Tiongkok

Vihara Chan Buddha Giok Dikunjungi Pimpinan MPR RI

Minggu, 20 September 2015

Bhagavant.com,
Shanghai, Tiongkok – Vihara Chan Buddha Giok di Shanghai, Tiongkok, mendapatkan kunjungan dari Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI pada Minggu (20/9/2015). Rombongan delegasi MPR itu berkunjung dalam rangka untuk melakukan kunjungan balasan pimpinan MPR Tiongkok yang datang ke Gedung MPR RI beberapa waktu yang lalu.

Ketua MPR Zulkifli Hasan ketika berkunjung ke Vihara Chan Buddha Giok di Shanghai, Tiongkok. Foto: Kompas.com
Ketua MPR Zulkifli Hasan ketika berkunjung ke Vihara Chan Buddha Giok di Shanghai, Tiongkok. Foto: Kompas.com

Didampingi oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Tiongkok di Indonesia Alim Markus, rombongan delegasi MPR tersebut terdiri dari Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua Fraksi PDI-P di MPR Achmad Basarah, Ketua F-Golkar di MPR Rambe Kamarul Zaman, Ketua F-PKS di MPR TB Soenmandjaja, dan Ketua F-Hanura di MPR Sarifudding Sudding.

Saat di Vihara Chan Buddha Giok (玉佛禅寺 – Yùfó Chán Sì, Jade Buddha Chan Temple), delegasi MPR RI dibawa berkeliling vihara yang berisi berbagai macam benda bersejarah yang berhubungan dengan Agama Buddha.

Hui Jing, salah satu anggota MPR Tiongkok dari utusan golongan Agama Buddha mengatakan bahwa Vihara Chan Buddha Giok berusia 130 tahun namun ia menganggap vihara tersebut tidak terlalu bersejarah karena menurutnya masih banyak vihara lain di Tiongkok yang usianya jauh lebih tua.

Meskipun demikian, kata Hui Jing, vihara ini cukup penting di Shanghai karena dikenal sebagai pusat Agama Buddha di Shanghai. Banyak para bhiksu yang belajar di Vihara Chan Buddha Giok sebelum mereka ditempatkan di vihara lain.

“Kalau belum ke sini, belum ke Shanghai. Bapak berapa kali ke Shanghai?” kata Hui Jing kepada Ketua MPR RI Zulkifli, seperti yang dilansir Kompas, Minggu (20/9/2015).

Zulkifli mengaku sudah sering ke Shanghai, tetapi baru kali ini datang ke Vihara Chan Buddha Giok.

“Berarti baru kali ini ke Shanghai,” jawab Hui Jing yang disambut tawa oleh rombongan MPR RI.

Rupaka Buddha Giok di Vihara Chan Buddha Giok, Shanghai, Tiongkok.
Rupaka Buddha Giok di Vihara Chan Buddha Giok, Shanghai, Tiongkok. Foto: wikimedia.org

Hui Jing juga menjelaskan mengenai rencana renovasi vihara untuk mengurangi risiko kerusakan akibat banyaknya pengunjung. Renovasi tersebut juga berguna untuk pelestarian. Rencananya, gedung utama akan digeser sejauh 30 meter dengan teknologi canggih.

Hui Jing ingin agar delegasi MPR RI bisa kembali ke Vihara Chan Buddha Giok setelah renovasi selesai.

Sementara itu, Zulkifli berbicara soal hubungan Indonesia-Tiongkok yang sudah berlangsung sangat lama. Ia juga menyinggung kehidupan antara umat beragama di Indonesia.

Rupaka Buddha berbaring dari Giok di Vihara Chan Buddha Giok, Shanghai, Tiongkok
Rupaka Buddha berbaring dari Giok di Vihara Chan Buddha Giok, Shanghai, Tiongkok. Foto: wikimedia.org

“Agama Buddha masuk agama resmi di Indonesia. Kami bebas melaksanakan agamanya masing-masing, saling menghormati,” kata Zulkifli.

Sebelum delegasi MPR RI meninggalkan Vihara Chan Buddha Giok menuju Taman Yuyuan, Zulkifli mengundang agar mampir ke MPR jika ke Jakarta.

Vihara Chan Buddha Giok merupakan vihara tradisi Chan (Zen) dan Tanah Suci (Murni) didirikan pada tahun 1882 dengan dua rupaka (arca, patung, citra -red) Buddha yang terbuat dari giok yang diimpor dari Myanmar (Birma) melalui laut.

Salah satu rupaka Buddha berbaring di Vihara Chan Buddha Giok, Shanghai, Tiongkok, terbuat dari marmer.
Salah satu rupaka Buddha berbaring di Vihara Chan Buddha Giok, Shanghai, Tiongkok, terbuat dari marmer. Foto: tripadvisor.com

Rupaka-rupaka tersebut yaitu rupaka Buddha duduk setinggi 1,95 meter dan seberat 3 ton, dan rupaka Buddha berbaring ukuran kecil yang mewakili parinibbana Sri Buddha.

Vihara ini sekarang juga berisi rupaka Buddha berbaring Buddha yang berukuran lebih besar yang terbuat dari marmer yang merupakan sumbangan dari Singapura, dan sering disalahartikan oleh pengunjung sebagai rupaka yang terbuat dari giok.[Bhagavant, 20/9/15, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: