Amerika » Amerika Selatan

Sedikit Melongok Perkembangan Buddhisme di Brasil

Minggu, 13 Juli 2014

Bhagavant.com,
Brasília, Brasil – Selain sebagai tempat penyelenggaraan pertandingan akbar Piala Dunia FIFA 2014, Brasil juga merupakan salah satu tempat bagi berkembangnya Buddhisme atau Agama Buddha di Benua Amerika.

Vihara Busshin (Busshinji), Komunitas Buddhis Soto Zen di São Paulo, Brasil
Vihara Busshin (Busshinji), Komunitas Buddhis Soto Zen di São Paulo, Brasil. Foto: panoramio.com

Berdasarkan sensus 2010 Institut Geografi dan Statistik Brasil (Instituto Brasileiro de Geografia e Estatística – IBGE), dengan jumlah sebesar 243.966 orang umat Buddha atau sekitar 0,1% dari jumlah populasi warga Brasil sebesar 192.755.799, menjadikan Brasil sebagai tempat bagi populasi Buddhis terbesar ketiga di Benua Amerika setelah Amerika Serikat dan Kanada.

Dengan populasi sebesar itu, dapat dikatakan bahwa Buddhisme menjadi agama minoritas terbesar di antara agama minoritas lainnya di Brasil seperti Islam, Yahudi dan Hindu.

Sejarah Buddhisme mengarungi samudra menuju Brasil dimulai dari para imigran asal Jepang pada awal abad ke-20, sekitar tahun 1908. Mereka membawa berbagai cabang Buddhisme yang berkembang di Jepang seperti Sōtō Zen (salah satu dari 3 tradisi Zen di Jepang) dan Jōdo Shinshū (salah satu tradisi dari Tanah Murni/Suci).

Cabang-cabang Buddhisme asal Jepang tersebut tetap ada dan kuat di Brasil hingga sekarang. Namun, cabang-cabang tersebut menghadapi sejumlah tantangan yang membatasi pengaruh dan jangkauan mereka.

Salah satu tantangan tersebut adalah ketidaksesuaian tujuan dan harapan antara warga kelahiran Jepang yang lebih tradisional dan warga asli Brasil bersama warga keturunan Jepang.

Meskipun warga Jepang memberikan kontribusi terhadap pengenalan Buddhisme ke Brasil, ketaatan terhadap Buddhisme tidak terlalu luas di antara kalangan keturunan imigran Jepang yang sebagian besar beralih keyakinan ke Katolik Roma. Mereka yang mempraktikan dan mengidentifikasi dirinya dengan Buddhisme asal Jepang tersebut cenderung menampilkan berbagai sikap terkait hubungan mereka dengan etnis dan tradisi dari agamanya.

Untuk berbagai tingkat, sebagian besar dari mereka mencoba untuk berbaur secara bersamaan dengan budaya Brasil lokal sesuai dengan pilihan pribadi mereka. Sebagian besar cabang-cabang Buddhisme Jepang tersebut sedang berusaha untuk menjangkau warga Brasil yang bukan dari keturunan Jepang, namun sering menghadapi hambatan internal yang cukup besar dalam prosesnya.

Vihara Zu Lai di Cotia, Negara Bagian São Paulo, Brasil.
Gerbang Vihara Zu Lai di Cotia, Negara Bagian São Paulo, Brasil. Foto: wikipedia.org

Kehadiran Buddhisme Mahayana dari Tiongkok di Brasil berpusat di Negara Bagian São Paulo terbukti dengan keberadaan Vihara Zu Lai dan Universitas Buddhis pendampingnya di Kota Cotia, yang didirikan pada tahun 2003. Vihara ini berafiliasi dengan Vihara Fo Guang Shan dari Taiwan. Cabang Vihara Fo Guang Shan sendiri berada di Kota Olinda, Negara Bagian Pernambuco.

Dalam beberapa tahun terakhir ini dapat dilihat pertumbuhan minat dari warga Brasil dalam praktek Zen yang berasal dari Korea dan dari Vietnam. Cabang Zen asal Vietnam yang ada berafiliasi pada Y. M. Bhiksu Thich Nhat Hanh dan mendirikan vihara dan komunitas di Kota São Paulo dan Kota Rio de Janeiro.

Kepopuleran nama besar Y. M. Dalai Lama Ke-14 sebagai peraih Penghargaan Nobel juga ikut berperan dalam perkembangan Buddhisme di Brasil, khususnya Buddhisme Vajrayana Tibet dengan keempat cabang besarnya: Gelug, Kagyu, Nyingma, dan Sakya.

Buddhisme Tibet mulai berakar pada tahun 1980-an. Pada tahun 1992, kunjungan dari Y. M. Dalai Lama dan Rinpoche Lama Zopa membuat dampak yang besar pada warga Brasil yang tertarik karena pesona dan rasa ingin tahu.

Buddhisme Theravada juga hadir di Brasil yang dimulai dengan didirikannya Masyarakat Buddhis Brasil (Sociedade Budista do Brasil) pada tahun 1967 oleh para anggota dari Masyarakat Teosofi Brasil (Sociedade Teosófica do Brasil) di Rio de Janeiro.

Pada awalnya berdirinya, Masyarakat Buddhis Brasil memiliki misi untuk menyajikan penyebaran Buddhisme dengan pendekatan yang nonsektarian. Kemudian dalam perjalanannya, komunitas ini memantapkan diri sebagai wadah untuk penyebaran ajaran Buddhisme Theravada yang berdasarkan pada Tipitaka Pali dan yang memiliki misi menjadi pusat rujukan Studi Buddhisme Theravada di tingkat regional dan nasional dan berkontribusi dalam penyebaran Buddha Dhamma.

Salah satu kantor sederhana dari Masyarakat Buddhis Brasil (Sociedade Budista do Brasil) di Santa Teresa, Rio de Janeiro, Brasil.
Salah satu kantor sederhana dari Masyarakat Buddhis Brasil (Sociedade Budista do Brasil) di Santa Teresa, Rio de Janeiro, Brasil. Foto: sociedadebudistadobrasil.org

Sejak tahun 1970-an, Masyarakat Buddhis Brasil telah mempertahankan perangkat kerja sederhananya yang dibangun dengan kerja sukarela yang telah menyelenggarakan kunjungan para bhikkhu dari Sri Lanka dan dari negara-negara mayoritas berpenduduk Buddhis Theravada.

Pada Mei 1989, Komunitas Buddhis Nalanda (Comunidade Buddhista Nalanda) didirikan oleh Upasaka Dhanapala dengan tujuan mempromosikan studi dan praktik Buddhis di Brasil. Komunitas yang berafiliasi pada pengajaran dari Y. M. Bhikkhu Buddhasa dari Thailand ini memiliki jaringannya di Belo Horizonte, São Paulo dan Curitiba, dan telah mengundang sejumlah besar guru internasional selama bertahun-tahun.

Selain menjadi anggota dari Pali Text Society di Inggris dan Buddhist Publication Society di Sri Lanka, Komunitas Buddhis Nalanda juga menjalin mitra dengan Pusat Studi Buddhis K.J. Somaiya dan Universitas Nalanda yang keduanya ada di India, serta dengan Institut Bright Dawn di Amerika Serikat, untuk proyek-proyek pendidikan.

Di tengah masyarakat yang majemuk dengan mayoritas beragama Kristen, Buddhisme dengan keunikannya dapat berkembang di Brasil. Terdapat berbagai aktivitas dan dialog yang cukup besar secara online di antara para Buddhis Brasil, dengan sejumlah situs web dan kelompok-kelompok online.

Meskipun demikian, salah satu permasalahan yang dialami oleh Buddhisme dalam perkembangannya di Brasil adalah adanya sedikit keterbatasan terkait dengan masalah bahasa di Brasil yang merupakan satu-satunya negara di Amerika Latin yang menggunakan bahasa Portugis di antara negara-negara tetangganya yang berbahasa Spanyol. Hal ini membatasi kegiatan lintas-batas dari organisasi Buddhis yang aktif di negara-negara lain serta sulitnya mendapatkan teks-teks Dhamma.

Buddhisme dapat diterima dengan baik di Brasil karena mudah beradaptasi dengan kondisi sosial kemasyarakatan dan kebudayaan di Brasil. Selain itu Buddhisme juga dinilai memiliki manfaat bagi masyarakat Brasil. Hal ini tercermin dengan adanya penerapan program pelatihan khusus bagi polisi militer oleh pemerintah Negara Bagian Espírito Santo untuk mengikuti kursus Zen di Vihara Zen Morro Da Vargem (Mosterio Zen Morro Da Vargem) yang telah berdiri sejak tahun 1974.[Bhagavant, 13/7/14, Sum]

Penulis:
REKOMENDASIKAN: