Amerika Serikat » Seremonial

Vihara Watsonville California Rayakan Hanamatsuri 2013

Senin, 8 April 2013

Buddhisme di Amerika SerikatBhagavant.com,
California, Amerika Serikat – Vihara Watsonville dari tradisi Buddhisme Jepang, Jōdo Shinshū (Tanah Suci), merayakan festival bunga, Hanamatsuri, yang diadakan setiap tahun untuk memperingati hari kelahiran Sang Buddha, pada Minggu (7/4).

Siddhartha Gautama lahir di Nepal pada tanggal 8 April 566 S.M., demikian yang disampaikan oleh penyelenggaran festival, Perry Yoshida, kepada para hadirin yang hadir pada festival yang berlangsung pada pukul 11.30 hingga pukul 14.00.

Seperti yang dilaporkan oleh Santa Cruz Sentinel, Minggu (7/4), perayaan setempat tersebut membawa sukacita musim semi ke vihara yang berada dekat Riverside Drive dan Bridge Street di dekat lapangan bola di belakang SMA Watsonville.

Yoshida mengatakan bahwa mereka memperkirakan antara 300 hingga 400 pengunjung untuk acara yang merupakan bagian dari penyuluhan yang melibatkan anggota vihara yang membuat dan menjual makanan dan barang-barang lainnya, termasuk produk segar.

Makanan dan bunga-bunga memberikan nuansa ceria pada aula berkumpul vihara yang berada Jalan Bridge 423, Watsonville, Amerika Serikat, dan para peserta festival berbaris untuk mendapatkan paket keduanya. Mereka juga mengunjungi stan perangkaian bunga, boneka-boneka kerajinan tangan, dan buku temple yang memperlihatkan sejarah vihara dan masyarakat Jepang lokal. Sedangkan yang lainnya menyaksikan peragaan di panggung, termasuk sebuah peragaan dari Dojo Kendo Salinas.

Pandita Hanayama saat memberikan ceramah pada perayaan Hanamatsuri 2013 di Vihara Watsonville (Watsonville Buddhist Temple), Minggu (7/4). Foto: Santa Cruz Sentinel
Pandita Hanayama saat memberikan ceramah pada perayaan Hanamatsuri 2013 di Vihara Watsonville (Watsonville Buddhist Temple), Minggu (7/4). Foto: Santa Cruz Sentinel

Yashida menjelaskan mengenai adanya altar berdekorasi bunga atau disebut dengan hanamido, yang mewakili tempat kelahiran Pangeran Siddhartha.

Ia mengatakan bahwa altar khusus tersebut menjadi daya tarik bagi festival tersebut dan “memungkinkan kita untuk mengekspresikan rasa hormat dan kagum terhadap Sang Buddha dan ajaran-Nya.”

Di dalam vihara yang teletak di , Pandita Hanayama membahas mengenai arti dari festival tersebut setelah ia memberikan sebuah perjalanan keliling di vihara. Vihara tersebut di penuhi dengan bunga-bunga berwarna cerah dan peralatan yang bersepuh emas, serta lilin-lilin, karya seni gulungan di dinding-dinding dan masih banyak lagi.

Pada satu saat itu, pandita Hanayama mengatakan kepada hadirin bahwa hidup itu rapuh – “satu orang gila dan kita bisa mati” – dan ia mengatakan agar menikmati sajian festival tersebut dan menikmati kehidupan pada umumnya.

Vihara Watsonville atau Watsonville Buddhist Temple merupakan vihara berusia 170 tahun dan telah berpindah tempat ke lokasi yang sekarang setelah Perang Dunia II, kata pandita tersebut.

Selama sesi tanya-jawab, seorang pengunjung wanita, Fran Marshall dari Santa Cruz mengatakan bahwa ibunya berkata kepadanya bahwa pengasingan warga Jepang-Amerika adalah bagian dari kecemburuan dari mereka yang telah melihat para imigran Jepang berhasil menjadikan daerah itu “tanah yang indah dan menghasilkan”.

“Mereka memiliki tiga hari untuk pindah; ini merupakan sebuah perebutan tanah,” katanya.

Pandita Hanayama mengakui adanya rasa iri dan keserakahan serta diskriminasi di dunia ini.

“Kita memiliki perbedaan, semua orang memilikinya,” katanya. “Jika Anda tidak menerimanya di dalam pikiran Anda, Anda tidak dapat memecahkan permasalahan tersebut.”

Kemudian, ia mengatakan bahwa vihara tersebut terbuka bagi semua dan “setiap orang memiliki masalah untuk diatasi.”

Setelah pembicaraan singkatnya, dengan senyum hangat Pandita Hanayana mengatakan bahwa festival tersebut berjalan dengan baik, dan mengatakan bahwa mereka telah mempersiapkan diri untuk hari-hari selanjutnya.

Sebagai hasil dari Restorasi Meiji, pada tahun 1873, Jepang mengadposi penanggalan kalender Gregorius sebagai pengganti kalender lunar China. Banyak vihara- vihara di Jepang merayakan kelahiran Sang Buddha berdasarkan pada penanggalan kalender Gregorius dan jarang menggunakan penanggalan China.[Bhagavant, 8/4/13, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: