Jerman

Das Buddhistische Haus Vihara Tertua di Eropa

Rabu, 25 September 2013

Bhagavant.com,
Berlin, Jerman – Kontak pertama dunia Eropa dengan Agama Buddha dimulai ketika Alexander Agung menaklukkan India bagian barat laut (sekarang Pakistan) pada abad ke-3 Sebelum Era Umum. Dan ketertarikan masyarakat Eropa modern terhadap agama yang juga sering disebut dengan Buddhisme ini, dimulai di kalangan akademisi di antaranya dua filsuf asal Jerman yaitu Arthur Schopenhauer dan Friedrich Nietzsche pada tahun 1860-an.

Pintu gerbang Das Buddhistische Haus di Berlin, Jerman, vihara tertua di Eropa. Foto: das-buddhistische-haus.de
Pintu gerbang Das Buddhistische Haus di Berlin, Jerman, vihara tertua di Eropa. Foto: das-buddhistische-haus.de

Sebagai salah satu titik awal berkembangnya Buddhisme di Eropa modern, ternyata Jerman memiliki sebuah vihara tertua di Eropa.

Terletak di Frohnau di pinggiran kota Berlin, Das Buddhistische Haus yang dalam bahasa Indonesia berarti Rumah Buddhis adalah sebuah kompleks vihara yang dibangun pada tahun 1924, dan merupakan vihara tertua di Eropa.

Kompleks vihara di Frohnau saat ini mencerminkan kesadaran penuh dari para bhikkhu pendahulunya. Merupakan tempat yang tenang di mana seseorang bisa beristirahat, merefleksikan hidup di sebuah taman yang luas dihiasi dengan altar dan rupaka Buddha, atau bermeditasi di dalam vihara indah yang teratur yang dikelola oleh para bhikkhu Theravada.

Pada awalnya, Das Buddhistische Haus didirikan oleh Dr. Paul Dahlke, seorang filsuf Buddhis dan pelopor Buddhisme Theravada di Eropa, sebagai tempat untuk praktik latihan bagi para Buddhis seperti dalam keviharaan terutama praktik meditasi. Setiap hari Uposatha, Dr. Dahlke memberikan ceramah Dharma. Namun sayang, Dr. Dahlke meninggal dunia setelah empat tahun berdirinya Rumah Buddhis tersebut, yaitu pada 29 Februari 1928.

Ruang puja utama di Das Buddhistische Haus. Foto: das-buddhistische-haus.de
Ruang puja utama di Das Buddhistische Haus. Foto: das-buddhistische-haus.de

Dengan pecahnya Perang Dunia II mengharuskan umat Buddha di Jerman menghentikan kegiatannya. Ajaran toleransi Buddhis yang mencakup ajaran cinta kasih tidak diperbolehkan oleh pemerintah saat itu.

Setelah perang usai, Rumah Buddhis tersebut menjadi rumah bagi para pengungsi yang jumlahnya membuatnya tidak layak untuk ditempati. Kurangnya dana untuk memperbaiki rumah tersebut membuat rumah tersebut sempat ingin dibongkar. Namun, impian Dr. Dahlke untuk menjadikannya sebagai Rumah Buddhis baru dapat kembali terwujud setelah hampir 30 tahun ia meninggal dunia.

Pada tahun 1958 Das Buddhistische Haus dibeli dari ahli waris Dr. Dahlke oleh Perhimpunan Dharmaduta Jerman – German Dharmaduta Society (GDS) yang didirikan oleh Asoka Weeraratna (kemudian menjadi Y. M. Bhikkhu Mitirigala Dhammanisanthi Thera) dari Sri Lanka pada tahun 1952 dan merenovasi, melengkapinya dengan kamar tambahan dan perpustakaan serta menempatkan para bhikkhu Sri Lanka di sana yang mengambil alih ceramah rutin dan pelatihan meditasi. Pengambilalihan Rumah Buddhis tersebut membuatnya berubah nama menjadi Vihara Berlin.

Ruang perpustakaan di Das Buddhistische Haus. Foto: das-buddhistische-haus.de
Ruang perpustakaan di Das Buddhistische Haus. Foto: das-buddhistische-haus.de

Sejak itu, Vihara Berlin telah menerima para bhikkhu yang ingin tinggal di sana dan menyebarkan Buddhisme di Jerman dan di negara-negara Eropa lainnya. Pusat Buddhis Theravada tertua di Eropa ini bahkan ditetapkan sebagai situs Warisan Nasional oleh otoritas publik Jerman.

Pada awalnya, Vihara Berlin berfokus kepada penyebaran ajaran Buddha kepada masyarakat, namun kemudian bergeser setelah perubahan keanggotaan di DGS pada tahun 2000. Di bawah kepemimpinan Tissa Weeraratna, keponakan dari Asoka Weeraratna, Vihara Berlin tersebut telah mengembangkan sebuah program yang lebih bersifat pendidikan dalam bentuk ceramah dan kursus meditasi. Program tersebut disusun bersifat santai bagi para pengunjung. Siapa pun dapat berhadapan dengan ajaran Buddha dengan cara mereka sendiri.

Vihara Berlin tidak mensyaratkan biaya keanggotaan, juga tidak mengharuskan anggotanya untuk membayar pajak komunitas agama Jerman. Waktu kegiatan vihara beradaptasi dengan kebiasaan di negara tersebut dengan waktu kegiatan hanya ada pada hari Minggu untuk ceramah, hari-hari Uposatha dan kegiatan meditasi lima kali seminggu.

Pengunjung dapat melakukan meditasi sendiri di aula meditasi secara gratis. Pengunjung juga dapat membaca buku-buku di perpustakaan vihara yang memiliki beragam buku Buddhis dari berbagai negara.[Bhagavant, 25/9/13, Sum]
Galeri foto:

Serambi Das Buddhistische Haus
Serambi Das Buddhistische Haus

Kuti di Das Buddhistische Haus
Kuti di Das Buddhistische Haus

Bagian luar aula meditasi Das Buddhistische Haus
Bagian luar aula meditasi Das Buddhistische Haus

Di dalam aula meditasi Das Buddhistische Haus
Di dalam aula meditasi Das Buddhistische Haus

Taman di Das Buddhistische Haus
Taman di Das Buddhistische Haus

Bagian belakang Das Buddhistische Haus
Ruang puja bakti lain di Buddhistische Hau
Kata kunci:
Penulis: