Asia Selatan » Seremonial » Tradisi dan Budaya

Mengenal Hari Raya Buddhis Purnama Madu

Senin, 14 September 2015

Bhagavant.com,
Jalur Bukit Chittagong, Bangladesh – Salah satu hari raya Buddhis di bulan September adalah Hari Raya Purnama Madu (Skt: Madhu Purnima). Seperti namanya, hari raya ini melibatkan madu, cairan yang ada pada sarang lebah.

Ilustrasi Purnama Madu: Tergerak dengan pengabdian Gajah Pārileyyaka, seekor kera mempersembahkan madu kepada Sri Buddha.
Ilustrasi Purnama Madu: Tergerak dengan pengabdian Gajah Pārileyyaka, seekor kera mempersembahkan madu kepada Sri Buddha. Gbr: palungdham.com

Setiap tahunnya umat Buddha di beberapa negara seperti di Bangladesh, India, dan Thailand merayakan Hari Raya Purnama Madu yang jatuh pada bulan Bhādrapada (Pali: Poṭṭhapāda – bulan ke-5 penanggalan India kuno) atau sekitar bulan September. Tahun ini perayaan Purnama Madu jatuh pada 28 September 2015.

Hari Raya Purnama Madu merupakan perayaan untuk memperingati peristiwa penting saat sejumlah hewan melakukan pelayanan dan dukungan terhadap Sri Buddha saat Ia melakukan vassa (retret musim hujan) yang ke-10 di Hutan Rakkhita di dekat Desa Pārileyyaka.

Dalam kisah disebutkan Buddha Gotama pergi meninggalkan para bhikkhu yang hidup di Kosambi setelah mereka tidak mau mendengarkan nasihat-Nya agar mereka menghentikan pertengkaran yang telah terjadi di antara mereka. Ia pergi seorang diri dan menetap di Hutan Rakkhita untuk melewatkan retret musim hujan-Nya.

Di sana Ia mendapatkan pelayanan yang sangat baik dari seekor gajah yang melakukan berbagai pekerjaan dari menyapu hingga membawakan makanan dan minuman. Gajah ini kemudian dikenal dengan nama Gajah Pārileyyaka.

Melihat pengabdian sang gajah, seekor kera tergugah untuk melakukan perbuatan baik kepada Sri Buddha dengan mempersembahkan sarang madu yang tidak ada lagi lebahnya. Melihat Sri Buddha menerima persembahan tersebut, sang kera merasa sangat senang sehingga menari dan berlompatan dari dahan pohon yang satu ke yang lain.

Malangnya, salah satu dahan pohon patah lalu sang kera terjatuh dan ia mati karena tubuhnya tertusuk oleh sebatang tunggul. Namun, karena pikirannya yang diliputi oleh rasa bakti kepada Sri Buddha, sang kera terlahir kembali di Surga Tāvatiṃsa dan dikenal sebagai Dewa Makkaṭa. Peristiwa itu diyakini terjadi pada bulan purnama. Dari peristiwa persembahan madu itulah nama Perayaan Purnama Madu berasal.

Di akhir kisah, setelah mendapatkan sanksi moral dari para umat awam karena sikap buruk mereka, para bhikkhu yang berselisih akhirnya menyadari kesalahan mereka dan berhenti berselisih dan memohon maaf kepada Sri Buddha dan masyarakat.

Perayaan Purnama Madu diperingati oleh mayoritas umat Buddha di Asia Selatan dan Tenggara dengan mempersembahkan madu kepada sangha bhikkhu sebagai salah satu kegiatan utama selain persembahan makanan lainnya, bunga, dupa, dan lilin (pelita). Di Thailand persembahan madu kepada sangha Bhikkhu disebut Tak Bat Nam Phueng (Thailand: ตักบาตรน้ำผึ้ง – Tạkbātr n̂ảp̄hụ̂ng).

Di Thailand persembahan madu pada perayaan Purnama Madu disebut Tak Bat Nam Phueng.
Umat Buddha di Thailand persembahan madu kepada para bhikkhu pada perayaan Purnama Madu (Tak Bat Nam Phueng). Foto: nu.ac.th

Sebagai hari yang juga merupakan hari Uposatha (memurnikan diri atau puasa), pada perayaan Purnama Madu, umat Buddha juga melaksanakan pelatihan moralitas atau sila yang dikenal dengan uposatha sila yang terdiri dari 8 sila (Pali: aṭṭha-silā).

Perayaan dilaksanakan di berbagai vihara, kantor-kantor organisasi Buddhis, dan sekolah-sekolah Buddhis, dan dimulai dengan menaikkan bendera nasional dan bendera Buddhis di pagi hari. Kemudian diikuti dengan puja bakti bersama dan persembahan makanan kepada para bhikkhu. Seremoni diakhiri dengan persembahan madu oleh para umat kepada para bhikkhu sebelum tengah hari.

Selepas itu umat Buddha juga menyelenggarakan kegiatan lainnya seperti donor darah dan melakukan amal berupa memberikan sumbangkan pakaian, obat-obatan, makanan, dan barang-barang lainnya untuk orang-orang yang membutuhkan, meditasi, dan lain sebagainya.

Perayaan Hari Raya Purnama Madu tidak hanya memberikan pesan moral bahwa hewan pun dapat memberikan pengabdian layaknya manusia, tetapi juga memberikan pesan mengenai pentingnya keharmonisan dalam sangha, serta memungkinkannya para umat awam untuk memberikan sanksi moral berupa penarikan dukungan kebutuhan bagi para bhikkhu yang memiliki sikap yang tidak terpuji.[Bhagavant, 14/9/15, Sum]

Kata kunci:
Penulis: