Jerman

Dari Wali Kota di Oberndorf Jerman Menjadi Samanera

Selasa, 7 Januari 2014

Bhagavant.com,
Berlin, Jerman – Baru-baru ini seorang wali kota dari sebuah kota di Jerman memutuskan untuk mengikuti kehidupan keviharaan dengan ditahbiskan menjadi seorang samanera di Sri Lanka.

Keluar dari kesibukannya sebagai Wali Kota Oberndorf am Neckar, wilayah Rottweil, di Baden-Württemberg, Jerman, Hermann Acker (55), memutuskan untuk ditahbiskan menjadi samanera di Maha Vihara Raja Mihintale, Sri Lanka.

Wali Kota Oberndorf am Neckar, Hermann Acker (55), ditahbiskan menjadi samanera di Sri Lanka.
Wali Kota Oberndorf am Neckar, Hermann Acker (55), ditahbiskan menjadi samanera di Sri Lanka. Foto: sundaytimes.lk

Hermann Acker, yang telah menjabat sebagai Wali Kota selama lebih dari 14 tahun mengembangkan minat dalam Buddhisme setelah ia mendengar mengenai ajaran Sang Buddha dari dua orang temannya yang sering mengunjungi Sri Lanka.

Titik balik dalam kehidupan Hermann Acker terjadi saat Agustus lalu saat ia bertemu dengan Kepala Maha Vihara Raja Mihintale, Y. M. Bhikkhu Walawahengunawewe Dhammaratana, yang sedang mengunjungi Oberndorf untuk membacakan paritta pada sebuah upacara pernikahan seorang putri dari teman Walikota tersebut.

“Ia membacakan paritta di gereja di mana pernikahan tersebut diadakan dan hal itu menenangkan dan saya langsung tertarik dengan suara tersebut,” kata Hermann Acker yang kini menyandang nama Germaniye Rathanasiri, seperti yang dikutip Bhagavant.com dari The Sunday Times Sri Lanka, Minggu (5/1/2014).

Kemudian keduanya terlibat dalam pembicaraan panjang lebar mengenai Buddhisme dan Hermann Acker bertanya kepada Bhikkhu Dhammaratana mengenai kemungkinan dirinya ditahbiskan menjadi viharawan di Sri Lanka.

“Saya tertarik dan ingin merasakan kehidupan di vihara sebagai bhikkhu dan saya membuat permintaan untuk ditahbiskan dan mendapatkan kehormatan untuk diterima dalam komunitas,” katanya.

Dalam upacara minggu lalu, Walikota Acker melakukan tradisi yang terkait dengan penahbisan dengan mencukur rambutnya dan mendapatkan jubah oleh seorang bhikkhu. Sejak saat itu ia telah secara ketat mengikuti praktik keviharaan di Maha Vihara Raja.

Di daerah Maha Vihara Raja Mihintale yang hijau dan subur, Germaniye Rathanasiri melakukan rutinitasnya sehari-hari pada jam-jam awal di pagi hari meliputi meditasi, melantunkan gatha (syair) serta membaca dan mendiskusikan berbagai aspek Buddhisme bersama dengan sesama viharawan.

Ia juga telah mengunjungi situs-situs keagamaan di seluruh Sri Lanka seperti Jaya Sri Maha Bodhi, Ruwanwelisaya dan tempat-tempat ibadah lainnya di Anuradhapura dan Sri Dalada Maligawa di Kandy.

“Hal yang luar biasa berada di Sri Lanka dan khususnya di Mihintale. Indah dan merupakan tempat yang ideal untuk mempraktikkan Buddhisme,” kata Germaniye Rathanasiri.

Bhikkhu Walawahengunawewe Dhammaratana, mengatakan bahwa dirinya terkesan oleh komitmen yang ditunjukkan oleh Hermann Acker sejak penahbisannya.

“Ia masih belum memutuskan apakah ia ingin meneruskan sebagai wali kota setelah ia kembali ke Jerman. Namun, ia sangat berkeinginan untuk terus meningkatkan pengetahuannya mengenai Buddhisme,” kata Bhikkhu Walawahengunawewe Dhammaratana.[Bhagavant, 7/1/14, Sum]

Kata kunci:
Penulis: