Indonesia » Seremonial

Pesan Waisak 2559 BE Sangha Agung Indonesia

Kamis, 4 Juni 2015

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Dengan mengangkat tema Waisak 2559 BE/2015 yaitu “Dharma Pelindung Dunia”, dalam pesan Waisak-nya, Sangha Agung Indonesia (SAGIN) menjelaskan mengenai Dharma yang diajarkan Buddha, di antaranya adalah instruksi kedisiplinan moral sebagai pondasi untuk melindungi makhluk dari bahaya-bahaya dunia.

Sangha Agung Indonesia

Dalam pesan Waisak (Vesak) yang ditanda tangani oleh Y.M. Mahathera Nyanasuryanadi sebagai Ketua Umum, SAGIN mengajak seluruh masyarakat, tokoh agama, pejabat dan para pemimpin negara saling mengingatkan untuk memiliki budaya malu dan takut terhadap tindakan dan akibat dari mengesampingkan moralitas.

Berikut Pesan Waisak yang disampaikan oleh SAGIN tersebut.

PESAN WAISAK 2559 BE/2015
SANGHA AGUNG INDONESIA

Namo Sanghyang Ādi Buddhaya
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammā Sambuddhassa
Namo Sabbe Bodhisattāya-Mahasattāya

DHARMA PELINDUNG DUNIA

Purnamasiddhi di bulan Waisak telah tiba. Bulan purnama yang di tunggu oleh umat Buddha untuk mengingat dan merenungkan makna spiritual dan semangat dalam tiga peristiwa besar sebagai bentuk penghormatan kepada Buddha. Tiga peristiwa ini adalah lahirnya Pangeran Siddharta Gotama di Lumbini, di taman yang indah tahun 623 SM. Beliau adalah Bodhisatta yang turun ke bumi dari surga Tusita untuk menjadi Buddha (M.iii.120). Pencapaian Pencerahan Bodhisatta Sidharta Gotama atau keberhasilan dalam mewujudkan Nibbana dan menjadi Sammāsambuddha di Bodhgaya, di bawah pohon Bodhi tahun 588 SM (M.i.249). Parinibbana Buddha Gotama di Kusinara, di antara dua pohon Sala kembar tahun 543 SM (D.ii.156). Tiga peristiwa besar yang terjadi pada purnama di bulan Waisak merupakan totalitas kehidupan yang penuh dengan dedikasi dan karya besar bagi spiritual dan kemanusiaan dunia.

Buddha adalah Guru spiritual yang sangat peduli terhadap kebahagiaan dunia. Begitu besar belas kasih Buddha kepada dunia, sehingga Beliau membabarkan Dharma kepada mereka yang telah siap menerimanya (M.i.169). Dharma yang diajarkan Beliau diantaranya adalah instruksi kedisiplinan moral sebagai pondasi untuk melindungi makhluk dari bahaya-bahaya dunia. Mereka yang telah siap dengan keyakinan mengambil perlindungan kepada Buddha, Dharma dan Sangha. Buddha mengintruksikan Jalan Perlindungan di dalam kedisiplinan latihan lima moralitas (pañcasila); kedisiplinan latihan lima moralitas ini adalah menghindari pembunuhan, pencurian, asusila, ucapan salah dan menghindari mengkonsumsi zat yang memabukkan (A.iv.120).

Kedisiplinan lima moralitas dapat muncul dan menjadi kebiasaan hidup apa bila manusia memiliki kualitas baik yang menjadikan pelindung dunia (dhammā sukkām lokam pālenti), yaitu perasaan malu terhadap tindakan mengesampingkan moralitas dan perasaan takut akibat mengesampingkan moralitas (hirī ca ottappañca) (A.i.51). Perasaan malu adalah papan sandaran (S.i.33). Jika kita dapat melihat kedalam diri, bahwa kita adalah manusia yang beragama, berbudaya, cerdas dan bermoral, maka akan muncul perasaan malu terhadap tindakan yang mengesampingkan moralitas. Demikian halnya dengan perasaan takut terhadap perbuatan salah melalui jasmani, ucapan dan pikiran yang tidak bermanfaat (M.ii.356). Perasaan takut ini dapat muncul apa bila kita mampu melihat kedalam diri, bahwa ada akibat dari setiap perbuatan. Inilah yang kita kenal sebagai karma di dalam agama Buddha (A.iii.415). Memahami perasaan malu dan takut terhadap tindakan dan akibat mengesampingkan moralitas akan mampu menumbuh-kembangkan sifat religius di dalam diri, sehingga mampu melihat manfaat dan bahaya yang ada di dalamnya.

Keluarga, masyarakat, negara dan bahkan dunia akan mampu menumbuhkan kepedulian terhadap kebahagian dan melindungi antar manusia bahkan dirinya dari bahaya hukuman masyarakat, adat dan negara. Lebih jauh di masa depan kelahiran di alam yang rendah karena mengesampingkan moralitas. Dalam kesempatan ini, saya mengajak kepada seluruh masyarakat, tokoh agama, pejabat dan para pemimpin negara, mari kita saling mengingatkan untuk memiliki budaya malu dan takut terhadap tindakan dan akibat mengesampingkan moralitas agar bangsa Indonesia terhindar dari krisis kepercayaan, perdebatan politik mengedepankan kepentingan golongan dan pribadi yang berdampak pada stabilitas keamanan, ekonomi, sosial, pendidikan dan kepribadian bangsa Indonesia yang kita rasakan bersama sampai saat ini.

Semoga momen Waisak 2559 BE di tahun 2015 ini menginspirasi pentingnya menumbuh-kembangkan perasaan malu dan takut terhadap tindakan dan akibat mengesampingkan moralitas agar kita dapat meneladani Buddha di dalam menciptakan kebahagiaan dan perlidungan dunia, khususnya bangsa Indonesia. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Sādhu! Sādhu! Sādhu!

Mettacittena,
SANGHA AGUNG INDONESIA

Mahathera Nyanasuryanadi
Ketua Umum

Pada perayaan Hari Waisak 2559 EB, Selasa (2/6/2015) Sangha Agung Indonesia dan Keluarga Buddhayana Indonesia menyelenggarakan puja bakti di Candi Sewu di Klaten, Jawa Tengah.[Bhagavant, 4/6/15, Sum]

Kata kunci: , , , ,
Penulis: