Birma

Kerusuhan Rohingya dan Rakhine Bukan Konflik Agama

Solidaritas KemanusiaanBhagavant.com
Jakarta, Indonesia – Kerusuhan yang terjadi di Provinsi Arakan (sekarang disebut dengan Rakhine), Birma (Myanmar) pada awal Juni lalu bukan merupakan sebuah konflik agama. Hal ini ditegaskan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan pers di Cikeas, Sabtu (4/8) malam.

Konflik yang terjadi di Rakhine antara etnis Rohingya dan etnis Rakhine bukan konflik agama, namun merupakan konflik komunal yang dipicu oleh tindak kriminal biasa antara etnis Rohingya sebagai etnis pendatang yang disebut juga etnis Benggala/Bengali dengan etnis Rakhine sebagai penduduk lokal.

“Permasalahan etnis Rohingya yang ada di Myanmar yang terjadi sesungguhnya adalah konflik komunal, konflik horizontal antara etnis Rohingya dengan etnis Rakhine,” jelas Presiden SBY yang mengenakan baju koko berwarna putih.

“Sama seperti yang terjadi di negeri kita sekian tahun yang lalu, konflik komunal di Poso dan di Ambon. Kebetulan etnis Rohingya itu beragama Islam sedangkan etnis Rakhine itu beragama Buddha,” papar Presiden mengingatkan.

Bertempat di kediaman pribadi Puri Cikeas Indah, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (4/8/2012) sore,Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar konferensi pers terkait etnis Rohingya. Foto: Okezone.com
Bertempat di kediaman pribadi Puri Cikeas Indah, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (4/8/2012) sore, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar konferensi pers terkait etnis Rohingya. Foto: Okezone.com

Pernyataan Presiden SBY tersebut didukung dengan fakta bahwa sampai saat ini tidak ada konflik yang terjadi antara umat Muslim dari etnis lain dengan  umat Buddha dari berbagai etnis di wilayah lain. Ini berarti masalah yang ada merupakan permasalah komunal, bukan masalah agama.

“Etnis Rohingya sendiri sesungguhnya berasal dari Bangladesh. Meskipun sudah sampai tingkat empat generasi, keberadaan etnis Rohingya ini di Myanmar tetapi memang kebijakan dasar pemerintah Myanmar belum mengakui sebagai salah satu dari 135 etnis yang ada di negeri itu,” jelas Presiden SBY mengenai asal etnis Rohingya.

Fakta lain dikatakan konflik komunal adalah tidak diterimanya pengungsi etnis Rohingya oleh negara Bangladesh yang mayoritas Muslim dan sebagai negara terdekat dengan Birma (Myanmar). Bangladesh juga sempat menghentikan dan mencegah bantuan kemanusiaan untuk para pengungsi etnis Rohingya. Ini menandakan bahwa Bangladesh tidak melihat pengungsi Rohingya sebagai permasalahan agama.[Mizzima]

“Pemerintah Bangladesh memilih untuk tidak ikut campur, tidak membantu juga etnis Rohingya. Bahkan, ketika terjadi clash kemarin, perbatasan kedua negara ditutup.,” kata Presiden SBY. [Keterangan Pers] (Lihat: Arsip)

Awal Kerusuhan*
Diawali dengan aksi kriminal 3 orang etnis Rohingya yang kebetulan beragama Islam (etnis Rohingya mayoritas beragama Islam tetapi ada juga sebagian kecil etnis Rohingya yang beragama  lain antara lain beragama Buddha) yang melakukan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap seorang wanita etnis Rakhine yang kebetulan beragama Buddha (etnis Rakhine mayoritas beragama Buddha tetapi ada juga sebagian etnis Rakhine yang beragama  lain antara lain beragama Islam), di Ramee, wilayah Kyaukpyu, Provinsi Rakhine (Arakan), pada 28 Mei 2012.[New Light of Myanmar]

Enam hari kemudian, 3 Juni 2012, di tempat berbeda, di Taungup, wilayah Thandwe, Provinsi Rakhine (Arakan), 30 orang etnis Rakhine dengan kemarahan atas peristiwa 28 Mei menyerang sebuah bus dan menewaskan 10 orang yang dianggap memiliki perawakan etnis Rohingya.[Narinjara]

Kedua peristiwa kriminal tersebut telah ditangani oleh pihak berwajib, 3 pembunuh wanita Rakhine serta 30 orang pembunuh 10 warga yang diduga etnis Rohingya telah ditangkap dan dijatuhi hukuman. [Narinjara dan Mizzima]

8 Juni 2012, di tempat berbeda, berdasarkan laporan CNN iReport, News Eleven (9/6) dan Irrawaddy (9/6), ribuan etnis Rohingya di Maungdaw melakukan kerusuhan dengan merusak rumah dan membunuh sejumlah warga etnis Rakhine (Arakan) di Maungdaw. Tidak ada laporan mengenai jatuh korban dari pihak etnis Rohingya di Maungdaw saat itu.

Sabtu 9 Juni 2012, kerusuhan kemudian meluas ke sekitar daerah wilayah Sittwe, Provinsi Rakhine (Arakan). Di sinilah kedua etnis saling melakukan aksi anarkis dengan menyerang satu sama yang lain yang menimbulkan korban dikedua belah pihak. Dengan adanya konflik di wilayah Sittwe ini membuat warga lainnya dari kedua etnis terpaksa memutuskan untuk mengungsi ke berbagai tempat atau memutuskan untuk mengarungi lautan menuju ke negara lain.

Jumlah Korban
“Benar, Saudara-saudara, pada bulan Mei dan Juni yang lalu terjadi intensitas konflik atas dua etnis itu, yang mengakibatkan 77 orang meninggal dunia, bukan seperti yang diberitakan, katanya ribuan orang; 109 orang luka-luka; kurang lebih 5.000 rumah dalam keadaan rusak atau terbakar; 17 masjid rusak; 15 monasteries rusak. Masjid tentu rumah ibadah bagi yang beragama Islam, sedangkan monastery adalah rumah ibadah bagi yang beragama Buddha,” kata Presiden SBY.[Keterangan Pers] (Lihat: Arsip)

Keterangan Presiden SBY tersebut tidak jauh berbeda dengan laporan dari beberapa sumber seperti World Health Organization (WHO) dan beberapa kantor berita seperti Arab Times (arsip), VOA dan Asian Tribune, menyatakan bahwa sejak kerusuhan terjadi terdapat total 77 orang meninggal dunia terdiri dari 31 warga etnis Rakhine dan 46 warga etnis Rohingya/Benggala (tidak ada laporan dari wilayah mana saja korban-korban tersebut berasal). Hal ini berbeda dengan laporan dari media massa dan jejaring sosial sebelum-sebelumnya yang menyatakan terdapat korban lebih dari seratus bahkan ribuan etnis Rohingya yang meninggal dunia sehingga memberi kesan terjadi pembantaian besar-besaran ataupun genosida terhadap etnis Rohingya. (Info korban hingga 8 Agustus 2012).

Pengungsi etnis Rakhine di sebuah vihara yang dijadikan penampungan sementara. Foto: The Irrawaddy (12/6/12)
Pengungsi di sebuah vihara yang dijadikan penampungan sementara setelah konflik di Sittwe, Rakhine, Birma. Foto: The Irrawaddy (12/6/12)

Selain korban meninggal dunia, WHO juga mencatat jumlah total korban terluka dari kedua belah pihak sebanyak 109 warga, jumlah total rumah dari kedua belah pihak yang rusak dan terbakar sebanyak 4822 buah, serta total 15 vihara, 17 masjid, dan 3 sekolah yang rusak dan terbakar. Lebih dari 61.000 warga dari kedua belah pihak baik dari etnis Rakhine dan etnis Rohingya mengungsi di 58 kamp-kamp di wilayah Maungdaw dan Sittwe.

Tidak Ada Genosida
Peristiwa kerusuhan Sabtu (9/6) diikuti dengan munculnya pemberitaan yang simpang-siur, bias dan berat sebelah serta foto-foto palsu bertebaran di media massa asing dan jejaring sosial yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, memberi kesan adanya pembunuhan besar-besaran ataupun genosida terhadap etnis Rohingya pada kerusuhan 8-9 Juni.

Sebuah fakta tidak terjadinya genosida dapat dilihat dari perbandingan jumlah korban etnis Rohingya yang meninggal dunia (46 orang) dengan jumlah warga etnis Rohingya yang ada (masih hiduip) dan terus bertambah sampai sekarang di daerah Rakhine (Arakan).

Dalam keterangan pers di Cikeas, didampingi Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Marsekal TNI (Purn.) Djoko Suyanto dan Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa, Presiden SBY juga menyatakan bahwa sejauh ini tidak ada indikasi genocide atau genosida di Birma (Myanmar).[Keterangan Pers  (Lihat: Arsip) dan TVOne]

Menghentikan Kebencian Sebagai Awal Solusi
Apa yang telah terjadi di Provinsi Rakhine (Arakan), Myanmar (Birma) tidak lain adalah suatu rangkaian kebencian terlepas siapa yang memulai suatu perselisihan atau pertengkaran. Di dalam sebuah perselisihan atau pertengkaran kedua belah pihak akan mengalami kerugian.

Sang Buddha bersabda:
Pare ca na vijananti mayamettha yamamase ye ca tattha vijananti tato sammanti medhaga.” – Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa dalam pertengkaran mereka akan binasa; tetapi mereka, yang dapat menyadari kebenaran ini akan segera mengakhiri semua pertengkaran. (Dhammapada 6)

Menghentikan segala kebencian dan fitnah adalah salah satu solusi awal dalam menangani konflik komunal di Rakhine (Arakan). Sebaliknya dengan berprinsip dendam: mata dibalas dengan mata atau nyawa dibalas dengan nyawa atau saling ancam-mengancam, maka konflik atau perselisihan tidak akan pernah berakhir dan penderitaan juga tidak akan berakhir .

Sang Buddha bersabda:
Na hi verena verani sammantidha kudacanam averena ca sammanti esa dhammo sanantano.” – Kebencian tak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi. (Dhammapada 5)

Sudah saatnya kedua belah pihak yang berselisih untuk menghentikan kebencian dan kekerasan. Dan sudah saatnya juga bagi mereka yang peduli dengan konflik komunal di Birma (Myanmar) untuk mulai memikirkan solusi yang tepat bagi kedua belah pihak, serta membantu dalam hal kemanusiaan baik kepada etnis Rakhine maupun etnis Rohingya tanpa berat sebelah, sehingga terciptanya kembali keharmonisan dan kedamaian.[Bhagavant, 16/8/12, Sum]

*Catatan:
Meskipun beberapa sumber tersebut di atas (kecuali Keterangan Pers Presiden SBY) masih menggunakan istilah yang bias dalam penamaan kelompok pelaku maupun korban, namun tetap mencerminkan garis besar peristiwa yang ada.

Kata kunci:
Penulis:
REKOMENDASIKAN