akan memudarkan hubungan antara penduduk,” kata Zaitetsu Nakamura, direktur badan umum aliran Jodo, seperti yang dilansir Asahi Shimbun, Minggu (11/10/2015). “Ini adalah masalah yang paling signifikan bagi aliran Buddhisme saat ini.”

Kini di Jepang ada 12.065 vihara tanpa viharawan, 10.496 dikelola dan dipelihara oleh kepala viharawan yang bukan viharawan penghuni tetap tetapi yang datang dari vihara lainnya. Sisanya 1.569 vihara tidak memiliki kepala vihara penghuni tetap.

Vihara-vihara yang tidak emmiliki viharawan kemungkinan akan bergabung dengan vihara-vihara lain atau ditutup setelah melalui prosedur penutupan sebagai lembaga keagamaan secara sukarela.

Toshinori Kawamata, seorang profesor sosiologi agama di Perguru Tinggi Junior Suzuka di Prefektur Mie, mengatakan aliran-aliran Buddhisme perlu memikirkan kembali sistem generasi penerus di vihara saat ini.

Menurutnya, merupakan keharusan bagi aliran-aliran Buddhisme untuk memunculkan sebuah sistem untuk mengirimkan viharawan-viharawan muda yang baru saja menyelesaikan pelatihan untuk mengisi vihara-vihara yang kosong dan membantunya terus beroperasi sebagai pusat-pusat komunitas.

Selain berkurangnya viharawan seperti bhiksu, krisis eksistensi vihara-vihara di Jepang juga dipicu dengan menyusutnya populasi masyarakat pedesaan di Jepang khususnya kaum perempuan yang selama ini menyokong vihara-vihara di daerah mereka.

Menurut laporan Dewan Kebijakan Jepang (JPC) yang dirilis pada tanggal 8 Mei 2015, 896 (49,8 persen) dari 1.800 kota dan desa di kawasan pemerintah daerah di seluruh Jepang, pada tahun 2014 populasi perempuan berusia antara 20-39 tahun akan menurun menjadi kurang dari setengah dari apa yang tercatat pada tahun 2010. JPC mengatakan populasi pria juga akan menurun secara bersamaan. Salah satu penyebabnya adalah eksodus kaum muda tersebut ke kota-kota besar.[Bhagavant, 10/11/15, Sum]

Kata kunci:
Penulis: