Mongolia

Tantangan Pelestarian Teks Buddhis di Mongolia

Senin, 18 Februari 2013

Buddhisme di MongoliaBhagavant.com,
Ulan Bator, Mongolia – Kumpulan besar koleksi teks-teks Buddhis yang terdapat di Perpustakaan Nasional Mongolia dipercayai oleh para cendekiawan sebagai perbendaharaan teks-teks Buddhis terbesar di dunia. Karena banyaknya, untuk saat ini belum dapat dihitung berapa jumlah yang pasti dari koleksi teks-teks tersebut.

Seperti yang dilaporkan oleh Pearly Jacob untuk EurasiaNet, Rabu, 13 Februari 2013, Perpustakaan Nasional Mongolia yang berada di dalam sebuah bangunan kokoh bergaya neoklasik era Soviet di jantung kota Ulan Bator, diperkirakan memiliki lebih dari satu juta karya keagamaan dan akademis Buddhis. Selain karya-karya asli dari Mongolia, perpustakaan tersebut memiliki salinan yang langka dari kanon-kanon (kitab-kitab) awal Buddhis tradisi Tibet yang terdiri dari Kangyur – kumpulan teks yang mencatat ajaran lisan yang ajarakan oleh Sang Buddha, dan Tengyur – kumpulan teks berupa risalah-risalah dan komentar-komentar terhadap ajaran Sang Buddha.

Kebanyakan teks-teks asli Tibet telah hilang atau hancur saat invasi China ke Tibet pada tahun 1950. Namun, berkat hubungan dengan Tibet, Mongolia dipercaya memiliki beberapa teks asli tersebut yang tersisa. Telah diidentifikasi bahwa selain dokumen-dokumen kuno Mongolia dan Tibet, dalam koleksi teks-teks tersebut juga terdapat manuskrip-manuskrip langka berbahasa Sanskerta termasuk naskah yang ditulis pada kulit kayu yang berisi 800 ayat karya Nagarjuna, filsuf Buddhis dari India abad ke-2.

“Koleksi ini bukan hanya sebuah harta nasional, tapi harta dunia. Koleksi ini bukan hanya mengenai sejarah Tibet atau Mongol, tetapi sebuah bagian dari sejarah manusia,” kata Chilaajav Khaidav, kepala perpustakaan tersebut.

Beberapa teks di Perpustakaan Nasional Mongolia telah diidentifikasi, dikatalogkan, dibungkus dalam kain baru dalam tempat aslinya. (Foto: Pearly Jacob)
Beberapa teks di Perpustakaan Nasional Mongolia telah diidentifikasi, dikatalogkan, dibungkus dalam kain baru dalam tempat aslinya. (Foto: Pearly Jacob)

Nyamochir Gonchog, seorang cendekiawan Buddhis dan mantan bhiksu mengatakan bahwa keberadaan teks-teks di perpustakaan tersebut bukan hanya merupakan sumber kenangan yang menyakitkan mengenai warisan komunis di Mongolia, tetapi juga sebagai sebuah penghormatan atas warisan Buddhis negara tersebut.

Hubungan Mongolia dengan Buddhisme Tibet dimulai pada abad ke-4 Masehi saat raja Mongolia Tumed, Altan Khan, mengundang Sonam Gyatso (sekarang dikenal dengan Dalai Lama Ke-3), pemimpin aliran Gelugpa dari Buddhisme Tibet ke Mongolia pada tahun 1578.

Pada peralihan abad ke-20, terdapat lebih dari 800 pusat pembelajaran Buddhis di Mongolia. Selama berabad-abad, ratusan ribu teks-teks suci Tibet telah dibawa ke negara tersebut untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Mongol atau sebagai hadiah kepada vihara-vihara.

Perpustakaan itu sendiri berawal dari koleksi pribadi dari Bogd Khan, kepala negara sekuler dan spiritual Mongolia yang wafat pada tahun 1924, tiga tahun setelah komunis berkuasa. Namun, bagian tepi teks-teks yang hangus terbakar mengingatkan pada pembersihan oleh komunis tahun 1930-an saat lebih dari 30 ribu bhiksu dieksekusi dan sekitar 700 vihara diratakan dengan tanah. Saat berita penghancuran tersebut tersebar, umat Buddha yang taat di seluruh Mongolia menyembunyikan artefak-artefak dan menyelamatkan apapun yang dapat mereka lakukan dari vihara-vihara yang hancur.

Teks-teks yang tersembunyi mulai ditemukan kembali pada tahun 1960-an. Saat Akademi Sains Mongolia mendirikan Departemen Studi Mongolia dan Tibet pada tahun 1985, masyarakat mulai menyumbangkan koleksi-koleksi keluarga yang tersembunyi setelah mereka percaya bahwa teks-teks tersebut akan dipertahankan. Demikian penjelasan Gonchog yang juga salah seorang anggota dari Akademi tersebut.

Khaidav mengakui bahwa banyak teks-teks tersebut dalam kondisi yang buruk dan ditempatkan di tempat-tempat yang kondisinya kurang memadai. Ruangan menjadi suatu kendala dan banyak koleksi tersebut ditumpuk sembarangan di gudang perpustakaan. Khaidav mengatakan bahwa pemerintah Mongolia telah mendanai studi dan restorasi banyak teks-teks kuno Mongolia. Tapi sampai sekarang sedikit yang dilakukan terhadap teks-teks Tibet.

Bantuan asing tiba pada tahun 1999, saat Asian Classic Input Project (ACIP), sebuah lembaga nirlaba asal New York yang berdedikasi diri pada pelestarian dan digitalisasi teks-teks kuno Tibet dan Sanskerta, mulai mengatalogkan isi perpustakaan tersebut. Namun, proyek tersebut berjalan dengan tidak menentu, hingga terulur pada tahun 2008.

Gonchog percaya bahwa persepsi atau pandangan terhadap nilai pendanaan koleksi tersebut dan kecurigaan di antara pejabat setempat mengenai alasan kepentingan asing telah menghambat pelestarian koleksi tersebut. “ Orang-orang berpikir bahwa teks-teks ini dapat mendatangkan banyak uang, tetapi nilai sesungguhnya berada pada isinya,” kata Gonchog kepada EurasiaNet.org. “Ini adalah pengetahuan yang tak ternilai yang harus dipahami dan dilestarikan.”

Pekerjaan ACIP telah dilanjutkan pada bulan ini dengan hibah sementara dari Global Institute For Tomorrow (GIFT), sebuah organisasi dari Singapura, yang memperkirakan seluruh proyek tersebut akan menelan biaya sebesar 1,1 juta dolar Amerika Serikat.

“Pekerjaan itu sendiri adalah suatu proses yang sangat lambat dan bersifat metodik,” kata Ngawang Gyatso, seorang warga Tibet dari India yang memantau proyek pengatalogan untuk ACIP. Setiap lembar halaman dengan hati-hati dipelajari jenis material yang digunakannya, kemungkinan asal usulnya, dan juga gaya pencetakan dan aksaranya serta cap segel vihara yang membantu menentukan di mana dan, kadang kala, kapan teks tersebut dibuat. Judul-judul teks tersebut ditransliterasikan ke dalam aksara Latin dan kemudian rinciannya dimasukkan ke dalam sebuah basis data, demikan jelas Gyatso.

Dalam hari-hari dimulainya kembali proyek tersebut, kerusakan kabel listrik pada perpustakaan tersebut menyebabkan kebakaran kecil, pekerjaan berhenti lagi untuk beberapa hari. Baru-baru ini ACIP memperbarui perangkat kerasnya, dan mengatakan bahwa dengan dana yang cukup akan dapat mengatalogkan seluruh koleksi tersebut dalam tiga tahun.[Bhagavant, 18/2/13, Sum]

Kata kunci:
Penulis: