Amerika Serikat » Ekosistem » Sains

Pakar Biologi Ungkap Kesejajaran Buddhisme dengan Biologi

Selasa, 3 Desember 2013

Bhagavant.com,
Washington, Amerika Serikat – Sebagian besar, agama dan ilmu pengetahuan (sains) tidak bisa bersama-sama dengan sangat baik, tetapi Buddhisme adalah sebuah pengecualian yang menarik. Demikian yang disampaikan seorang profesor psikologi yang juga pakar biologi sebuah universitas di Amerika Serikat, pada akhir bulan lalu.

Dalam sebuah wawancara perihal buku terbarunya yang diterbitkan berjudul: “Buddhist Biology: Ancient Eastern Wisdom Meets Modern Western Science,” (Biologi Buddhis: Kebijaksanaan Timur Kuno Bertemu Sains Barat Modern), David P. Barash, seorang profesor psikologi dari Universitas Washington, Amerika Serikat dan juga merupakan seorang pakar biologi evolusioner selama lebih dari empat puluh tahun, mengungkapkan kesejajaran ajaran Buddhisme dengan ilmu biologi.

Prof.  David P. Barash
Prof. David P. Barash. Foto: tehelka.com

”Kebenaran yang menyedihkan adalah agama dan sains tidak bisa bersama-sama dengan sangat baik – terutama karena agama terus membuat berbagai ’klaim kebenaran’ yang sebenarnya tidak benar! Tapi Buddhisme adalah sebuah pengecualian yang menarik. Dalam buku saya, saya membahas Buddhisme sebagai filsafat dan perspektif tentang kehidupan, tanpa abrakadabra (bualan), dan menunjukkan bagaimana Buddhisme memiliki sejumlah konvergensi (titik temu) yang menarik dengan biologi, khususnya ekologi, evolusi, genetika dan perkembangan,” jelas Prof. Barash saat ditanya alasannya membuat buku terbarunya tersebut, seperti yang dikutip Bhagavant.com dari berita di situs Universitas Washington pada Sabtu (21/11/2013).

Menurut Prof. Barash, dalam bukunya, ia menghubungkan antara ajaran-ajaran Buddhisme seperti Anatman (Pali: anatta) dan Anitya (Pali: anicca) ke dalam sains.

Anatman (”bukan diri”) sebagai contoh, artinya bahwa tidak ada satu pun yang memiliki sebuah diri internal yang berbeda dan terpisah dari dunia lainnya. Sama halnya dalam ekologi, organisme dan lingkungan yang saling terkait erat. Juga Anitya (”ketidakekalan”) mengacu pada fakta bahwa segala sesuatu bersifat sementara dan akhirnya kembali ke dunia tanpa kehidupan. Anitya memiliki kesejajaran dengan evolusi, karena bukan hanya masa waktu setiap individu organisme di bumi bersifat sementara tetapi organisme juga mengalami pasang surut dan mengalir sepanjang waktu,” kata Prof. Barash yang juga mengklaim dirinya sebagai seorang Ateis Baru.

Buddhist Biology: Ancient Eastern Wisdom Meets Modern Western Science dipublikasikan Desember 2013 oleh Oxford University Press
Buddhist Biology: Ancient Eastern Wisdom Meets Modern Western Science dipublikasikan Desember 2013 oleh Oxford University Press

Mengenai Hukum Karma dengan sains, Prof. Barash seraya mengutip pernyataan Dalai Lama yang mendefinisikan karma sebagai ”hukum sederhana dari sebab dan akibat”, menjelaskan bahwa apapun yang kita, nenek moyang, dan keturunan kita lakukan, semuanya memiliki konsekuensi.

”Selain itu, dalam sebuah pengertian evolusioner yang mendalam, setiap makhluk hidup – termasuk diri kita sendiri – merupakan hasil ’karma’ (akibat) dari apa yang nenek moyang kita lakukan di masa lalu. Ini adalah kunci dari seleksi alam: kelangsungan hidup yang berbeda dari gen yang bersaing, yang secara harfiah menimbulkan – setidaknya sebagian – untuk siapa dan apakah kita ini,” jelaskannya mengenai karma sebagai sebuah hukum sebab-akibat dalam biologi evolusioner.

Berkaitan mengenai ajaran kelahiran kembali dalam Buddhisme, Prof. Barash belum bisa menerimanya karena ia menganggapnya sebagai sesuatu yang belum memenuhi standar ilmu biologi dan ilmiah. Namun, ia mengakui bahwa para pakar biologi termasuk dirinya memahami bahwa setiap organisme secara harfiah terdiri dari atom dan molekul yang telah dan akan terus berdaur ulang dari “keberadaan sebelumnya” seperti tanaman, hewan lain, debu, bebatuan, partikel atmosfir, dll.

Menjawab pertanyaan klasik tentang arti atau makna kehidupan, Prof. Barash menyampaikan, ”Baik Buddhisme maupun biologi mengajarkan bahwa tidak ada makna yang melekat bagi kehidupan. Kita hanyalah apa adanya, dan ’kita’ atau ’saya’ atau ’anda’ atau ’dia’ hanyalah penggabungan sementara materi dan energi, yang dipastikan untuk runtuh kembali menjadi benda-benda dunia ini.”

”Oleh karena itu, jika kita ingin membuat hidup kita berarti, kita tidak seharusnya mencari pada beberapa tuhan di luar sana, melainkan pada perbuatan kita sendiri,” jelasnya.

Prof. Barash menyatakan bahwa dalam bab terakhir bukunya ia telah mengembangkan apa yang ia sebut dengan ”biobuddhisme eksistensial”, penambahan filsafat eksistensialisme pada titik temu antara biologi dan Buddhisme, yang menekankan bahwa tidak ada sesuatu seperti ”arti kehidupan” di luar dari bagaimana kita secara penuh kesadaran memutuskan untuk menjalani hidup.[Bhagavant, 3/12/13, Sum]

Kata kunci:
Penulis: