Indonesia » Seremonial

Peresmian Rupaka Buddha Tertinggi dan Vihara Empu Astapaka di Bali

Minggu, 9 Juni 2013

Buddhisme di IndonesiaBhagavant.com,
Bali, Indonesia – Sebuah rupaka Buddha tertinggi di Indonesia diresmikan bersama dengan peresmian Vihara Empu Astapaka di kelurahan Gilimanuk, kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali pada Kamis 6 Juni 2013.

Upacara peresmian kembali Vihara Empu Astapaka tersebut dihadiri oleh para bhikkhu, pandita, upasaka-upasika, para dermawan dan umat Buddha lainnya, juga dihadiri oleh sejumlah pandita Hindu (Sulinggih) dan tokoh-tokoh pemuka agama lain.

Juga hadir para pejabat negara seperti Dirjen Bimas Buddha Kementrian Agama RI, Drs. A Joko Wuryanto S.Sos. S.Ag. MSi MPd, Bupati Jembrana I Putu Artha, Wakil Bupati Jembrana Kembang Hartawan, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jembrana, serta mantan Bupati Jembrana Prof. DR. drg. I Gede Winasa.

Rupaka Buddha di Vihara Empu Astapaka, Gilimanuk, Bali.

Vihara Empu Astapaka yang berada di lokasi yang strategis yaitu di pintu masuk Pulau Bali bagian barat, dekat dengan Pelabuhan Gilimanuk tersebut memiliki keunikan tersendiri yaitu dengan keberadaan rupaka Buddha berwarna putih setinggi 12 meter yang berdiri di atas sebuah candi berukiran khas Bali dengan warna hitam setinggi 9 meter yang landasannya sendiri berada di atas ketinggian 4 meter dari jalan raya sehingga total ketinggian menjadi 25 meter dari Jalan Raya.

Rupaka Buddha di atas sebuah candi yang merupakan karya Ir. I Gusti Ngurah Artawa, dan terletak di depan vihara menggambarkan Sang Buddha dalam posisi berdiri dengan melakukan mudra abhaya ganda – posisi kedua tangan diangkat setinggi bahu, menekukkan lengan dan telapak tangan menghadap ke luar.

Sikap mudra abhaya yang diperlihatkan oleh rupaka Buddha yang menghadap ke arah laut bagian barat Pulau Bali tersebut memberikan simbol perlindungan, perdamaian dan rekonsiliasi. Dalam kepustakaan Buddhis, Sang Buddha melakukan mudra ini saat menenangkan air Sungai Niranjana yang bajir ketika mengalihkan keyakinan Kassapa Bersaudara.

Rupaka Buddha ini juga seakan-akan memiliki makna selamat datang kepada setiap orang yang akan memasuki Pulau Bali melalui pelabuhan Ketapang-Gilimanuk, begitu mereka turun dari kapal, mereka disambut dengan rupaka Buddha tersebut.

“Itulah keunikan dari patung Buddha tersebut, siap memberi kesejukan kepada setiap orang yang mau masuk Bali maupun orang yang mau meninggalkan Bali,” ungkap Ketua Umum Yayasan Empu Astapaka, Pandita Madya (PMy.) Sudiarta Indrajaya, usai peresmian Vihara Empu Astapaka Gilimanuk Kamis malam lalu kepada pers.

“Candi Buddha ini akan menjadi ikon baru, yakni Bali sebagai Pulau Dhamma. Jadi wisatawan yang baru masuk Bali lewat Gilimanuk akan melihat Candi Buddha ini. Telapak tangan Buddha yang menghadap ke depan/Abhaya Mudra merupakan simbol rekonsiliasi dan perdamaian, simbol Bali sebagai Pulau Perdamaian,” katanya.

Acara peresmian yang sekaligus merupakan perayaan Vesak Santhuti Citta 2557 EB / 2013 Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) provinsi Bali. tersebut diawali dengan pembacaan Dhammapada dan dilanjutkan puja bakti bersama yang dipimpin oleh Rama Sutikno Gunawan.

Ibu Sherly Mirani selaku ketua panita memberikan ucapan selamat datang kepada seluruh undangan yang telah hadir dalam acara peresmian Vihara Empu Astapaka (termasuk Rupaka Buddha Tertinggi) serta mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan terutama para dermawan dan sekaligus memberikan sambutan, dalam sambutannya ketua panitia memaparkan latar belakang terbentuknya Vihara Empu Astapaka yang pertama kali diresmikan oleh Lurah Gilimanuk pada Mei 1976 saat perayaan Vesak 2520 Era Buddhis .

Seiring berjalannya waktu kondisi Vihara makin tidak layak dan berkat dorongan dari Bhante Dhammasuto Thera yang pada saat itu selaku Padesanayaka (Bhikkhu Pembina) Sangha Theravada Indonesia Provinsi Bali, maka disepakati untuk merenovasi Vihara Empu Astapaka.

Sejak dimulainya pemugaran pada 18 November 2007 dan pada tanggal 27 November 2010, bangunan Dhammasala, kuti dan toilet untuk umat diresmikan kembali penggunaannya oleh Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika dan Dirjen Bimas Buddha, Drs. Budi Setiawan, M.Sc kemudian diberkati oleh Y.M. Bhante Sri Pannavaro Mahatera yang juga merupakan Ketua Pembina Yayasan Empu Astapaka.

Dalam sejarahnya, Vihara Empu Astapaka pada awalnya hanya merupakan tempat untuk latihan meditasi dan berdiskusi Dhamma. Nama vihara dipilih dan diambil oleh para sesepuh pendahulu dari nama seorang pandita dari Jawa bernama Empu Astapaka yang beragama Buddha yang telah menanamkan benih-benih ajarna Buddha di Pulau Bali.

Seperti tertulis pada Babad Dalem, pada abad ke-16, pada jaman pemerintahan Raja Dalem Waturenggong dari Kerajaan Gelgel di Bali, Empu Astapaka bersama dengan Danghyang Nirartha (seorang brahmana) berkunjung ke Pulau Bali. Empu Astapaka kemudian membentuk generasi-generasi pandita Buddhis sedangkan Danghyang Nirartha membentuk generasi-generasi pandita Shiva.

Vihara Empu Astapaka sendiri terdiri beberapa zona area, antara lain: dhammasala, candi Buddha, museum, balai peesinggahan, kuti bhikkhu, rumah jaga dan toilet.[Bhagavant, 9/6/13, Sum]

Kata kunci:
Penulis: