Arkeologi » Thailand » Tokoh » Wanita Buddhis

Peneliti: Thammanuthamma-patipatti Karya Seorang Wanita

Sabtu, 6 April 2013

Buddhisme di ThailandBhagavant.com,
London, Inggris – Sebuah penelitian baru-baru ini menyatakan bahwa salah satu teks risalah Buddhis yang penting dan populer di Thailand yang sebelumnya dikaitkan dengan seorang bhikkhu terkemuka, merupakan karya seorang wanita Thailand.

Thammanuthamma-patipatti (Pali: Dhammanudhamma-patipatti) yang merupakan sebuah rangkaian dialog yang telah lama dikaitkan dengan 2 orang bhikkhu yang salah satunya adalah Y.M. Ajahn Mun Bhuridatta (Luang Pu Mun Bhuridatta), dinyatakan oleh para peneliti baru-baru ini merupakan sebuah karya seorang wanita Thailand bernama Yai Damrongthammasan, demikian yang dilansir oleh BBC News Asia, Kamis 28 Maret 2013.

Dicetak dalam lima bagian di antara tahun 1932-1934, yang awalnya tanpa nama penulisnya, Thammanuthamma-patipatti (Praktik Kebajikan sesuai dengan Dhamma atau Praktik Dhamma sesuai dengan Dhamma yang telah diselidiki dan dipahami) dipandang di Thailand sebagai teks Buddhis yang bernilai dan mendalam mengenai tahapan pencerahan dalam Buddhisme.

Dr. Martin Seeger dari Universitas Leeds, Inggris, percaya bahwa ia telah menelusuri penulis atau penggubah dari teks Thammanuthamma-patipatti, yaitu Khunying (gelar kebangsawanan Thailand – ed) Yai Damrongthammasan , seorang wanita kaya yang sangat taat yang telah mengembangkan sebuah pengetahuan yang mengesankan atas kitab-kitab Buddhis semasa kehidupannya.

Khunying Yai Damrongthammasan dipercaya sebagai penulis Thammanuthamma-patipatti. Foto: phys.org
Khunying Yai Damrongthammasan dipercaya sebagai penulis Thammanuthamma-patipatti. Foto: phys.org

Khunying Yai Damrongthammasan lahir pada tahun 1886 di keluarga bangsawan dan dibesarkan di Bangkok. Tidak seperti perempuan pada umumnya saat itu, ia diajarkan membaca dan menulis serta belajar kepada para bhikkhu, ia dikabarkan telah mengembangkan sebuah pemahaman yang ilmiah terhadap ajaran Buddhis.

Setelah suaminya meninggal, ia mengundurkan diri ke sebuah vihara di provinsi Prajuabkhirikhan bagian selatan, Thailand, di mana ia bermeditasi dan mempelajari kitab-kitab sampai ia meninggal pada tahun 1944.

“Bagi mereka yang mengenal teks tersebut, teks itu sangat dalam dan penting dan telah berkali-jali dicetak ulang,” kata Dr. Seeger.

Dr. Seeger yang juga pernah ditahbiskan sebagai bhikkhu di Thailand pada tahun 1997 hingga 2000, mengingat bagaimana ia memiliki buku itu saat ia belajar Buddhisme.

Pada waktu itu, ia pun tidak menganggap sama sekali bahwa buku tersebut karya orang lain selain Y.M. Ajahn Mun Bhuridatta yang dihormati di Thailand dan merupakan pendiri dari gerakan kebangkitan Tradisi Hutan Thailand.

Tapi saat seorang temannya mengatakan pernah mendengar bahwa buku tersebut ditulis oleh seorang wanita, Dr. Seeger menjadi tertarik. Ketertarikan ini meningkat terutama karena ia belum pernah mendengar mengenai Khunying Yai Damrongthammasan sebelumnya.

Dengan dana bantuan dari British Academy, Dr. Seeger memulai penyelidikan penelitian tersebut. Petunjuk pertama datang dari anak angkat Yai Damrongthammasan yang juga ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu, yang mengatakan bahwa risalah tersebut ditulis oleh Yai Damrongthammasan.

Dr. Seeger mewawancarai orang-orang yang pernah bertemu dengan Yai Damrongthammasan dan keturunannya yang telah mengenalnya. Dr. Seeger meneliti biografi berbagai bhikkhu, pemeriksaan silang terhadap sumber-sumber yang berbeda, hingga ia mengatakan bahwa menjadi jelas bahwa pastilah Yai Damrongthammasan yang yang merupakan penulis dari Thammanuthamma-patipatti.

Juga terdapat beberapa petunjuk di dalam teks tesebut yang menunjukkan bahwa buku tersebut tidak mungkin ditulis oleh seorang bhikkhu.

Kenyataannya, tidak ada biografi sah Ajahn Mun Bhuridatta yang pernah mengklaim bahwa beliau menulis karya tesebut. Beliau hanya dipuji bersama dengan penulisan pada edisi belakangan buku tersebut yang menampilkan foto-foto beliau dan bhikkhu lainnya pada halaman sampul buku tersebut. Dr. Seeger berpikir tidak mungkin Yai Damrongthammasan pernah bertemu dengan Ajahn Mun Bhuridatta.

Ajahn Mun wafat pada tahun 1949, seorang tokoh nasional, dan setelah itu teks tersebut nampaknya telah dikaitkan dengan beliau.

Dr. Seeger percaya bahwa beberapa pengikut Ajahn Mun mungkin tidak sependapat dengan penemuannya tersebut. Gerakan Tradisi Hutan Thailand memiliki vihara di seluruh dunia, termasuk empat vihara di Inggris.

Namun, Dr. Justin McDaniel, salah seorang profesor bidang studi agama dan Asia Tenggara di Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, mengatakan ia tidak berpikir hal tersebut akan memicu sebuah kontroversi.

“Anda harus memahami bahwa kepenulisan di Thailand tidak pernah dianggap hanya oleh satu orang saja. Anggapan bahwa hanya dimiliki satu orang adalah pengertian yang menggelikan,” katanya menambahkan bahwa kepenulisan sering dilihat sebagai sebuah komposit atau gabungan.

Ia menambahkan bahwa pemikiran Yai Damrongthammasan yang hasilkan teks tersebut sesuai dengan bagaimana kaum perempuan dipandang pada masa itu.

“Pada masa itu dan pada masa sekarang, kaum perempuan dipandang memiliki kemampuan yang sama dengan pria saat mereka masuk kesarjanaan Buddhis, terutama dibidang meditasi dan studi ilmiah.”

Memang benar bahwa pada tahun 2006, dari 100 nilai teratas dalam tingkatan tertinggi ujian keviharaan Thailand, 97 adalah perempuan.

“Saya pikir hal itu sebenarnya jauh lebih umum daripada yang disadari oleh orang-orang, bahwa para siswa dari para bhikkhu, terutama kaum perempuan yang cenderung lebih fokus pada kesarjanaan akan melakukan kegiatan menulis,” kata Dr. McDaniel.

Dr Seeger mengatakan bahwa meskipun sedikitnya bukti langsung yang bertahan, kisah mengenai Khunying Yai Damrongthammasan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dari orang-orang yang tahu dan bertemu dengannya merupakan bukti dari karismanya.

Dan prestasinya yang dapat membaca dan menulis serta pengetahuannya terhadap kitab-kitab kanon, merupakan hal yang sangat langka bagi seorang perempuan pada masa itu. Hanya ada perempuan lain yang pada tahun 1928 menulis sebuah teks yang mirip namun ia adalah seorang putri, dan Dr. Seeger mengatakan bahwa putri tersebut tidak mencapai tingkat kedalaman yang sama dengan karya Yai Damrongthammasan.

“Kami telah mencari naskah aslinya,” katanya, namun kebanyakan telan hancur di daerah dimana ia tinggal pada tahun-tahun terakhirnya.

Namun, Yai Damrongthammasan tidak pernah mengklaim sebagai penulis buku tersebut dan Dr. Seeger mengatakan, “alasan bahwa Khunying Yai memutuskan untuk menghilangkan namanya dari edisi pertama buktu tersebut mungkin tidak pernah dapat diketahui.”

Ia mengatakan bahwa ada beberapa kemungkinan: orang mungkin telah mempertimbangkan ketidaksesuaian bagi seorang perempuan untuk membahas doktrin Buddhis pada tingkatan mendalam seperti itu pada masa itu, atau mungkin Khunying Yai berpikir bahwa doktrin Buddhis haruslah bersifat bebas dari kepemilikan pribadi.

Kemungkinan Khunying Yai juga ingin untuk tidak disebut namanya karena rasa hormatnya terhadap percakapan yang berlangsung dengan sekelompok perempuan yang ditemui secara berkala di Vihara Sattanat Pariwat (Wat Sattanat Pariwat) untuk membahas Buddhisme – namun tidak ada bukti untuk mengonfirmasikan percakapan itu sebagai dasar alasan tersebut.

Kisah hidup Yai Damrongthammasan adalah hal yang mengejutkan, dari istri seorang kaya menjadi wanita yang berkehidupan meditasi yang menyendiri.

Suaminya, seorang hakim yang terkenal, telah dikremasi di salah satu tempat yang paling berwibawa di Bangkok, namun upacara pemakamannya dilakukan secara sederhana yang berlangsung di sebuah pantai di bagian selatan Thailand.

“Kelihatannya ia (Yai Damrongthammasan – ed) juga adalah seseorang yang sangat rendah hati dan tidak tertarik dalam mempromosikan dirinya sendiri,” kata Dr. Seeger.[BBC, 28/3/13, Bhagavant, 6/4/13, tr: Sum]

Kata kunci:
Penulis: